The Darkest Minds Dicap Gagal, Ini 7 Alasannya

| Tidak ada komentar

The Darkest Minds Dicap Gagal, Ini 7 Alasannya

Mengisahkan sekelompok remaja berkekuatan spesial yang berupaya lari dari kejaran otoritas, The Darkest Minds mengusung premise yang menjanjikan. Setidaknya, ada nostalgia terhadap tren film-film dystopian yang sempat dipopulerkan The Hunger Games, Divergent, dkk. Sayangnya, film yang beredar sejak awal Agustus ini justru kesulitan mengungguli para pesaingnya di Box Office.

Di kancah domestik, The Darkest Minds hanya mengumpulkan 6 juta Dolar AS di akhir pekan pertamanya. Dengan jumlah 3,127 bioskop yang memutarnya di seluruh penjuru AS, tak dapat dipungkiri jika The Darkest Minds telah gagal menarik minat penonton. Berdasarkan data Box Office Mojo, raihan tersebut mengantarkan The Darkets Minds di posisi ke- 11 dalam daftar 100 film dengan pembukaan terburuk sepanjang masa.

Dilihat dari tema cerita yang diusung, The Darkest Minds sebenarnya berpotensi menggondol pendapatan besar, terutama jika dibandingkan dengan film-film saingannya di Box Office yang sama-sama berkualitas medium (The Spy Who Dumped Me, Disney's Christopher Robin, The Meg, Slender Man, dsb.). Lantas apa yang membuat performa film ini begitu mengecewakan?

 

1. Promosi Yang Salah Arah

Bermaksud ingin memberikan nuansa baru pada film dystopian yang sebenarnya sudah berulang kali dibuat, tim marketing The Darkest Minds justru membuat blunder dengan menyamarkan konsep cerita yang sebenarnya. Alih-alih mengungkap kilasan petualangan anak-anak berkekuatan super, poster dan salah satu trailer film ini justru dibuat seperti film drama romantis ala adaptasi novel Nicholas Sparks, yang dikombinasikan dengan ending Avengers: Infinity War. Tentunya, ini bisa mengelabui siapapun yang masuk ke ruang bioskop dan mengekspektasikan tontonan drama romantis dengan sedikit sentuhan sci-fi.

Poster The Darkest Minds

Belum lagi, embel-embel yang diunggulkan sejak masa awal promosi adalah 'from the producers of Stranger Things and Arrival'. Apa yang salah dari kalimat ini? Pertama-tama, mengunggulkan figur produser adalah salah satu sinyal sebuah film yang sedang-sedang saja, karena itu artinya film tersebut tidak memiliki sutradara atau penulis dengan filmografi yang membanggakan. Bagaimanapun juga, peran produser tidaklah semasif kontribusi sutradara dan penulis, sehingga meskipun produser tersebut pernah terlibat di beberapa proyek film besar, efeknya tak akan signifikan.

Kedua, Stranger Things dan Arrival adalah dua tontonan dengan konsep yang sangat berbeda. Di satu sisi, Stranger Things menampilkan tema horor dengan nostalgia '80-an yang kental akan ciri khas Spielberg. Di sisi lain, Arrival menyajikan drama thriller sci-fi yang mengandung pesan tentang kebebasan dan komunikasi. Jadi kira-kira, apa yang bisa diharapkan penonton setelah mengetahui jika film ini menjagokan produser Stranger Things dan Arrival?

 

2. Tidak Mengusung Bintang Papan Atas

Tak cuma dari segi pemasaran, jajaran pemain film ini juga tidak memiliki daya tarik yang kuat. Pemeran utama The Darkest Minds adalah Amandla Stenberg. Meskipun ia tidak bisa disebut artis baru karena sebelumnya sudah pernah membintangi The Hunger Games dan beberapa film lain, namanya masih relatif kurang dikenal, terutama di kalangan penggemar film di luar AS. Pemain pendukung yang diikutsertakan di film ini pun hanya beberapa artis muda yang tidak memperlihatkan performa menonjol.

Pemain The Darkest Minds

The Darkets Minds sebenarnya menghadirkan beberapa artis dewasa yang cukup dikenal, tapi mereka tetaplah tidak semenjual magnet Box Office lain, seperti contohnya Tom Cruise, Johnny Depp, Dwayne Johnson, dsb. Aktor-aktor yang bergabung di film ini termasuk Mandy Moore, Bradley Whitford (dari TV Series The Handmaid's Tales), dan Gwendoline Christie (Game of Thrones). Keikutsertaan mereka juga dianggap tidak terlalu efektif, mengingat mereka hanya mendapatkan peran minor yang kalah screentime dengan Amandla Stenberg dkk.

 

3. Tren Film Dystopian Telah Berlalu

Film-film adaptasi novel remaja yang ber-setting di masa depan memang sempat menjamur di awal dekade ini. Setelah The Hunger Games, ada Divergent, The Maze Runner, dan beberapa film lain dengan tema serupa. Satu hal yang bisa disimpulkan dari tren ini adalah, kesuksesan dari film ke film selalu menurun, menandakan bahwa publik cepat jenuh dengan film-film dystopian yang memang tidak dibuat untuk menjangkau semua kalangan Audience.

Tren film dystopian

Rilis film terakhir The Maze Runner di awal tahun ini tidak disambut dengan antusiasme yang sama seperti pemutaran perdana film pertamanya beberapa tahun silam. Jadi ketika 20th Century Fox mengumumkan The Darkest Minds yang jelas-jelas diadaptasi dari novel dengan genre serupa, tidak banyak media dan pengamat yang berekspektasi tinggi.

 

4. Terlalu Berharap Banyak Pada Kesuksesan Novelnya

Jika kita menyebutkan ketiadaan sumber materi terkenal sebagai salah satu alasan kegagalan Skyscraper, maka apa yang terjadi pada The Darkest Minds justru sebaliknya. Novel The Darkest Minds bisa dikatakan sangat sukses dan mendapat rating yang bagus, meski popularitasnya tetap terbatas di kalangan penggemar buku fiksi remaja. Namun terkadang, hal itu saja tidak cukup untuk menjadi basis proyeksi kesuksesan sebuah film.

Novel The Darkest Minds

Terlepas dari cerita yang menjadi sumber narasinya, sebuah film tetaplah sebuah film, yang membutuhkan penyutradaraan, akting, dan editing yang baik, sehingga secara audio visual bisa merealisasikan imajinasi para penonton ketika membaca premise-nya. Jadi sekalipun sebuah film bersumber dari properti sukses, para penonton tak akan berduyun-duyun menyaksikannya di bioskop apabila eksekusinya kurang matang.

Inilah masalah paling serius yang mendera The Darkest Minds. Hanya karena novel sumbernya sudah populer di pasaran, tim produksi film ini tampak tak melakukan upaya maksimal untuk menggarap adegan demi adegan yang ditampilkan.

Kesan 'malas' ini diinterpretasikan oleh jurnalis film dari Looper, Sarah Szabo, sebagai aksi aji mumpung yang berakar dari prinsip ngawur para studio besar di Hollywood: "selama suatu film didasarkan pada sumber populer yang menjadi dasar adaptasi (baik itu novel, buku komik, film lama, kejadian nyata, bahkan sekedar cerpen dan artikel koran), maka kesuksesannya pasti terjamin."

 

5. Bukan Hal Baru

Diakui atau tidak, hampir semua film Hollywood saat ini memang tidak mengusung ide cerita atau konsep original. Kebanyakan hanya daur ulang dari yang sudah ada, atau interpretasi ulang dan modernisasi untuk membuat materi lama bisa tetap relevan di era milenial seperti sekarang ini. Tindakan seperti itu bukanlah suatu hal buruk, terutama apabila tim produksi bisa menjaga kualitas film dengan standar sinematik yang seharusnya.

The Darkets Minds pun tidak terlepas dari pengulangan konsep tersebut. Jika ditelaah lebih jauh, film ini banyak mengambil unsur X-Men, lalu menggabungkannya dengan elemen tipikal dari film dystopian yang biasanya membidik penonton remaja, sebut saja seperti The Maze Runner, The 5th Wave, atau Divergent.

Konsep The Darkest Minds

Dengan tema yang sudah sangat pasaran, film ini seharusnya bisa memastikan agar penonton bisa tetap terhibur dengan gaya penyutradaraan, penulisan, atau mungkin editing-nya; mungkin seperti Ready Player One yang disukseskan Steven Spielberg. Nah, 2 alasan selanjutnya akan menjelaskan lebih detail tentang ketidakmampuan The Darkest Minds meraih apresiasi penonton dari hal-hal itu.

 

6. Action Berkualitas Rendah

Jika tidak bisa menghadirkan drama memikat dengan akting kelas super, atau menyampaikan pesan yang menimbulkan kesan mendalam, maka sebuah film setidaknya perlu menampilkan sequence yang membuat penonton bisa terpikat sampai di penghujung durasi. Apalagi jika konsep yang diusung menyuguhkan cerita sekelompok anak berkekuatan spesial, pastinya ada adegan-adegan action yang membuat penonton terkesima dengan keahlian para tokoh utama dalam menghadapi musuh-musuh mereka.

Action The Darkest Minds

Sayang, penyutradaraan The Darkest Minds tak berhasil membuahkan action sequence yang bisa memantik antusiasme penonton. Dilansir dari ulasan kritikus A.A. Dowd yang mengisi kolom di AV Club, adegan-adegan action The Darkest Minds tidak beraturan dan susah dipahami. Kegagalan ini selayaknya patut dibebankan pada sutradara Jennifer Yuh Nelson, yang gagal mengeksekusi action sequence dengan baik. Sekedar informasi, The Darkest Minds merupakan film ketiga Nelson, yang sebelum ini tak berpengalaman membesut film Live Action karena hanya mengarahkan film-film animasi saja (Kung Fu Panda 2 dan Kung Fu Panda 3).

 

7. Editing Sekelas Acara TV

Tak cuma masalah penyutradaraan, The Darkest Minds tersandung editing yang menurut beberapa pengamat tak layak masuk standar film layar lebar. Sarah Szabo bahkan membandingkannya dengan kualitas editing serial TV CW, yang meskipun memiliki banyak penggemar, tapi identik dengan gaya amatir yang cenderung sloppy dan terlalu simpel.

Editing The Darkest Minds

Hal ini sebenarnya tak terlelu mengherankan, sebab budget yang disediakan untuk menggarap The Darkest Minds hanya sebesar 34 juta Dolar AS. Modal segitu tentu saja kurang untuk film seperti The Darkest Minds yang mengusung genre dystopian dan memerlukan efek visual. Sehingga pada akhirnya, kualitas editing-lah yang menjadi korban dari budget minim ini.

 


Melihat banyaknya kekurangan di atas, studio The Darkest Minds tampaknya perlu banyak berbenah jika ingin menampilkan film adaptasi yang tren konsepnya sudah lama berlalu. Apabila tak bisa menghadirkan tema yang segar, maka setidaknya mereka perlu mengumpulkan budget lebih besar untuk mendatangkan artis atau sutradara papan atas, juga kualitas editing yang lebih maksimal. Bagaimanapun juga, studio Ready Player One berhasil membuktikan pesimisme beragam pihak, hanya dengan memasrahkannya ke tangan Steven Spielberg.

Tag:

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi