6 Alasan Mengapa Skyscraper Gagal Di Box Office

| Tidak ada komentar

6 Alasan Mengapa Skyscraper Gagal Di Box Office

Tak disangka-sangka, film terbaru Dwayne Johnson, Skyscraper, gagal mendapat respon yang diharapkan dari khalayak penonton. Dipromosikan sebagai film action dengan berbagai adegan menegangkan dan efek-efek ledakan dahsyat ala Die Hard, ekspektasi Box Office untuk Skyscraper tentu saja menjulang tinggi. Terlebih lagi, film ini mengandalkan nama The Rock yang memiliki rekor nyaris sempurna dalam menarik Audience ke bioskop.

Kenyataan kemudian berkata lain, manakala Skyscraper hanya mampu finish di urutan ketiga pada pekan perdananya. Yang lebih mengejutkan lagi, film ini kalah telak dari Hotel Transylvania 3: Summer Vacation dan gagal menggeser posisi Ant-Man and the Wasp yang rilis seminggu lebih awal.

Secara keseluruhan, Skyscraper cuma mendatangkan $24 juta Dolar di minggu perdananya dari bioskop-bioskop domestik. Padahal, Universal mengekspektasikan minimal $30 juta pendapatan untuk debut Skyscraper. Analis Box Office Mojo bahkan memprediksi jika Skyscraper hanya akan mengumpulkan $65-$75 juta dari seluruh waktu pemutarannya di bioskop AS. Dengan budget mencapai $125-$129 juta, angka tersebut jelas tak cukup untuk memenuhi biaya produksi Skyscraper. Mirisnya lagi, film ini tak bisa bergantung pada pasar internasional, karena hasil Box Office global untuk film ini pun tak terlalu menjanjikan; hanya mencatatkan penghasilan senilai $40.4 juta saja di minggu pertamanya.

Baca juga: The Rock Beberkan Info Syuting Dan Cameo Superhero DC Di Black Adam

Dengan kata lain, Skyscraper sudah terancam gagal balik modal dan mengikuti jejak Solo: A Star Wars Story. Film ini juga mematahkan rekor kesuksesan Dwayne Johnson yang dalam beberapa bulan ini konsisten fantastis dengan film-film Fast and Furious, sekuel Jumanji, serta Rampage.

Jadi, apa sebenarnya yang menyebabkan Skyscraper gagal memenuhi ekspektasi?

 

1. Bukan Film Adaptasi

Meski film original patut mendapat apresiasi dan memiliki keunikan tersendiri, tapi saat ini sangat sulit untuk memikat penonton dengan film yang 100% baru dan tidak terkait dengan buku komik, novel, kejadian nyata, anime, atau Video Game terkenal apapun. Inilah mengapa eksistensi film original sudah semakin langka; studio-studio besar di Hollywood tak ingin mengambil langkah berisiko dan akhirnya sering mengadaptasi sumber materi populer yang telah memiliki basis fans.

Universal sebenarnya cukup bertaruh dengan kesuksesan Skyscraper, karena film ini tidak didasarkan pada bahan adaptasi apapun. Yang lebih disesalkan lagi, Skyscraper tampak setengah-setengah dalam mengembangkan ide originalnya. Bukannya menawarkan konsep cerita yang benar-benar baru, film ini justru mencomot beberapa unsur klise dari film-film action yang sudah ada. Jadi meskipun bukan film adaptasi, Skyscraper juga tidak 100% original karena alasan itu.

Alasan Skyscraper gagal

Status yang serba tanggung ini membuat banyak penonton berpaling pada film lain yang lebih jelas dan menjanjikan, seperti sekuel Hotel Transylvania, Ant-Man and the Wasp yang merupakan film Marvel, atau bahkan Sorry to Bother You yang memang benar-benar original dan mendapat respon positif dari para kritikus.

 

2. Film Kelas B

Ketika sebuah film tak terlalu laku tapi masih memiliki kualitas yang bagus, maka ia sering disebut sebagai film underrated. Namun Skyscraper tidak bisa disebut demikian, karena ulasan pengamat secara umum menyimpulkan jika Skyscraper adalah film yang biasa saja.

Sekalipun dibuat dengan budget ratusan juta Dolar, dibintangi aktor papan atas Dwayne Johnson, dan dipenuhi ledakan-ledakan serta spesial efek yang berkualitas, Skyscraper tidak memiliki esensi yang membuatnya lepas dari kategori B-movie atau film kelas B.

Saat artikel ini ditulis, Skyscraper hanya dirating 48% oleh 200 reviewer di situs agregator Rotten Tomatoes. Kombinasi review pengamat dan Box Office yang tidak memenuhi ekspektasi, secara otomatis menjadi formula sempurna dari sebuah film kelas B. Sebagai tambahan, rating Cinemascore untuk Skyscraper yang diambil dari survei langsung terhadap Audience hanya mengindikasikan nilai B+, alias mengkonfirmasi 2 indikator kesuksesan film lainnya.

 

3. Terlalu Bergantung Pada Dwayne Johnson

Ketiadaan sumber adaptasi yang populer dan kualitas yang di bawah standar membuat Skyscraper hanya mengandalkan Dwayne Johnson sebagai senjata utamanya. Padahal, sebuah film tidak bisa hanya mengedepankan nama besar aktor, tanpa memiliki naskah cerita yang baik dan sederet unsur-unsur sinematik penting lainnya.

Skyscraper terlalu mengandalkan Dwayne Johnson

Dwayne Johnson juga dinilai membuat kesalahan fatal ketika ia pertama kali mempromosikan film ini sebagai film action klasik seperti Die Hard, Towering Inferno, dan The Fugitive. Pencitraan seperti itu tidak akan mempan karena para penonton sudah terlalu sering mengkonsumsi film-film serupa di tahun 1990-an hingga 2000-an. Beberapa di antaranya bahkan ada yang gagal menembus layar lebar dan hanya dijual dalam bentuk DVD.

Sebagai studio besar di kancah perfilman Hollywood, Universal tentu paham dengan prospek film-film action seperti itu. Jadi ketika mereka nekat merilis sebuah film action kelas B seperti Skyscraper, maka tak ada alasan lebih jelas yang melatarbelakanginya, selain kepercayaan penuh terhadap nama besar Dwayne Johnson.

 

4. Penonton Sudah Mulai Jenuh Dengan The Rock

The Rock boleh jadi mengejutkan banyak pihak setelah berhasil menggawangi Jumanji: Welcome to the Jungle yang tadinya banyak dipandang skeptis. Ia juga bisa dibilang cukup berhasil membalik ekspektasi dengan kehadirannya di film Rampage. Namun kesuksesan-kesuksesan Dwayne Johnson tampaknya sudah mulai kehilangan momentum di Skyscraper.

Bisa jadi, ini merupakan efek kejenuhan publik terhadap The Rock. Bayangkan saja, dalam waktu 14 bulan sejak April 2017, Dwayne Johnson rajin menyapa penonton dengan The Fate of the Furious, Baywatch, sekuel Jumanji, Rampage, dan kini Skyscraper. Deretan film itu bahkan belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan proyek Dwayne Johnson berikutnya yang sudah berjajar.

Sindrom kejenuhan The Rock

Menurut catatan Looper, ada sekitar 10 film The Rock yang siap meramaikan Box Office dalam beberapa tahun ke depan, dan hampir semuanya adalah proyek Blockbuster berbudget besar. Beberapa contohnya adalah film ketiga Jumanji, beberapa film Superhero (kemungkinan DCEU, karena ia sudah diprospek menjadi Black Adam), spin-off Fast and Furious, dan masih banyak lagi.

"Kesibukan Dwayne Johnson saat ini sudah hampir seperti Arnold Schwarzenegger di masa jayanya, tapi bahkan Schwarzenegger pun tidak pernah membintangi film dengan intensitas seperti ini," demikian ujar Sarah Szabo dari Looper.

 

5. Persaingan Ketat Di Box Office

Skyscraper bisa dikatakan kurang beruntung dengan jadwal rilisnya, karena harus bersaing dengan film-film populer lain yang biasanya memang memadati slot penayangan di musim panas.

Di satu sisi, ada Hotel Transylvania 3: Summer Vacation yang sudah familiar dengan banyak Audience dari semua kalangan. Meski film pertama dan keduanya tidak disambut hangat di kalangan pengamat, film Hotel Transylvania selalu meraup pendapatan di atas ekspektasi. Terbukti, seri ketiga yang baru beredar musim panas ini telah memenangkan persaingan dan melakukan debut dengan pendapatan $45 juta Dolar, hampir dua kali lipat raihan Box Office Skyscraper.

Film musim panas 2018

Di sisi lain, Ant-Man and the Wasp dan Incredibles 2 masih kuat bertengger di papan atas. Bersaing dengan film-film sekuel yang menurut histori franchise-nya tak pernah kesulitan meraup pendapatan besar, Skyscraper seharusnya tidak cuma bermodalkan Dwayne Johnson untuk bisa mengungguli film lainnya.

 

6. Terlalu Menargetkan Pasar China

Skyscraper memang didistribusikan oleh Universal, tapi rumah produksinya adalah Legendary Pictures yang merupakan cabang perusahaan dari korporasi raksasa China, Wanda Group. Karena itu, tak heran jika beberapa aspek dari film ini didesain sesuai selera masyarakat China, yang belakangan memang banyak menggemari Blockbuster-Blockbuster Hollywood.

Premiere Skyscraper di Beijing

Selain setting cerita yang berada di Hong Kong, karakter dan alur cerita Skyscraper juga mengalami rekalibrasi yang semata-semata ditujukan untuk memenuhi kepuasan penonton, khususnya di pasar negeri tersebut. Tak heran, Skyscraper kesulitan menemukan relevansi di mata penonton AS dan negara-negara lain. Padahal, meski pasar China sangat menjanjikan, Skyscraper perlu memikat Audience AS terlebih dulu untuk bisa mengunci kesuksesan.

Ketika performa Skyscraper di Box Office China tidak sebaik yang diharapkan, maka nasib film ini di kancah global pun tak bisa dikatakan gemilang.

 

Tak Kompetitif

Dari keenam alasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Skyscraper tak memiliki daya saing yang dibutuhkan untuk berkompetisi dengan film-film musim panas tahun ini. Skyscraper memang tidak hancur total seperti Baywatch, tapi kualitasnya yang cuma lumayan membuat ia kalah bersaing dengan film-film lain yang sudah punya nama, dan lebih diapresiasi oleh penonton maupun para pengamat.

Sebelum Skyscraper beredar, Rampage yang mengalami kemunduran signifikan di pekan kedua seharusnya sudah bisa menjadi bahan pelajaran bagi para produser di Hollywood. Pesannya jelas: mengunggulkan Dwayne Johnson seorang saja tidak cukup untuk membuat sebuah film menembus dominasi franchise-franchise terkenal yang saat ini tengah mendominasi pasar.

Tag: ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi