Poster Film Istirahatlah Kata-kata
  • 6.5/10

Film Istirahatlah Kata-kata (2017)

Sinopsis film Istirahatlah Kata-kata

Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) merupakan seorang penyair yang sering menyuarakan ketidakadilan lewat puisi. Ia juga aktif untuk memaksa Order Baru agar melakukan demokrasi. Pada 27 Juli 1996 terjadi kerusuhan kantor PDIP di Jalan Diponegoro dan ia disebut sebagai salah satu aktivis dan menjadi tersangka. Ia salah satu didalam daftar 14 aktivis pemicu kerusuhan tersebut dan melarikan diri dari Solo ke Pontianak. Ia dicari-cari polisi dan dalam pelariannya ia diberi makan dan dilindungi oleh aktivis-aktivis lainnya. Ia akhirnya berada dikota kecil dan menemukan kedamaian tetapi hati dan pikirannya tetap berada pada istri dan anaknya yang tinggal di Solo dan dalam pengawasan polisi.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 19 Januari 2017
  • Durasi 105 menit
  • Sutradara Yosep Anggi Noen
  • Produser Yulia Evina Bhara
  • Produksi Limaenam Films, Yayasan Muara, Kawankawa Film, Partisipasi Indonesia
  • Distributor -
  • Genre Biography, Drama
  • Kelompok Umur 13+

Daftar pemain film Istirahatlah Kata-kata

Review & Ulasan film Istirahatlah Kata-kata

Kepingan kisah Wiji Thukul yang mencoba membuat penonton merasakan ketakutan yang dialaminya, tetapi gagal dalam eksekusinya

| Ditulis oleh:

“Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai” salah satu syair yang keluar tiba-tiba ketika Wiji Thukul nongkrong-nongkrong santai dengan Martin dan Thomas di kedai kopi dipinggir kali Kapuas. Salah satu potongan adegan terbaik dalam film ini menurut saya, panjang dan tanpa potongan.

Salah seorang anak sastra dengan semangat mengajak saya menonton film ini, karena mungkin film ini tentang Wiji Thukul, tentang puisi & syair-syair indah yang… entahlah, mungkin dunianya orang sastra. Dan ternyata film ini sukses membuat ia mengantuk.

Tenang saja hanya dia sepertinya yang ngantuk dibioskop ya mungkin ada beberapa karena memang film ini berjalan dengan tempo yang lambat. Saya tidak akan menceritakan siapa itu Wiji Thukul, Anda bisa cari sendiri, karena disini saya akan membahas filmnya, Istirahatlah Kata-kata atau versi Inggrisnya adalah Solo, Solitude. Jujur saja, judulnya cukup misterius membuat merinding dan penasaran dengan filmnya.

Film ini hanya menceritakan kepingan kecil kisah Wiji Thukul ketika ia dalam pelarian ke Pontianak pada tahun 1996. Adegan-adegan sunyi yang coba ditampilkan terpisah-pisah digabungkan dengan puisi yang dibacakan oleh Gunawan Maryanto seniman asal Jogja yang memerankan tokoh Wiji. Ia membaca puisi dengan bergetar dan dengan huruf ‘r’ yang susah didengar, ya saya baru tau kalau ternyata Wiji Thukul cadel. Saya belum pernah dengar Wiji membaca puisi, jadi tidak bisa membandingkan. Anda pernah mendengarnya? luar biasa, bukankah Wiji Thukul menjadi terkenal ketika ia “dihilangkan”?

Film dimulai ketika seorang polisi menginterogasi Sipon istri Wiji Thukul dan anaknya. Kita bisa sedikit merasakan ketakukan yang dialami oleh Ibu dan Anak tersebut yang benama Fitri walaupun kita hanya melihat punggungnya saja. Mereka tidak menjawab pertanyaan polisi tersebut yang entah lapar atau gimana ia terus aja makan nogosari. Adegan panjang tersebut akan terganti dengan adegan panjang lain yang seperti saya bilang tadi dihubungkan dengan pembacaan puisi Wiji Thukul. Kita berusaha dibawa oleh sang sutradara untuk merasakan ketakutan yang dialami Wiji Thukul dalam pelariannya, raut wajah yang tidak tenang, susah tidur karena stres. Tapi tetap saja makannya banyak, dan orang-orang sekitarnya juga sering banget makan dalam film ini.

Film ini mencoba agar penontonnya masuk merasakan apa yang dirasakan Wiji, terlihat dengan tidak adanya lagu, musik atau suara lainnya. Hanya suara-suara alami keadaan disekitar Wiji. Adegan sunyi yang terus muncul ini yang membuat saya susah membuka bungkusan snack yang suara plastiknya akan terdengar kemana-mana & mengganggu penonton yang lain, akhirnya snack tersebut harus menunggu momen yang tepat untuk saya buka.

Terus terang visual adegan-adegan potongan yang panjang ini sangat menarik dan artistik, pengambilan gambar yang enak diikuti dan percakapan yang natural, tipe-tipe film yang disukai & menjadi favorit ajang-ajang film internasional lah. Hanya saja film ini gagal membuat penontonnya merasakan apa yang dialami dan dirasakan Wiji Thukul di kamar-kamar kecil di Pontianak.

Martin dan Thomas adalah dua orang yang membantu Wiji di Pontianak, memberinya tempat tinggal sementara. Adegan-adegan potong rambut, bertemu tentara, raut ketakutan Wiji hingga Wiji mulai berani untuk keluar rumah, nongkrong dikedai kopi hingga akhirnya ia berani untuk pulang ke Solo.

Marissa Anita yang menjadi Sipon, istri Wiji Thukul merupakan yang aktingnya sangat baik difilm ini, ia cukup berhasil membuat kita ikut merasakan ketidaktenangan yang dirasakannya. Apalagi ketika Wiji pulang ke Solo dan Sipon mengatakan “Aku tidak ingin kamu pergi, aku tidak ingin kamu pulang, aku ingin kamu ada”. Sadis…

Ini bukan film biografi, ini bukan film drama, ataupun film laga, jangan harap Anda melihat aksi demonstrasi besar-besaran atau adegan kerusuhan dan lain sebagainya. Film ini menceritakan kepingan kecil kisah Wiji Thukul dalam pelariannya ke Pontianak yang pertama pada tahun 1996. Yang coba dituangkan dalam kesunyian dan ketakutan seperti yang dirasakan Wiji Thukul. Film ini digarap dengan detil yang bagus menyesuaikan dengan tahun 1996, ya walaupun ada beberapa yang luput tapi tidak mengganggu film ini.

6.5/10

Penulis:

Web Designer lokal yang hobi nonton dan menjadi penulis tetap di bioskoptoday.com, jangan lupa untuk follow Twitter dan Instagramnya.

Trailer film Istirahatlah Kata-kata

Komentar dan Review film Istirahatlah Kata-kata

1 komentar untuk Istirahatlah Kata-kata

  • Imam Hanubun -

    Sangat Bagus utk aktivis Saat ini

    Balas

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi