Poster Film Silence
  • 7.7/10
  • 8/10

Film Silence (2017)

Sinopsis film Silence

Film ini berlatar belakang abad ke-17, ketika dua orang imam Jesuit menghadapi penganiayaan yang kejam ketika mengunjungi negara Jepang. Mereka datang kesana dengan tujuan untuk mencari mentor serta menyebarkan ajaran Kristen. Akan tetapi, di bawah kepemimpinan Shogun Tokugawa, agama Kristen maupun kontak yang berasal dari luar Jepang telah dilarang. Kedua imam tersebut menyaksikan penganiayaan keji yang dilakukan kepada orang-orang Jepang yang beragama Kristen. Dan mulai muncul pertanyaan kenapa Allah hanya diam saja, sementara hamba-hamba-Nya sedang dianiaya dan menderita.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 25 Februari 2017
  • Durasi 161 menit
  • Website http://www.silencemovie.com/
  • Sutradara Martin Scorsese
  • Produser Barbara De Fina, Randall Emmett
  • Produksi Sharpsword Films, AI Film, Catchplay, IM Global, Verti Productions, YLK Sikella, Fabrica de Cine
  • Distributor Paramount Pictures
  • Genre Drama, Historical
  • Kelompok Umur 13+

Daftar pemain film Silence

Review & Ulasan film Silence

Menampilkan sisi manusia dalam sebuah penghayatan iman dengan cara yang indah

| Ditulis oleh:

Film ini diangkat berdasarkan sebuah novel fiksi sejarah karya Shûsaku Endô dengan judul asli Chinmoku, atau diterjemahkan dalam bahasa Inggris Silence, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Keheningan, namun saya lebih suka ketika mengartikan kata Chinmoku sebagai Diam. Entahlah, menurut saya sih lebih sreg dengan kata itu. Kisah yang berlatar belakang sekitar abad ke-17 pada masa pembantaian umat Kristen di Jepang ini disutradarai dengan baik oleh Martin Scorsese. Yang menarik dari film ini adalah, Scorsese tidak menggurui kita, para penonton untuk mengikuti gagasannya. Penonton dibiarkan secara liar memaknai cerita dengan bebas.

Film ini berkisah tentang dua orang misionaris Portugis, Sebastião Rodrigues (Andrew Garfield) dan Francisco Garupe (Adam Driver) yang dikirim ke Jepang dalam misinya untuk menemukan misionaris lainnya yang bernama Fereira (Liam Neeson), yang dikabarkan telah menyangkal imannya dan hidup berkeluarga dengan orang Jepang. Dalam perjalanan pencarian tersebut, mereka menemukan bahwa masih banyak orang Kristen Jepang yang ada di sana, dan mempraktekkan imannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka seperti menemukan anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Lalu mereka dengan sembunyi-sembunyi mulai melayani umatnya yang dalam pengasingan tersebut.

Kabar akan kedatangan dua orang misionaris, yang biasa dipanggil sebagai padre (Ayah) tersebut cepat menyebar di antara umat Kristen. Mereka akhirnya harus melayani umat lain dari desa yang lain demi untuk menyegarkan "dahaga" orang-orang Kristen Jepang ini.
Tidak butuh waktu lama, kabar akan kedatangan kedua misionaris inipun sampai juga kepada wali negeri daerah itu. Dan mereka terancam untuk dibunuh. Banyak warga Kristen yang merelakan dirinya mati, untuk melindungi kedua padre tersebut. Dan ini sangat melukai hati mereka. Demi membuat warga bisa hidup dengan aman, kedua misionaris ini memutuskan untuk berpisah, dan menempuh perjalanan yang berbeda.

Dan pada suatu ketika, mereka tertangkap dalam pelariannya di tempat yang berbeda. Dan mulai dari situ, penderitaan demi penderitaan, perang batin dan pergumulan batin mewarnai sisa dari film tersebut. Film ini bukanlah film yang bersifat heroik, tetapi saya melihat ini lebih down to earth. Lebih manusiawi. Ketika sebuah keputusan diambil oleh seorang karakter, kita sebagai penonton mampu memahami keputusan tersebut. Bahkan dalam film tersebut Scorsese meletakkan sebuah "ruang hampa" supaya kita bisa mengisinya dengan gagasan-gagasan hasil permenungan.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Scorsese menampilkan cerita dengan sangat sederhana dan memungkinkan penonton untuk menarik pelajaran di dalamnya. Yang menarik dari film ini, ada banyak hal yang bisa kita renungkan. Bahkan dari setiap karakter yang muncul di film ini. Scorsese berhasil menghidupkan masing-masing karakter dengan sangat kuat. Ya, para aktor dan aktris di sini mampu memainkan karakternya dengan sangat baik.

Dilihat dari sisi cerita, jelas alur cerita-nya sangat bagus. Mengalir dengan baik, dengan beberapa flashback yang dimunculkan, tetapi itu tidak membuat kita bingung, karena ditampilkan dengan bagus. Menawarkan konflik yang mengajak kita untuk jujur melihat diri kita secara pribadi, dengan membuang alasan-alasan pembenaran diri.
Jika dilihat dari sisi akting pemain-pemainnya, mereka memainkan setiap karakter dengan begitu kuat. Seperti yang saya katakan tadi, mereka mampu menghidupkan karakternya dengan baik.

Dalam film ini menampilkan beberapa aksi brutal dan sadis, tapi tetap tidak sesadis film Passion of the Christ. Jadi secara umum, film ini bagus ditonton sekedar sebagai hiburan, mengingat di sisi lain, film ini sebenarnya cukup ringan dan mudah diikuti. Atau bagi anda yang suka menikmati film sebagai media kontemplatif, film ini sangat cocok buat anda. Mengingat ada banyak hal yang bisa direnungkan dan diambil hikmahnya dari adegan-adegan di film ini.

Dalam sebuah film, yang selalu saya sukai adalah ketika film itu tidak memberikan apa yang orang kebanyakan inginkan. Yang kemudian meninggalkan pertanyaan atau sebuah gagasan yang harus kita (penonton) pikirkan. Itulah yang kemudian membuat film tersebut berkesan. Dalam film ini pun menawarkan hal seperti itu. Menawarkan sebuah ruang kosong yang berharap kita bisa mengisinya.
Film ini adalah sebuah film yang membawa muatan kerohanian / agama sebagai pendukung kisahnya, namun dalam setiap peristiwa yang dihadirkan, di situ Tuhan terasa seperti tidak melakukan apa-apa. DIA DIAM dalam KEHENINGAN... SILENCE... CHINMOKU...

8/10

Trailer film Silence

Komentar dan Review film Silence

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi