5 Film Terbaik Eddie Redmayne Selain Fantastic Beasts

| Tidak ada komentar

5 Film Terbaik Eddie Redmayne Selain Fantastic Beasts

Nama Eddie Redmayne belakangan banyak dikenal sebagai pemeran Newt Scamander di film-film Fantastic Beasts. Namun sebenarnya, aktor ini sudah cukup lama berkarir dan membintangi berbagai film terkenal. Apa sajakah itu? Berikut adalah 5 film terbaik Eddie Redmayne (selain Fantastic Beasts) yang mungkin menarik perhatian Anda.

Lahir pada 6 Januari 1982 sebagai putra pasangan pebisnis, kecintaan Eddie Redmayne terhadap dunia entertainment sudah terpupuk sejak kecil. Ia bahkan satu sekolah dengan presenter kondang yang saat ini memandu acara The Late Late Show, yakni James Corden. Biarpun ingin meniti karir di dunia seni, Eddie ternyata memiliki latar pendidikan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Setelah lulus dari Eton College (sekolah Pangeran William), ia melanjutkan pendidikannya di University of Cambridge dan lulus sebagai sarjana History of Arts.

Eddie memulai debut akting secara profesional melalui dunia teater di tahun 2002. Tak tangung-tanggung, ia langsung menyabet penghargaan sebagai pendatang baru terbaik kala itu. Meski karirnya di dunia perfilman baru bermula di tahun 2006, tak butuh waktu lama bagi Eddie untuk memikat para sineas dengan talentanya. Hanya setahun setelah debutnya di layar lebar, ia digaet bermain di film-film besar seperti Savage Grace dan Elizabeth: The Golden Age.

Baca juga: Eddie Redmayne Dan Felicity Jones Reuni Di Trailer The Aeronauts

Kini, Eddie dikenal sebagai salah satu aktor muda paling brilian di generasi sekarang, dengan Piala Oscar, BAFTA, dan Golden Globe yang sudah berada di genggamannya. Daftar 5 film di bawah ini adalah bukti mengapa Eddie Redmayne lebih dari sekedar bintang film Blockbuster dari Fantastic Beasts.

 

1. The Theory of Everything

Film inilah yang mengantarkan Eddie Redmayne meraih Piala Oscar, juga berbagai penghargaan aktor terbaik dari beragam ajang bergengsi. Berperan sebagai Stephen Hawking yang merupakan seorang ilmuwan penyandang ALS, Eddie menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih mendapatkan aksen, pola berbicara, dan pola perilaku yang tepat dari Stephen Hawking.

Eddie Redmayne di The Theory of Everything

Kemampuan fisik Hawking yang terbatas juga menuntut Eddie untuk melakukan penyesuaian yang cukup pelik. "Saya harus berlatih menggerakkan tubuh saya seperti seorang penari, tapi alih-alih berupaya meregangkan otot, saya perlu membuatnya lebih kaku," kenang Eddie Redmayne saat ditanya tentang salah satu tipsnya mendalami peran Stephen Hawking.

Usaha dan kerja keras Eddie pun akhirnya terbayar manis. Film The Theory of Everything sukses di pasaran maupun di panel kritik. Dengan budget 15 juta Dolar AS, film yang juga dibintangi Felicity Jones tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan total sebesar 123.7 juta Dolar AS. The Theory of Everything juga diakui sebagai salah satu kandidat film terbaik 2014 di berbagai ajang penghargaan.

Menurut Lou Thomas dari British Film Institute, kegemilangan Eddie Redmayne di film tersebut tidak hanya tercermin pada kemampuannya memeragakan Stephen Hawking saat ia kesulitan bergerak, tapi juga pada caranya mengekspresikan pikiran dan perasaan hanya melalui pandangan. Kemampuan seperti ini memang sangat diperlukan, mengingat penyakit yang diderita Hawking pada akhirnya merenggut semua kemampuan motoriknya.

 

2. My Week with Marilyn

Tak banyak yang tahu jika 3 tahun sebelum hingar bingar The Theory of Everything, Eddie Redmayne sebenarnya telah mendapat pujian dari para kritikus melalui film berjudul My Week with Marilyn. Meskipun berskala indie, film tersebut dibintangi oleh aktris-aktris tenar seperti Michelle Williams dan Emma Watson. Film besutan Simon Curtis ini mengisahkan kilasan suka duka kehidupan seorang Marilyn Monroe, ketika ia berada di Inggris untuk syuting film The Prince and the Showgirl (1957).

Di sini, Eddie Redmayne berperan sebagai Colin Clark, seorang pemuda yang tengah merintis karir sebagai sutradara, tapi justru kemudian terlibat sebagai asisten Marilyn Monroe di Inggris. Clark pada akhirnya terjerat juga oleh pesona sang ikon fenomenal. Namun melalui gerak-gerik dan tutur kata Eddie Redmayne di sepanjang film, terlihat jelas bahwa Clark tidak hanya mengenali image Monroe yang sensual dan serba glamor, tapi juga menyukai sisi pribadinya yang sebenarnya polos dan sangat rapuh.

Eddie Redmayne di My Week with Marilyn

Pemahaman Clark terhadap karakter Monroe yang sebenarnya ini digambarkan dengan begitu memikat, meski pada akhirnya ketertarikan itu hanyalah tinggal angan-angan. My Week with Marilyn tidak sukses besar di Box Office karena hanya ditayangkan secara terbatas. Meski demikian, film ini mendapat pujian dari berbagai kritikus yang mengagumi performa Michelle Williams dan Eddie Redmayne. Saat artikel ini ditulis, film tersebut masih tercatat dengan skor Tomatometer 83% di Rotten Tomates.

 

3. The Danish Girl

Selain sebagai Stephen Hawking, peran menantang lain yang pernah dilakoni Eddie Redmayne adalah menjadi Lili Elbe. Ia merupakan salah satu transgender pertama yang melakukan operasi pergantian kelamin. Dari deskripsi ini, tentu sudah terbayang perubahan dramatis apa yang perlu dilakukan Eddie Redmayne untuk mendalami karakternya.

Eddie Redmayne di The Danish Girl

Digadang-gadang sebagai salah satu film yang bisa memikat dari segala sisi, sebagian besar pujian untuk The Danish Girl justru ditujukan pada para pemain utamanya. Eddie Redmayne berhasil membawakan pergolakan internal yang timbul dalam diri Lili ketika ia masih menjadi pria. Eddie juga dinilai sukses menyalurkan segala keresahan dan emosi-emosi lain yang menyelimuti Lili, baik sebelum maupun setelah ia menjalani operasinya.

The Danish Girl mendapat banyak publisitas karena tema cerita yang diangkat, dan waktu rilisnya yang hanya berselang setahun dari The Theory of Everything. Film ini memang tidak menjadi sensasi Box Office seperti film Eddie Redmayne sebelumnya, tapi tetap saja berhasil mengantarkan sang aktor kembali ke jajaran nominasi aktor terbaik di Oscar. Sayang. ia gagal memenangkan penghargaan tersebut untuk yang kedua kalinya. Meski demikian, The Danish Girl tetap membawa pulang satu kemenangan, yakni Piala Aktris Pendukung Terbaik untuk Alicia Vikander.

 

4. Les Misérables

Di dunia teater barat, Les Misérables merupakan salah satu judul pertunjukan paling mainstream yang sudah berulang kali dipentaskan. Ketika karya Victor Hugo ini diangkat ke layar lebar, Universal Pictures selaku studio distributor tak tanggung-tanggung dalam menargetkan skala pembuatannya. Tidak hanya dibintangi sekelompok bintang papan atas dan didukung Production Design yang benar-benar ciamik, film Les Misérables juga berlangsung dalam durasi 158 menit (hampir 4 jam).

Eddie Redmayne kebagian peran sebagai Marius Pontmercy, salah satu karakter pendukung yang baru muncul di paruh kedua film. Meski ia tidak mengisi pos pemain utama layaknya Hugh Jackman ataupun Russell Crowe, penampilan Eddie di film ini cukup diapresiasi oleh berbagai pengamat sebagai salah satu nilai positif dari Les Misérables. Ditambah lagi, film bergenre drama musikal ini membuktikan bahwa Eddie Redmayne juga memiliki kemampuan bernyanyi.

Eddie Redmayne di Les Miserables

Menariknya, Les Misérables yang rilis di tahun 2012 menjadi film besar Redmayne sebelum namanya mendunia lewat The Theory of Everything. Dengan budget sebesar 61 juta Dolar AS, film ini meraup total pendapatan sebesar 441.8 juta Dolar AS. Sama seperti ketiga film Redmayne sebelumnya, Les Misérables juga berhasil menghiasi berbagai nominasi di ajang-ajang penghargaan bergengsi. Puncaknya, film ini mendapatkan penghargaan tertinggi di Golden Globe Awards, memperoleh 8 nominasi di Academy Awards dan memenangkan 3 di antaranya, termasuk Best Supporting Actress untuk Anne Hathaway.

 

5. Elizabeth: The Golden Age

Terakhir, ada film drama sejarah yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai filmnya Cate Blanchett. Meski peran Eddie Redmayne di sini sangat kecil, ia tetap berhasil menampilkan performa meyakinkan sebagai Anthony Babington, seorang pemberontak yang mendapat amanat untuk mengeksekusi Ratu Elizabeth di sebuah gereja.

Film ini rilis di tahun 2007, jauh sebelum studio-studio besar Hollywood melirik Eddie Redmayne untuk mengisi peran di film sepenting Les Misérables. Meski demikian, kematangan penampilan Redmayne di film ini sudah menandakan potensinya sebagai bintang masa depan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Eddie Redmayne di Elizabeth: The Golden Age

Sayang, film ini gagal di Box Office dan tidak mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus. Meski demikian, Elizabeth: The Golden Age tetap memenangkan penghargaan dalam kategori desain kostum di Academy Awards. Selain itu, para pengamat rupanya tetap mengapresiasi performa Cate Blanchett, terlepas dari buruknya kualitas film ini secara keseluruhan. Buktinya, aktris berkebangsaan Australia itu terdaftar sebagai salah satu nominator Best Actress di Oscar lewat film ini.


Selain karena talentanya sebagai aktor, Eddie Redmayne juga banyak dikagumi karena kepribadiannya yang rendah hati. Di video ini, ia bisa menjelaskan lebih detail mengenai kesan-kesannya terhadap berbagai peran ikonik yang pernah ia lakoni, termasuk juga dari 5 film di atas:

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi