10 Film Pemenang Best Picture Paling Kontroversial

| Tidak ada komentar

10 Film Pemenang Best Picture Paling Kontroversial

Tak diragukan lagi, kategori Best Picture merupakan penghargaan utama dalam ajang Academy Awards atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Piala Oscar. Namun nyatanya, Academy pernah beberapa kali dinilai membuat "kesalahan" dalam menentukan pemenang Best Picture, hingga menimbulkan kontroversi besar di kalangan pemerhati film dunia.

Beragam alasan bisa melatarbelakangi kontroversi tersebut, mulai dari pemenang Best Picture yang tidak layak mendapatkan Piala karena dinilai mengalahkan film lain yang jauh lebih diunggulkan, tuduhan adanya agenda tersendiri dari pihak Academy, hingga kepentingan politik yang dianggap melatarbelakangi keputusan para voter. Ya, bahkan Academy yang notabene terdiri dari orang-orang perfilman pun tak lepas dari pandangan politik.

Mengingat penyabet gelar Best Picture tahunan hampir sama dengan mendapatkan gelar Film Terbaik dari acara paling prestisius dalam dunia perfilman, maka "kesalahan" Academy dalam menunjuk peraih Best Picture tentu akan menjadi hal yang sangat disesalkan.

Lantas, apa sajakah 10 film pemenang Best Picture yang kontroversial tersebut?

Baca juga: Daftar Pemenang Oscar 2019 Dan Kontroversi Yang Meliputinya

10. Dances with Wolves

Dances with Wolves

Dances with Wolves memang film bagus; salah satu film terbaik Kevin Costner sebelum ia "terjebak" bermain di film-film gagal seperti Robin Hood: Prince of Thieves dan Waterworld. Namun menurut sebagian besar pengamat kala itu, Dancing with Wolves tidak cukup bagus untuk mengalahkan Goodfellas dalam perebutan gelar Best Picture. Goodfellas sendiri merupakan film mafia garapan Martin Scorsese yang dibintangi Robert De Niro, Ray Liotta, dan Joe Pesci.

 

9. Around the World in 80 Days

Around the World in 80 Days

Dirilis pada tahun 1957, Around the World in 80 Days akrab dikenal sebagai salah satu pemenang Best Picture yang "tidak layak" mendapatkan anugerahnya. Film ini tidak hanya tercatut dalam daftar media Looper, tapi juga majalah Time di artikelnya mengenai pemenang Best Picture paling kontroversial.

Alasannya tak jauh berbeda dengan kritikan yang ditambatkan pada kemenangan Dances with Wolves; film ini tak layak mengalahkan film-film lain yang jauh lebih diunggulkan. Dalam kategori Best Picture kala itu, Around the World in 80 Days memang bersaing dengan The Ten Commandments dan The King and I yang lebih difavoritkan untuk menggondol gelar Film Terbaik.

 

8. Shakespeare in Love

Shakespeare in Love

Keberhasilan Shakespeare in Love mengalahkan Saving Private Ryan dalam Piala Oscar 1999 memicu banyak kemarahan, yang tidak hanya diekspresikan oleh berbagai artikel di media, tapi juga ribuan esai untuk menganalisa situasi "janggal" tersebut. Hingga saat ini pun, banyak pihak masih belum dapat mencerna, bagaimana sebuah film perang yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi Tom Hanks serta Matt Damon, bisa dikalahkan oleh film romantis macam Shakespeare in Love yang mengunggulkan Gwyneth Paltrow.

Menurut spekulasi berbagai kalangan, kemenangan Shakespeare in Love yang kontroversial ada kaitannya dengan "bujukan" Harvey Weinstein selaku direktur studio yang mendistribusikan film tersebut. Manipulasi Weinstein dirumorkan sudah menjadi rahasia umum di antara pelaku dunia perfilman, tapi tak ada yang bertindak karena pengaruh sang figur yang terlalu besar. Baru ketika skandal pelecehan seksualnya terungkap beberapa waktu lalu, banyak artis hingga kru buka suara soal kebejatan-kebejatan yang dilakukan Harvey Weinstein.

 

7. Forrest Gump

Kontroversi Forrest Gump

Film ini memang populer di kalangan Audience hingga kini, terutama dengan pepatahnya yang tak lekang oleh waktu: "Life’s like a box of chocolates". Bagi para penonton yang belum mengenal atmosfir dunia perfilman di tahun 1994 hingga 1995, mungkin akan mengira jika Forrest Gump memang pantas mendapat Piala Best Picture.

Namun sebenarnya, film ini bersaing ketat dengan dua film lain yang tak kalah fenomenal kala itu, yakni The Shawshank Redemption dan Pulp Fiction. Dan dilihat dari reaksi negatif yang datang dari kemenangan Forrest Gump, bisa dikatakan jika film yang dibintangi Tom Hanks ini menjadi yang paling tidak dijagokan. Ceritanya mungkin akan berbeda jika Forrest Gump dirilis di tahun lain, karena perkara ini tampaknya lebih berakar dari banyaknya film-film berkualitas tinggi yang dirilis di tahun 1994.

 

6. Kramer vs. Kramer

Ditinjau dari kekuatan para pemainnya yang terdiri dari Meryl Streep dan Dustin Hoffman, Kramer vs. Kramer sekilas menjadi film yang memang layak mendapat penghargaan Film Terbaik. Namun ternyata, kemenangan tersebut menjadi dipermasalahkan karena mengesampingkan film lain yang tak kalah hebat, yaitu Apocalypse Now garapan Francis Ford Coppola (sutradara trilogi The Godfather).

Meski Kramer vs. Kramer memiliki nilai-nilai sosial dan kekeluargaan yang ditawarkan untuk bisa diresapi para penontonnya, Apocalypse Now hingga kini masih menjadi salah satu film berpengaruh yang banyak direferensikan oleh sineas-sineas berprestasi; membuktikan bahwa Apocalypse Now memang lebih pantas memenangkan Best Picture kala itu.

 

5. Rocky

Kontroversi film Rocky

Tak jauh berbeda dari film-film sebelumnya, Rocky juga menjadi film pemenang Best Picture yang kontroversial karena sanggup mengalahkan pesaing-pesaing lain yang lebih diunggulkan. Dalam kasus ini, dua sinema tersebut adalah All The President's Men dan Taxi Driver.

Namun dengan seiring berjalannya waktu, Rocky berhasil membuktikan diri sebagai film yang setidaknya berkesan di benak para penonton. Film tersebut sukses besar hingga diikuti 7 sekuel. Seri ketujuhnya, Creed, bahkan berhasil dinominasikan kembali di Oscar meski "hanya" dalam kategori Best Supporting Actor untuk Sylvester Stallone.

 

4. The English Patient

The English Patient

Satu lagi film romantis yang secara mengejutkan sukses menjuarai kategori Best Picture adalah The English Patient. Kelayakan film ini menjadi bahan perdebatan karena kualitasnya dinilai tak sepadan dengan Fargo dan Jerry Maguire yang menjadi kompetitor utamanya. Barangkali, kontroversi inilah yang memberikan keberanian bagi para penulis skenario di serial televisi Seinfeld, untuk menjadikan The English Patient sebagai bahan leluconnya yang paling ikonik.

 

3. How Green Was My Valley

How Green was My Valley

How Green Was My Valley adalah film drama adaptasi yang diluncurkan pada tahun 1941. Berkisah tentang keluarga penambang di Wales, film yang disutradarai John Ford ini mendapat 10 nominasi di Academy Awards. Kemenangannya dalam kategori Best Picture menjadi kontroversial karena mengalahkan Citizen Kane, sinema yang hingga saat ini dikenal sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.

Menurut Halley Hudson dari Looper, How Green Was My Valley bukanlah merupakan film yang buruk, tapi relatif tak setara dengan Citizen Kane yang memiliki pengaruh besar dan masih diingat sampai lebih dari setengah abad setelah rilisnya. Menurut spekulasi yang ramai beredar, Citizen Kane kala itu memang banyak mendapat "blokiran" dari William Randolph Hearst, taipan media yang digambarkan di film itu sebagai sosok ambisius nan penuh cela.

 

2. The King's Speech

The King's Speech

Didasarkan pada kisah perjuangan nyata Raja George VI dalam mengatasi kegagapannya, The King's Speech boleh jadi menawarkan tontonan penuh nostalgia dan inspirasional. Film ini pun dibintangi oleh sederet bintang papan atas seperti Colin Firth, Helena Bonham Carter, dan Geoffrey Rush.

Sayangnya, hal itu saja tidak cukup untuk membuat banyak kalangan mengamini gelar Best Picture yang berhasil disabetnya. Hal itu karena secara sinematik, The Social Network yang ditulis Aaron Sorkin dan disutradarai David Fincher dianggap lebih layak mendapat anugerah Film Terbaik.

 

1. Crash

Kontroversi Crash di Oscar

Jika ditanya mengenai Oscar Snub paling populer sepanjang masa, hampir semua media perfilman Hollywood akan memasukkan Crash dalam daftar mereka. Film yang mengungkit masalah rasisme ini dinilai kurang memiliki substansi, dan hanya dipilih karena para voter di Academy kurang berani memenangkan Brokeback Mountain yang nyata-nyata dibuat dengan kualitas lebih baik. Sebabnya tak lain adalah tema LGBT yang diangkat Brokeback Mountain.

Ketidaklayakan Crash dalam meraih Best Picture tidak hanya diperbincangkan para pengamat, tapi juga diamini oleh sutradaranya sendiri, Paul Haggis. Bahkan, sebuah polling spesial yang digelar dengan anggota Academy pada tahun 2015 lalu ternyata lebih mengunggulkan Brokeback Mountain untuk memenangkan Best Picture ketimbang Crash.


Sekedar informasi, selain sepuluh film di atas, ada pula beberapa film pemenang Best Picture lain yang dianggap kontroversial, yaitu The Great Ziegfeld, Ordinary People, dan Driving Miss Daisy.

Untuk Oscar 2019, Roma menjadi favorit para kritikus untuk memenangkan Best Picture. Namun, beberapa pengamat sudah ada yang mengantisipasi jika Bohemian Rhapsody atau The Star Is Born bisa membuat kejutan. Selain itu, Green Book, BlacKkKlansman, Vice, dan The Favourite juga memiliki keunggulan masing-masing.

Menurut Anda, apakah Oscar tahun ini akan memberikan penghargaan Best Picture ke pemenang yang selayaknya, atau justru mempersembahkan gelar tersebut ke film tak terduga?

Tag: ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi