7 Alasan Ready Player One Siap Menjadi Tontonan Bagus

| Tidak ada komentar

7 Alasan Ready Player One Siap Menjadi Tontonan Bagus

Rilis di akhir bulan Maret 2018, Ready Player One merupakan film Steven Spielberg yang siap menghentak Box Office dan bersaing dengan Pacific Rim: Uprising. Sejak diputar perdana di Festival Film SXSW (South by Southwest), film ini menjadi pembicaraan hangat dan digadang-gadang bisa menjadi jawara baru menggantikan Black Panther. Apa saja alasan di balik ketertarikan tersebut?

1. Membungkam Pesimisme

Percaya atau tidak, Ready Player One sudah disambut dengan kritikan bahkan sejak rencana pembuatannya baru dikumandangkan. Hebatnya lagi, itu semua sudah terjadi sejak 8 tahun terakhir. Ya, film keluaran Warner Bros. ini merupakan proyek spesial yang sudah menghabiskan 8 tahun masa pembuatan. Dikatakan spesial karena pengumuman pembuatannya mendahului rilis novelnya, yang baru terbit pada tahun 2011 dan mendapat tanggapan positif.

Walaupun materi sumbernya diterima dengan baik, berbagai kritikus dan fans entah mengapa sangat pesimis dengan film Ready Player One. Berbagai kontroversi pun meliputi, mulai dari penolakan Gene Wilder untuk tampil sebagai cameo, hingga protes keras mengenai casting pemain yang dianggap telah menipu beberapa oknum. Ketika Warner Bros. mengumumkan perubahan jadwal tayang dari Desember 2017 ke Maret 2018, semakin lengkaplah amunisi para hater untuk mencibir Ready Player One.

Baca juga: Steven Spielberg Akan Menyutradarai Film Adaptasi Komik DC

Pesimisme terhadap Ready Player One

Nyatanya, tak lama setelah diputar perdana di SXSW awal Maret 2018, Ready Player One mendapat sambutan positif yang cukup melegakan. Film ini memang tidak banjir pujian, tapi cukup diakui oleh banyak pengamat yang merasa terkejut dengan film yang sebelumnya dianggap 'bermasalah' ini. Hingga saat artikel ini ditulis, Ready Player One masih mendapat rating 81% di Rotten Tomatoes, jauh lebih baik dari film Blockbuster lain di akhir Maret, yakni Pacific Rim: Uprising yang hanya di-rating 47%.

2. Punya Daya Tarik Visual

Ready Player One berkisah tentang kehidupan di masa depan yang terpusat pada sebuah dunia virtual bernama OASIS. Program tersebut merupakan revolusi penting yang menjadi 'tempat hiburan' bagi hampir semua masyarakat dunia. Petualangan pun dimulai ketika Wade Watts sang tokoh utama, mengikuti ajang berhadiah Easter Eggs yang menuntut kelihaiannya bermain di dunia virtual.

Visual Ready Player One

Genre sci-fi dan semua unsur teknologi yang muncul di Ready Player One tentu bisa menyuguhkan visual menarik di layar lebar. Belum lagi, film Hollywood masih jarang menyentuh tema Virtual Reality yang berpotensi menjadi teknologi andalan di masa depan. Dengan keberanian Ready Player One untuk mengangkat konsep ini, penonton bisa bersiap untuk mendapat hiburan visual yang membuat pengalaman nonton di bioskop menjadi benar-benar berkesan.

3. Jaminan Kualitas Ala Spielberg

Siapa yang tak kenal dengan Steven Spielberg? Sutradara legendaris yang sudah eksis sejak era 1970-an ini masih aktif hingga sekarang. Berbagai film fenomenal pun telah ia garap, baik yang sukses dari segi pendapatan, menghimpun pujian kritik, maupun keduanya. Beberapa filmnya yang terkenal meliputi Jaws, Back to the Future III, E.T. the Extra-Terrestrial, Schindler's List, Saving Private Ryan, Jurassic Park, Lincoln, dan masih banyak lagi. Atas konsistensinya menelurkan film-film terkenal, karya Spielberg selalu diantisipasi.

Salah satu prahara yang menyelimuti Ready Player One adalah ketidaklayakannya untuk disutradarai Steven Spielberg. Banyak pihak beranggapan jika film ini terlalu 'remeh' untuk diarahkan oleh sosok sekaliber Spielberg. Bagaimanapun juga, Ready Player One bukanlah tontonan serius seperti Schindler's List ataupun Lincoln,  juga bukan film petualangan berskala besar seperti Jurassic Park.

Steven Spielberg sutradara Ready Player One

Namun setelah rilis di SXSW, salah satu pujian yang disematkan secara universal untuk Ready Player One adalah keberhasilan Spielberg meramunya menjadi sebuah tontonan bagus. Entah bagaimana caranya, Spielberg berhasil mengawinkan gaya penyutradaraannya dengan genre Ready Player One yang sebenarnya ringan dan berisiko menjadi hiburan kelas rendah, jika tidak diolah di tangan yang tepat.

Menurut ulasan Looper, Spielberg adalah sutradara sempurna untuk Ready Player One. Ia tahu betul jika film ini bukanlah sajian artistik yang rumit ataupun mengusung drama berbobot. Pemahaman itulah yang melatarbelakangi kesuksesan sang sutradara mengarahkan Ready Player One, hingga mengantarkan film ini ke dalam daftar panjang film sukses seorang Steven Spielberg.

 

4. Kaya Nostalgia

Elemen nostalgia adalah unsur yang paling mendominasi dari Ready Player One. Inilah yang menyebabkan novelnya unik dan begitu digemari oleh para penggemarnya. Nostalgia menjadi instrumen vital, karena pengetahuan tentang Pop Culture di era 1980 hingga 1990-an adalah kunci permainan yang ditampilkan di Ready Player One.

Nostalgia Ready Player One

Tak main-main, referensi yang disebutkan di film ini begitu banyak dan menjangkau semua aspek, mulai dari musik, Video Game, film, serial televisi, buku, hingga anime. Hal-hal itu tidak hanya disebutkan sambil lalu seperti di kebanyakan film, tapi akan menjadi penentu kesuksesan tokoh-tokoh di Ready Player One.

Hanya dengan hal ini, Ready Player One bisa menyatukan banyak fandom, mulai dari penggemar kultur Amerika seperti Star Trek dan Star Wars, para otaku yang menyukai Gundam dan Akira, sampai kutu buku yang fanatik terhadap karya-karya J.R.R Tolkien.

5. Lebih Baik Dari Novelnya

Novel Ready Player One ditulis oleh Ernest Cline dan dikenal sebagai Bestseller. Unsur nostalgia yang dimasukkan ke dalam kisahnya memang bisa menyedot banyak penggemar, tapi juga menumbuhkan kritikan dari para pengamat. Mereka yang berpandangan kritis, menganggap jika novel Ready Player One terlalu bertumpu pada referensi masa lalu, sehingga mengesampingkan kualitas cerita. Inilah salah satu alasan mengapa para pemerhati cukup was-was dengan adaptasinya di layar lebar.

Novel Ready Player One

Akan tetapi, sentuhan Spielberg ternyata mampu mengatasi kecemasan di atas. Film Ready Player One memang masih sarat nostalgia dan referensi masa lalu, tapi ia tidak membiarkan hal itu mengendalikan kualitas cerita. Naskah film ini sendiri ditangani oleh penulis aslinya, Ernest Cline, yang berkolaborasi dengan Zak Penn.

Di zaman perfilman yang mulai kehabisan cerita original dan dipenuhi berbagai karya adaptasi, menemukan sinema yang diakui lebih baik dari materi sumbernya sangatlah langka. Hal itu karena materi film biasanya sudah berprestasi atau (paling tidak) sangat terkenal, sehingga para pembuat film berada dalam tekanan, untuk bisa membuat karya yang memuaskan penonton film sekaligus penggemar fanatik novelnya.

Dengan demikian, keberhasilan Spielberg untuk meramu film yang dianggap lebih baik dari novel sumbernya jelas patut diacungi jempol.

6. Menghibur, Tapi Tidak Dangkal

Dilihat dari genre dan konsep dasarnya, Ready Player One jelas bukanlah drama berbobot yang tujuan pembuatannya adalah untuk menyebar inspirasi atau memancing renungan. Berangkat dari premise sci-fi yang hampir mendekati fantasi dan menjanjikan petualangan, Ready Player One adalah tontonan yang sepenuhnya dimaksudkan untuk menghibur.

Namun tidak tepat juga apabila Ready Player One dikategorikan sama seperti tontonan menghibur lain, seperti Pacific Rim: Uprising atau bahkan seri Transformers. Film ini berusaha mengupas salah satu krisis laten yang memang sedang terjadi saat ini, yaitu keterbatasan lahan akibat pertumbuhan populasi yang tidak terkendali. Adanya dunia virtual OASIS sebagai 'tempat hiburan' masyarakat di masa depan sebenarnya merupakan suatu ironi.

Kisah Ready Player One

Jika melihat latarnya yang dystopian, film ini lebih tepat disejajarkan dengan beberapa franchise adaptasi novel serupa yang sempat marak di awal dekade ini, seperti The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Film-film tersebut juga mengandung pesan sosial atau bahkan politik, tetapi seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap lebih condong pada golongan penggemar novelnya, yaitu para remaja. Apakah Ready Player One akan jatuh ke jurang yang sama, atau bisa menjangkau kalangan audience yang lebih luas, tentu hasilnya baru akan diketahui setelah rilis secara resmi di bioskop-bioskop.

7. Wajah Segar Di Era Film Superhero

Di antara persaingan film-film superhero yang mulai menjamur sejak 2016 silam, adanya film sci-fi dystopian seperti Ready Player One tentu bisa menjadi alternatif menarik. Apalagi, seri The Maze Runner baru saja menyelesaikan film terakhirnya Januari lalu.

Menariknya, Ready Player One sendiri tak luput memasukkan berbagai referensi untuk tokoh-tokoh superhero. Karakter utamanya, Wade Watts, bahkan membandingkan namanya dengan Peter Parker dan Bruce Banner. Di luar itu, aktor pemeran Wade Watts adalah Tye Sheridan, bintang muda yang memerankan Cyclops di X-Men: Apocalypse, dan akan muncul kembali sebagai tokoh tersebut di film Dark Phoenix akhir tahun ini.

Tye Sheridan

Salah satu pemain pendukung di Ready Player One, T.J. Miller, juga dikenal berkat perannya sebagai sobat Deadpool di film solo superhero tersebut.

Tag: ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi