5 Alasan Mengapa First Man Tak Laku Di Box Office

| Tidak ada komentar

5 Alasan Mengapa First Man Tak Laku Di Box Office

First Man merupakan duet kedua Ryan Gosling dan sutradara Damian Chazelle setelah La La Land. Namun tak seperti La La Land yang laris manis, film tentang pendaratan Neil Armstrong di bulan ini justru kesulitan berkompetisi di Box Office. First Man bahkan kalah pamor dengan Venom dan A Star Is Born. Kira-kira, apa ya penyebab kegagalan First Man di Box Office?

Saat artikel ini ditulis, First Man baru saja mengumpulkan 21.4 juta Dolar AS setelah seminggu tayang di bioskop-bioskop AS. Sementara itu, Venom berhasil menjadi juara selama 2 minggu berturut-turut dan meraup pendapatan sebesar 45.9 juta Dolar AS di minggu keduanya. A Star Is Born juga mencatatkan raihan impresif sebesar 40.9 juta Dolar AS. Tak ayal, First Man pun gagal mengambil alih tempat teratas dari dua film itu, dan harus puas nangkring di tempat ketiga pada pekan pertamanya.

Data Box Office First Man

Sumber: Box Office Mojo

Hal ini cukup disayangkan, mengingat First Man mendapatkan apresiasi positif dari para kritikus. Rating film ini sudah mendapat status Certified Fresh dari Rotten Tomatoes (RT) dan stabil di kisaran 89%, berbeda jauh dari Venom yang cuma direkomendasikan oleh 30% dari 280 pengamat di RT.

Baca juga: Joker Lagi-Lagi Pecahkan Rekor Baru, Apakah Itu?

Di atas kertas, daya jual First Man seharusnya sudah tak perlu diragukan lagi; ada si aktor tampan Ryan Gosling sebagai bintang utamanya, Claire Foy (The Crown, Unsane, The Girl in the Spider's Web) yang kebintangannya tengah melejit sebagai pemain pendukung, dan Damien Chazelle yang konsisten panen pujian berkat Whiplash dan La La Land sebagai sutradaranya. Menurut Ulasan Sarah Szabo dari Looper, Berikut adalah 5 faktor yang menyebabkan kegagalan First Man di Box Office:

 

1. Persaingan Ketat Di Box Office

Mungkin jika dirilis di pekan-pekan sebelumnya, First Man akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memuncaki Box Office AS. Sayangnya, film ini meluncur di minggu yang kompetitif, di mana posisi pertama dan kedua sudah didominasi oleh dua jenis film yang sangat berbeda; tontonan antihero yang merupakan salah satu film paling ditunggu-tunggu di tahun ini (Venom). dan drama musikal yang mendapat pujian setinggi langit dari berbagai kritikus (A Star is Born).

Kompetisi Box Office AS, Oktober 2018

First Man yang menyajikan space drama sebenarnya lebih memiliki kesempatan bersaing dengan A Star is Born. Namun pemberitaan media yang lebih positif mengenai film Lady Gaga itu rupanya telah mengubur antisipasi terhadap First Man. Hal ini cukup ironis, mengingat pembicaraan mengenai First Man di awal tahun ini lebih ramai dibicarakan ketimbang proses pembuatan A Star is Born, karena banyak pihak kala itu masih skeptis dengan kepiawaian Lady Gaga di posisi aktris utama.

Namun setelah kedua film itu benar-benar premiere di Festival Film, terlihat jelas bahwa A Star is Born lebih mampu menyedot perhatian ketimbang First Man. Inilah titik balik yang membuat banyak penonton lebih penasaran dengan film musikal Lady Gaga, ketimbang film biografi Neil Armstrong yang menjagokan Ryan Gosling serta Damian Chazelle.

 

2. Sudah 'Dihadang' Halloween

Bulan Oktober memang biasanya ramai dengan film-film horor, mengingat ini adalah momen yang pas untuk memanfaatkan hiruk-pikuk perayaan Halloween di Amerika Serikat. Nah, First Man kemungkinan besar gagal mendapat atensi para penonton, karena tidak terlalu mendapat publisitas di tengah ramainya diskusi media mengenai Venom, A Star is Born, dan yang tak terduga, film Halloween.

Halloween memang baru rilis di bioskop-bioskop pada minggu ini. Namun, pembicaraan mengenai film itu sudah banyak beredar setelah diputar perdana di Festival Film Toronto. Halloween yang merupakan film horror slasher dan menjadi seri ke-11 dari sebuah franchise yang lebih banyak dihuni film-film kelas D, secara tak terduga direspon positif oleh para kritikus.

Film Halloween 2018

Media perfilman pun beramai-ramai mengekspos detail perilisan Halloween selama berhari-hari. Sementara itu, debut First Man di bioskop AS bahkan tidak muncul di Headline berbagai media ternama. Ditambah genre (dan tentunya judul) yang sudah tepat dengan nuansa Halloween saat ini, maka peluang film Halloween mengalahkan First Man tentunya semakin terbuka lebar.

 

3. Akhir Cerita Sudah Bisa Ditebak

Siapa yang tidak kenal Neil Armstrong? Hampir semua orang di dunia mungkin sudah pernah mendengar nama manusia yang pertama kali menjejakkan kakinya di bulan ini. Pendaratan Neil Armstrong diliputi dengan berbagai kisah kesuksesan, sehingga tentu saja penonton sudah tahu dengan akhir cerita yang akan diusung di First Man.

Meskipun tim kreatif film ini mencoba menambah aspek dramatis dari berbagai sudut, mereka tentu tak akan mengubah ending dari suatu film yang didasarkan pada salah satu momentum kesuksesan Amerika Serikat.

Akhir cerita First Man

Jika sudah demikian, lantas apa yang bisa membuat penonton terpikat untuk menyaksikannya?

Hal ini sebenarnya cukup tak adil, mengingat A Star is Born sendiri juga merupakan remake dari sebuah film yang sudah ada. Dengan demikian, akhir cerita yang ditawarkannya tentu tak akan mengejutkan bagi para penonton yang sudah pernah menonton film originalnya.

Akan tetapi, A Star is Born mampu menggambarkan pendekatan modern yang belum ada di film sebelumnya. Selain itu, drama musikal ini memberikan kisah perjuangan nan tragis yang mampu memberikan lebih banyak greget, ketimbang cerita First Man yang penuh konflik dan ketegangan di awal, tapi bisa ditebak akan berakhir dengan penuh kebahagiaan di bagian penghujung.

 

4. Terjegal Kontroversi

Tahukah Anda? Beberapa minggu sebelum dirilis perdana, First Man sebenarnya sempat didera skandal yang berawal dari pernyataan Ryan Gosling. Menurutnya, pencapaian Neil Armstrong yang dikisahkan di film ini bukan hanya menjadi pencapaian Amerika Serikat, tapi juga pencapaian bersejarah yang mewakili seluruh umat manusia.

Mendengar komentar tersebut, beberapa warga AS tidak sependapat karena menilai prestasi Armstrong adalah simbol prestasi Amerika Serikat saja. Akibatnya, mereka menuduh First Man tidak patriotik dan kurang nasionalis. Masalah kemudian semakin memanas setelah beberapa pihak mengklaim bahwa film ini tidak menampilkan bendera AS saat adegan pendaratan di bulan. Sentimen publik kala itu sempat memojokkan First Man sebagai film yang tidak direkomendasikan untuk ditonton.

Skandal First Man

Pada akhirnya, klaim mengenai ketiadaan bendera AS itu tak terbukti benar. Akan tetapi, image First Man sudah terlanjur tercoreng. Berbagai media yang tadinya semangat memberitakan skandal ini, juga tidak mau repot-repot menuliskan klarifikasi atas klaim palsu sebelumnya.

 

5. Tidak Ditargetkan Sebagai Film Laris

Sebagai film drama yang dibintangi dan disutradarai dengan figur-figur papan atas Hollywood, target utama First Man sedari awal sebenarnya sudah jelas: Untuk bersaing di Academy Awards. Karena itu, tak heran jika studio yang mendistribusikan riisnya, Universal, tidak melakukan promosi besar-besaran.

First Man pada dasarnya sudah mengantongi apa yang dibutuhkan untuk bisa berkompetisi di ajang penghargaan film, yakni respon positif dari kritikus. Jadi, Box Office yang bagus sebenarnya hanya menjadi pemanis yang tak wajib dicapai oleh film tersebut. Apabila keadaannya seperti demikian, lantas apakah kegagalan First Man di Box Office adalah suatu hal yang wajar?

Jawabannya tidak juga. Perlu diperhatikan bahwa First Man bukanlah film indie yang ditampilkan secara terbatas di bioskop-bioskop tertentu. First Man juga mengusung artis-artis top dan sutradara fenomenal yang filmnya berhasil menjadi sensasi global di tahun lalu. Universal bisa berkilah semau mereka, tapi tak dapat dipungkiri jika First Man telah menjadi film gagal di satu aspek, yaitu pendapatan yang mencerminkan selera penonton umum di bioskop.

First Man ditargetkan untuk berjaya di Oscar

Sarah Szabo bahkan memperkirakan jika film ini bakal kesulitan balik modal. Budget pembuatan First Man yang dipublikasikan adalah sebesar 59 juta Dolar AS. Namun angka itu belum memasukkan biaya marketing yang diperkirakan mencapai 30 juta Dolar AS. Dengan pendapatan pekan pertama yang baru mencapai 21.4  juta Dolar AS di bioskop domestik, dan prospek ke depan yang tidak terlalu bagus karena munculnya film Halloween, maka wajar saja jika banyak pihak mengkhawatirkan kemampuan film ini untuk mencapai break even.

Maka selanjutnya, satu-satunya harapan untuk First Man adalah pengakuan di berbagai ajang penghargaan. Apakah film ini mampu berjaya di Academy Awards seperti yang ditargetkan studionya? Kita tunggu saja pengumuman nominasi dan penghargaannya di awal tahun depan.

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi