6 Tokoh Spider-Man Yang Muncul Di Into The Spider-Verse

| Tidak ada komentar

6 Tokoh Spider-Man Yang Muncul Di Into The Spider-Verse

Sony akan menghadirkan film animasi Spider-Man yang lain dari biasanya. Jika umumnya film superhero hanya berfokus pada satu tokoh utama, maka di film berjudul Into The Spider-Verse ini, akan muncul beberapa superhero dengan identitas serupa tapi tak sama. Bukan hanya Peter Parker yang selama ini kita kenal sebagai sosok di balik topeng Spider-Man, tapi akan ada pula Miles Morales, Gwen Stacy, dan 3 tokoh lain yang beraksi sebagai Spider-Man. Bagaimana bisa? Mari mengenal mereka lebih dekat.

Diluncurkan sebagai entitas terpisah dari film-film Spider-Man yang selama ini sudah ada, Into The Spider-Verse akan menyelami petualangan Miles Morales yang bertemu dengan Spider-Man lain karena terbukanya sebuah gerbang menuju dunia paralel. Konsep Multiverse ini mungkin sudah akrab jika Anda gemar menonton serial TV The Flash dan Arrow.

Namun buat Anda yang masih merasa kesulitan memahami tema dunia paralel, maka bayangkan saja jika dunia ini memiliki beragam versi realita yang berjalan secara terpisah. Karena itu, tak heran bila identitas Spider-Man dari realita ini dan realita lainnya bisa dipakai oleh figur-figur berbeda.

Baca juga: Into The Spider-Verse Ungkap Spider-Man Dari Berbagai Dunia

Dalam realita Into The Spider-Verse, Miles Morales adalah sosok Spider-Man yang akan kedatangan "tamu" berupa sejumlah Spider-Man dari dunia paralel lain. Secara umum, mereka yang akan tampil di film ini adalah Peter Parker, Spider-Man Noir, Spider-Ham, dan Spider-Gwen.

Seperti apa saja karakter, latar belakang, dan keunikan mereka?

 

1. Peter Parker (Spider-Man)

Siapa yang tak mengenal Peter Parker? Dari trilogi pertama, seri The Amazing Spider-Man, hingga franchise terbaru yang berkombinasi dengan MCU, ia selalu tampil sebagai karakter utama yang mengenakan kostum Spider-Man. Namun demikian, Into The Spider-Verse tak akan menampilkannya sebagai fokus utama. Ia justru menjadi salah satu sosok senior yang menjadi semacam mentor bagi Miles Morales.

Peter Parker

Diperankan oleh Jake Johnson, perwakilan Sony menegaskan bahwa versi Peter Parker yang akan muncul di film ini akan berbeda dari yang sudah ada. Meski demikian, beberapa cuplikan dalam trailer Into The Spider-Verse memperlihatkan bahwa Peter Parker di film ini juga mengalami kejadian-kejadian ikonik dari trilogi pertama Spider-Man yang dibintangi Tobey Maguire. Beberapa contohnya adalah adegan ciuman dengan Marry Jane dan aksi heroiknya menghentikan kereta api yang melaju tak terkendali.

Karenanya, banyak media berspekulasi bahwa Peter Parker di film ini akan menunjukkan kelanjutan nasib Spider-Man (versi Tobey Maguire) setelah film ketiganya yang rilis di tahun 2007. "Ini sudah bukan lagi pengalaman yang benar-benar baru. Ia telah mengalami banyak kegagalan, dan telah kehilangan banyak hal," ungkap Rodney Rothman, salah satu penulis Into The Spider-Verse, ketika ditanya mengenai sosok Peter Parker di film ini.

 

2. Miles Morales (Ultimate Spider-Man)

Dari sumber bahan adaptasinya, Miles Morales merupakan karakter yang sangat baru jika dibandingkan dengan Peter Parker. Brian Bendis dan Sara Pichell menciptakannya di tahun 2011, sebagai bagian dari versi modern komik Marvel yang kala itu tengah memasuki fase Ultimate Universe. Itulah mengapa, ia kemudian lebih dikenal sebagai Ultimate Spider-Man.

Miles Morales

Shameik Moore akan menjadi pengisi suara Miles Morales di film ini. Tidak seperti Peter Parker yang telah dewasa dan tampak sudah merasakan asam garam sebagai superhero, Miles tampil sebagai sosok anak sekolahan yang baru menjajal kekuatan supernya. Tak heran, kemunculan Peter Parker di dunianya bisa memberikan banyak pelajaran bagi Miles.

Pendekatan cerita ini sebenarnya jauh berbeda dari kisah Miles Morales dari komiknya. Meski sama-sama dilukiskan sebagai remaja kulit hitam, Miles Morales dalam versi komik terinspirasi menjadi Spider-Man setelah menyaksikan aksi heroik Peter Parker yang tewas dalam suatu pertempuran.

 

3. Gwen Stacy (Spider-Gwen)

Layaknya Peter Parker, sosok Gwen Stacy juga tak asing di kalangan penggemar Spider-Man. Di layar lebar, karakternya pertama kali muncul sebagai salah satu tokoh utama di The Amazing Spider-Man dan diperankan oleh Emma Stone. Nah, dalam Into The Spider-Verse, Gwen tidak akan tampil sebagai wanita pujaan Peter Parker, tapi sebagai sosok yang datang dari dimensi lain dan memiliki kekuatan serupa dengan Spider-Man.

Spider-Gwen

"Bagaimana jika bukan Peter Parker yang digigit oleh laba-laba radioaktif, melainkan Gwen Stacy?"

Ide tersebut pertama kali muncul ketika Dan Slott mengembangkan event Spider-Verse di tahun 2014. Penulis Jason Latour dan seniman komik Robbi Rodriguez kemudian merealisasikan ide tersebut, lalu membuat seri spin-off tersendiri untuk mengakomodasinya. Ketika desain karakter Gwen Stacy sebagai Spider-Man pertama kali beredar di internet, isunya langsung viral dengan hashtag #SpiderGwen. Dari situlah identitas tokoh ini mulai terbentuk.

Di film Into The Spider-Verse, Gwen Stacy akan disuarakan oleh Hailee Steinfeld. Sama seperti asal-usul yang tersaji di komiknya, Gwen merupakan seorang pelajar yang juga hobi bermain drum. Meski demikian, belum ada konfirmasi lebih lanjut apakah Spider-Gwen di film animasi ini juga mengalami pengalaman traumatis dengan kematian Peter Parker di dunianya. Jika Sony mengadaptasi elemen cerita ini juga, maka tentu akan ada dinamika menarik antara karakter Gwen Stacy dan Peter Parker yang datang dari realita lain di Into The Spider-Verse.

 

4. Peter Parker Dari Tahun 1930-an (Spider-Man Noir)

Di tahun 2009, Marvel pernah meluncurkan seri komik unik bertemakan noir (genre klasik yang biasanya ber-setting di era 1930-an hingga 1950-an). Mereka berupaya menciptakan ulang dunia superhero Marvel dengan latar suasana yang dilliputi kekacauan pada era The Great Depression.

Nah, Spider-Man versi noir dikembangkan oleh David Hine, Fabrice Sapolsky, dan Carmine DiGiandomenico, yang masih memasang Peter Parker sebagai tokoh di balik topeng Spider-Man. Menariknya, versi noir Spider-Man ini begitu populer dan disukai para penggemar setia Marvel. Tak pelak, karakter tersebut pun semakin diunggulkan di beberapa platform mainstream dalam beberapa waktu terakhir.

Spider-Man Noir

Selain kemunculan di Into The Spider-Verse yang disuarakan oleh Nicolas Cage, Spide-Man Noir juga tampil sebagai karakter utama di game PS4, serta dirumorkan mempengaruhi konsep kostum yang dikenakan Tom Holland di Spider-Man: Far From Home.

 

5. Peni Parker (SP//DR)

Sama seperti Spider-Gwen, SP//DR juga diciptakan secara khusus untuk mewarnai event Spider-Verse. Penampilan dan karakternya mungkin menyerupai tokoh anak perempuan dalam anime. Namun, aksi sangar yang bisa ia lakukan dengan kostum robotnya tak bisa dipandang sebelah mata.

Di sinilah keunikan Peni Parker yang tak dimiliki oleh Spider-Man lain; alih-alih menembakkan jaring laba-laba secara langsung dari tubuhnya, ia justru mengoperasikan semacam kostum cybernetic yang dirancang secara khusus untuknya. Tentu saja, kostum bernama SP//DR itu memiliki kemiripan kekuatan dengan Spider-Man.

Peni Parker

Di film Into The Spider-Verse, Peni Parker akan muncul sebagai anak berusia 9 tahun yang diperankan oleh Kimiko Glenn. Menurut latar cerita yang dikisahkan di komiknya, Peni diasuh oleh paman dan bibinya yang merupakan sepasang ilmuwan. Setelah kematian sang ayah saat mengoperasikan SP//DR, ia sepakat melanjutkan perjuangannya dan menjadi sosok pahlawan di balik kostum SP//DR. Tak tanggung-tanggung, Peni telah mengalahkan Mysterio dan Goblin versi baru di realitanya.

 

6. Peter Porker (Spider-Ham)

Karakter satu ini barangkali menjadi yang paling konyol dan sulit dipercaya kehadirannya. Namun meski sosoknya mirip seperti karakter animasi dalam seri Looney Tunes, karakter Spider-Ham tampak tak kesulitan mensejajarkan dirinya dengan figur Spider-Man lain.

Disuarakan John Mulaney, Spider-Ham tampak memiliki sarkasme dan sisi komedi yang kemungkinan banyak mengundang tawa. Menariknya, karakter ini merupakan salah satu kreasi Marvel yang memiliki latar belakang cukup masuk akal.

Spider-Ham

Dirancang oleh Tom DeFalco dan Armstrong, tokoh bernama asli Peter Porker ini merupakan salah satu percobaan ilmuwan May Porker, yang memberinya paparan radiasi ketika ia masih 100% berwujud laba-laba. Hasil mutasi yang terjadi setelahnya kemudian membuat Porker berevolusi sebagai laba-laba setengah babi, yang bisa berbicara dan memiliki kekuatan layaknya Spider-Man.

Peter Porker sering muncul dalam berbagai komik parodi. Sama seperti namanya yang dimodifikasi untuk keperluan komedi, berbagai tokoh yang muncul dalam seri komiknya pun juga diplesetkan dari tokoh Marvel lainnya; ia terhitung pernah melawan Doctor Octopussy, dan berjuang bersama superhero lain seperti Captain AmeriCat serta The Goose Rider. Di luar dugaan, Spider-Ham mampu menarik banyak perhatian dan cukup digemari para fans Marvel. Sebelum kehadiran Spider-Gwen, ia bahkan sempat direncanakan menjadi figur utama dalam seri Spider-Verse.

 

Sudah Diapresiasi Kritikus

Saat artikel ini ditulis, Into The Spider-Verse baru akan premiere sekitar dua minggu lagi. Akan tetapi, embargo Social Media dan rating kritikus untuk film ini sudah diangkat sejak beberapa hari lalu. Hasilnya? Into The Spider Verse tercatat berhasil menuai banyak pujian dari para pengamat yang mendapat kesempatan khusus untuk menghadiri screening awalnya.

Konsensus kritik di situs Rotten Tomatoes mengungkapkan bahwa film ini berhasil menyesuaikan alur cerita yang berkesan dengan animasi menakjubkan, sehingga bisa menciptakan tontonan penuh petualangan yang mengena di hati, lucu, dan sarat adegan action seru. Hebatnya, film ini masih bertahan dengan skor Tomatometer 100% dan Average Rating 9 dari 10, ketika jumlah ulasannya sudah mencapai 50 review.

Rating Into The Spider-Verse

Maka dari itu, tak heran jika film ini sudah mendapatkan kampanye Oscar untuk kategori film animasi terbaik, bersanding dengan Incredibles 2 dan Ralph Breaks The Internet.

Tag:

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi