8 Film Top Yang Gagal Tembus Nominasi Oscar 2019

| Tidak ada komentar

8 Film Top Yang Gagal Tembus Nominasi Oscar 2019

Semenjak diumumkan beberapa pekan yang lalu, nominasi Oscar 2019 terus menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar film. Bukan hanya karena menyediakan satu tempat bagi Black Panther di kategori Best Picture, tapi juga melewatkan berbagai film terbaik 2018 yang menurut penilaian banyak pihak layak mendapat tempat di nominasi Oscar 2019. Apa sajakah contohnya? Berikut adalah 8 film top 2018 yang sepatutnya dinominasikan dalam perhelatan Academy Awards tahun ini.

8. Won't You Be My Neighbor?

Kategori Ideal: Best Documentary

Dibuat oleh Morgan Neville, Won't You Be My Neighbor? merupakan film dokumenter yang menampilkan kehidupan Fred Rogers, seorang publik figur populer yang sangat dikagumi di Amerika Serikat. Tidak hanya pantas dinominasikan dalam kategori Best Documentary, film ini juga dianggap layak memenangkan piala Oscar dalam hal itu. Kritikus berpendapat jika film ini mengandung filosofi Mr. Rogers yang jujur, menyentuh, dan relevan bagi orang-orang dari berbagai generasi.

Won't You Be My Neighbor?

Sayangnya, film ini tak mampu berkompetisi dengan film-film dokumenter lain yang secara resmi diumumkan dalam nominasi Oscar tahun ini, yaitu Free Solo, Hale County This Morning, This Evening, Minding The Gap, Of Fathers and Sons, dan RBG. Bahkan menurut survei Fandango, tidak masuknya Won't You Be My Neighbor? merupakan hal yang paling disesalkan dalam pengumuman nominasi Oscar 2019.

Baca juga: 15 Film Terbaik Dekade Ini Yang Lolos Dari Radar Oscar

Kabar baiknya, para pendukung film ini bisa berharap pada film biopik Fred Rogers yang dibintangi oleh Tom Hanks. Sinema berjudul A Beautiful Day in the Neighborhood itu akan meluncur tahun ini, dan sudah digadang-gadang bisa menjadi kontender Oscar tahun depan.

 

7. Eighth Grade

Kategori Ideal: Original Screenplay

Eighth Grade mungkin bukanlah film high profile seperti A Star is Born atau Bohemian Rhapsody, tapi film besutan Bo Burnham ini memiliki kekuatan narasi yang sanggup mengantarkannya dalam nominasi Writers Guild Awards. Sekilas, film ini tampak seperti drama remaja biasa yang mengisahkan anak jaman now dalam menghadapi problematikanya. Namun, Bo Burnham sukses mengemasnya dalam sajian yang menarik, solid, dan relatable, sehingga mengundang decak kagum dari para kritikus yang memberikan rating 99% di Rotten Tomatoes.

Eighth Grade

Bagaimanapun juga, Lady Bird yang tahun lalu mendapat banyak nominasi Oscar juga bergenre drama remaja. Karena itu, beberapa pihak menilai jika tidak masuknya Eighth Grade dalam nominasi tahun ini adalah hal yang tidak adil. Tampaknya, studio film yang menaungi Eighth Grade memang sedari awal tidak mempromosikannya sebagai film Oscar, terbukti dari kurangnya publisitas dan waktu rilis yang diplot di awal tahun lalu.

 

6. Beautiful Boy

Kategori Ideal: Supporting Actor

Secara keseluruhan, film yang diadaptasi dari buku non-fiksi ini memang bukanlah sajian luar biasa. Beautiful Boy justru banyak dikritik karena susunan ceritanya yang bermasalah. Namun, film ini memiliki kelebihan yang mampu bersinar mengalahkan kritikan para pengamat, yakni dari segi akting pemainnya; Steve Carrell dan Timothée Chalamet sangat maksimal dalam memberikan performa terbaik mereka.

Ketika nama Timothée Chalamet dicatut dalam nominasi Golden Globe Awards 2019, banyak pihak memprediksikan jika ia akan mendapat nominasi Oscar keduanya di tahun ini. Sebagai informasi, Chalamet menjadi salah satu aktor termuda yang dinominasikan sebagai aktor pendukung terbaik tahun lalu, melalui film Call Me by Your Name.

Beautiful Boy

Namun kenyataannya, tahun ini ia justru tak masuk dalam kategori Supporting Actor seperti yang diharapkan. Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat performanya sebagai pecandu narkoba yang berusaha lepas dari pengaruh obat-obatan terlarang memukau banyak pengamat. Apalagi, film ini bersumber dari kisah nyata, sehingga memiliki nilai inspiratif yang tak dapat dipandang sebelah mata.

 

5. Widows

Kategori Ideal: Supporting Actress, Supporting Actor

Di atas kertas, Widows terlihat sebagai film yang sudah pasti masuk nominasi Oscar; dihuni jajaran pemain top dan disutradarai Steve McQueen yang film besutan terakhirnya mendapat piala Best Picture. Namun entah mengapa, Widows gagal mendapat hasil sesuai ekspektasi, meski secara kualitas, film ini masih diakui kehebatannya oleh para pengamat.

Bercerita tentang aksi perampokan yang direncanakan dan dieksekusi oleh sekelompok janda, Widows banyak disebut-sebut sebagai Ocean's Eleven versi serius. Film ini debut di Festival Film Toronto pada September 2018, dan langsung mendapat apresiasi positif dari segi penyutradaraan, narasi, dan performa para pemainnya. Viola Davis yang menjadi pemain utama film ini, secara khusus menjadi yang paling menonjol dan digadang-gadang mampu bersaing dalam kategori Supporting Actress.

Widows

Sayangnya, meski mendapat nominasi di BAFTA Awards, Davis dan film Widows secara keseluruhan tak kebagian nominasi sama sekali di pesta Oscar 2019. Padahal menurut James Hunt dari Whatculture, Viola Davis bisa dengan mudah bersaing melawan Amy Adams (Vice), Marina de Tavira (Roma), Regina King (If Beale Street Could Talk), Emma Stone (The Favourite), dan Rachel Weisz (The Favourite). Perwakilan dari film Roma banyak dipojokkan sebagai kontender yang tidak selayaknya masuk dalam nominasi Oscar tahun ini.

Selain Viola Davis, Daniel Kaluuya yang tahun lalu melejit lewat Get Out dan muncul dalam Black Panther juga memberikan performa ciamik di Widows. Menurut penilaian para pengamat, standar penampilan Kaluuya seharusnya bisa mengantarkan aktor tersebut untuk kembali mendapat nominasi dari Academy Awards.

 

4. Annihilation

Kategori Ideal: Sound Mixing, Sound Editing, Original Score, Visual Effects, Cinematography

Film yang digawangi oleh Natalie Portman ini memicu banyak pro kontra selepas rilisnya di awal tahun silam. Mereka yang pro menganggap Annihilation merupakan karya cerdas dari sutradara Alex Garland yang benar-benar maksimal dalam memanfaatkan hal-hal teknis untuk menciptakan nuansa sci fi horor. Namun beberapa pihak yang kontra berpendapat jika film ini agak sulit dicerna dan kurang bisa menghadirkan sesuatu yang substansial.

Terlepas dari perdebatan tersebut, penghargaan untuk kepiawaian Alex Garland dalam menyempurnakan faktor-faktor teknis di Annihilation tampaknya telah diamini secara universal. Bagaimanapun juga, hal itu lebih membutuhkan penilaian yang objektif ketimbang preferensi masing-masing penonton. Oleh karena itu, tak heran jika film ini dianggap layak mendapat nominasi di kategori-kategori teknis seperti Sound Mixing, Sound Editing, Original Score, Visual Effects, dan Cinematography.

Annihilation

Annihilation sendiri bercerita tentang petualangan sekelompok ilmuwan yang menelusuri Area X, sebuah zona misterius yang sebelumnya telah menelan korban jiwa. Dalam merealisasikan sisi misterius itu, Garland menggunakan komposisi efek suara dan visual yang begitu solid, hingga berhasil menghidupkan kengerian-kengerian yang menghuni Area X.

 

3. Mission: Impossible - Fallout

Kategori Ideal: Sound Editing, Sound Mixing, Film Editing, Director

Jika film Blockbuster seperti Black Panther saja bisa mendapatkan 7 nominasi Oscar, mengapa tidak dengan Mission: Impossible - Fallout yang menjadi salah satu film dengan rating tertinggi di tahun 2018? Comeback Tom Cruise dkk. lewat sajian action ini begitu menggebrak di musim panas tahun lalu.

Dipenuhi dengan plot twist dan adegan-adegan yang menghibur dari awal hingga akhir, Mission: Impossible - Fallout berhasil menjadi film action terbaik tahun lalu di Critics' Choice Movie Awards, mengalahkan Black Panther dan Avengers: Infinity War. Penghargaan itu menjadi sandingan manis dalam daftar prestasi Mission: Impossible - Fallout dari segi Box Office.

Mission: Impossible - Fallout

Keistimewaan film ini terdapat pada penggunaan Sound yang efektif di berbagai adegan action, juga teknik editing dan penyutradaraan yang diatur dengan sedemikian rupa oleh editor Eddie Hamilton, serta sutradara Christopher McQuarrie.

Beberapa tahun lalu, film action Mad Max: Fury Road tidak hanya mendapat nominasi, tapi juga menyapu bersih penghargaan Oscar di kategori teknis. Jadi ketika Mission: Impossible - Fallout yang saat ini sudah dianggap sebagai salah satu film action terbaik sepanjang masa tak mendapat kesempatan yang sama, banyak pihak mempertanyakan kredibilitas Oscar dalam memilih film-film kontendernya.

 

2. Paddington 2

Kategori Ideal: Best Supporting Actor, Costume Design, Visual Effect

Di era film superhero yang mengunggulkan sajian-sajian adaptasi buku komik, film drama keluarga mungkin kurang mendapat tempat di kalangan Audience saat ini. Namun Paddington 2 berhasil menjadi pengecualian, terbukti dari kesuksesan Box Office yang sebesar 226.9 juta Dolar AS secara global.

Tidak hanya itu, film yang dibintangi Hugh Bonneville, Sally Hawkins, dan Ben Wishaw ini juga mendapat apresiasi tinggi dari para kritikus; statusnya sebagai film dengan rating terbaik sepanjang masa di Rotten Tomatoes sudah bisa menjadi bukti valid.

Paddington 2

Dilihat dari pencapaian luar biasanya, Paddington 2 tentu bukanlah film sembarangan. Meskipun cenderung ringan karena bergenre drama komedi keluarga, film ini bahkan sanggup bertahan dari huru-hara skandal Harvey Weinstein, yang sempat membuat Paddington 2 dilelang ke berbagai studio.

Sayangnya, Academy tidak melihat daya saing film ini dari berbagai segi, meski penampilan Hugh Grant sebagai tokoh antagonis layak mengantarkannya di nominasi Supporting Actor, begitu pula dengan desain kostum dan efek visual yang sama-sama istimewa.

 

1. Hereditary

Kategori Ideal: Best Actress

Tidak seperti tahun lalu, Academy tampaknya sedikit "berhemat" dengan pengakuannya terhadap genre horor. A Quiet Place hanya mendapat satu nominasi, sementara Hereditary bahkan tak mendapat nominasi sama sekali. Padahal, dua film itu sama-sama menjadi sensasi yang hingga saat ini masih diperbincangkan.

Dalam kasus Hereditary, Toni Collette sang aktris utama bisa dikatakan kecolongan, karena performanya dinilai sangat mampu bersaing dengan 5 bintang yang mendapat nominasi Oscar tahun ini, yaiu Yalitza Aparicio (Roma), Glenn Close (The Wife), Olivia Colman (The Favourite), Lady Gaga (A Star is Born), dan Melissa McCarthy (Can You Ever Forgive Me?).

Sebagai artis veteran yang bisa diandalkan untuk menyampaikan performa dramatis, Toni sukses menampilkan breakdown karakternya, juga berbagai emosi yang perlu ditampilkan untuk menerjemahkan ketakutannya, tanpa perlu bertindak terlalu berlebihan. Beberapa pengamat bahkan menilai jika penampilan Toni Collette di Hereditary merupakan salah satu yang terbaik di sepanjang karirnya.

Hereditary

Usut punya usut, A24 selaku distributor dikabarkan tidak mempromosikan Hereditary di musim penghargaan. Rilis film ini juga dijadwalkan di awal tahun (Festival Film Sundance), yang mengindikasikan bahwa A24 memang tidak berambisi mengantarkannya dalam pertarungan Oscar 2019. Hal ini mungkin menjadi biang penyebab hilangnya Hereditary dari radar Academy saat menyeleksi daftar nominasi mereka di tahun ini.


Daftar di atas ditampilkan dengan beberapa perubahan dari tulisan James Hunt di Whatculture. Jika menurut pertimbangan Anda sendiri, film mana yang paling kecolongan dalam nominasi Oscar 2019?

Tag: , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi