Solo: A Star Wars Story Terancam Gagal Balik Modal

| Tidak ada komentar

Solo: A Star Wars Story Terancam Gagal Balik Modal

Setelah hampir 2 minggu rilis di bioskop, film Han Solo belum juga menunjukkan tanda-tanda kesuksesan seperti yang diharapkan. Debut akhir pekan pertama yang mengecewakan ternyata berlanjut di minggu kedua. Dengan kedatangan film-film musim panas yang tinggal menunggu hari, pendapatan seri antologi Star Wars ini diprediksi tak mampu menutup budget untuk kegiatan produksi dan promosi film.

Analis Box Office dari The Hollywood Reporter memperkirakan jika Solo: A Star Wars Story pada akhirnya akan mengalami kerugian sekitar $50 juta. Beberapa analis lain bahkan berani memprediksi jika Lucasfilm bisa rugi sampai $80 juta. Hingga 10 hari penayangan, total Box Office global film ini baru mencapai $264.3 juta. Angka tersebut memang sudah melebihi biaya produksi yang dikabarkan mencapai $250 juta. Namun jika memperhitungkan seluruh budget untuk pembuatan plus marketing film, Solo: A Star Wars Story perlu mengumpulkan setidaknya $500 juta untuk break even.

Melihat performa Box Office Solo: A Star Wars Story yang cenderung lambat dan mengalami kemerosotan tajam di minggu kedua (hingga 66% dari pekan pertama), analis memproyeksi jika film Han Solo hanya akan mengumpulkan $450 juta sampai waktu terakhir pemutarannya. Disinyalir, kedatangan Jurassic World: Fallen Kingdom dan The Incredibles 2 dalam waktu dekat bisa menjadi faktor utama yang menenggelamkan Solo: A Star Wars Story.

Baca juga: 10 Trilogi Film Terbaik Sepanjang Masa

Kondisi ini jelas sangat di bawah standar untuk seukuran film Star Wars di era modern. Sejak rilis The Force Awakens tahun 2015 silam, film-film baru Star Wars tak pernah kerepotan meraih kesuksesan dan selalu meraih pendapatan lebih dari $1 miliar.

 

Terlalu Mengandalkan Nama Besar Star Wars

Jadi sebenarnya apa yang menyebabkan Solo: A Star Wars Story tak sanggup memenuhi ekspektasi? Ada beberapa alasan berbeda yang bisa dilontarkan, tergantung dari sudut pandangnya. Awalnya, media mengkhawatirkan proses produksi penuh masalah yang bisa menciderai kualitas Solo: A Star Wars Story. Namun melihat rating kritikus yang tidak terlalu jeblok untuk seukuran film yang mengalami perubahan struktural di tengah proses pembuatannya, alasan ini tak lagi valid. Belum lagi, Rogue One juga diselimuti masalah reshoot, tapi film itu tak kesulitan menembus batas $1 miliar.

Sorotan kemudian bergeser pada teknik pemasaran film yang tak maksimal. Sebagai rilis yang muncul di bawah bayang-bayang Avengers: Infinity War dan Deadpool 2, Lucasfilm harusnya bisa menggenjot antusiasme lebih awal. Sebagai informasi, trailer pertama film Han Solo baru meluncur bulan Februari, itupun hanya sebagai bagian dari iklan Super Bowl.

Menurut analis media di Wall Street, Doug Cruetz, jarak waktu antara Februari ke Mei tidaklah cukup untuk mempromosikan film sebesar seri Star Wars. Sebagai perbandingan, film-film Star Wars era Disney sebelum ini selalu memiliki waktu promosi 8 bulan sebelum rilis, jauh berbeda dari Solo: A Star Wars Story yang hanya 3 bulan.

Dari sini, jelas sudah bahwa Lucasfilm terlalu bergantung pada nama besar Star Wars untuk mengangkat performa film Han Solo. Performa luar biasa The Force Awakens, Rogue One, dan The Last Jedi mungkin membuat mereka menggampangkan upaya marketing yang seharusnya lebih dimaksimalkan untuk Solo: A Star Wars Story, mengingat persaingannya dengan film-film sekelas Avengers: Infinity War dan Deadpool 2, juga keraguan fans akan Alden Ehrenreich, aktor utama yang menggawangi film Han Solo.

 

Imbas Kekecewaan Terhadap The Last Jedi?

Dari sudut pandang fans Star Wars garis keras, penyebab kegagalan Solo: A Star Wars Story hanya ada satu: refleksi kekecewaan penggamar terhadap The Last Jedi. Mereka bersikeras jika The Last Jedi menghancurkan semua antusiasme untuk film-film Star Wars berikutnya. Begitu dalamnya kekecewaan mereka terhadap Star Wars Episode VIII itu, sampai 2 film Star Wars keluaran Disney yang lain (The Force Awakens dan Rogue One) pun tak mau mereka akui keberadaannya.

The Last Jedi dituduh biang kegagalan Solo: A Star Wras STory

Sebagai franchise film legendaris yang telah eksis sejak puluhan tahun lalu, Star Wars memang memiliki banyak penggemar fanatik yang bisa menyumbang pendapatan luar biasa, tapi di sisi lain juga dapat melancarkan aksi boikot yang berdampak signifikan bagi kelangsungan franchise.

Apakah Solo: A Star Wars Story gagal karena strategi pemasaran yang lemah atau kurangnya ketertarikan fans setelah The Last Jedi, yang jelas tak akan mudah bagi Lucasfilm untuk melanjutkan rencana trilogi film Han Solo seperti yang selama ini sudah dirumorkan. Setelah Solo: A Star Wars Story, rilis berikutnya adalah Star Wars Episode IX pada Desember 2019. J.J. Abrams yang sebelumnya dikenal menyutradarai 2 film Star Trek dan The Force Awakens akan kembali menjadi pengarah di Episode IX.

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi