10 Fakta Oscar 2019 Yang Menimbulkan Pro Kontra

| Tidak ada komentar

10 Fakta Oscar 2019 Yang Menimbulkan Pro Kontra

Piala Oscar digelar untuk yang ke-91 kalinya di akhir Februari 2019. Setiap tahun selalu ada hal baru yang membuat publik dan media senantiasa mengantisipasi ajang penghargaan yang secara formal dikemas sebagai Academy Awards ini. Jika pada tahun lalu ada 10 rekor yang terpecahkan di Oscar 2018, lalu bagaimana dengan tahun ini?

Meski ada beberapa pencapaian baru yang mengesankan, Oscar 2019 sayangnya diselimuti oleh berbagai kontroversi. Berbagai ujaran mengenai Academy Awards tahun ini pun dilontarkan oleh berbagai kalangan, bukan hanya oleh penggemar film, tapi juga para sineas dan aktor ternama yang tak segan mengekspresikan protes mereka.

Sebenarnya, apa saja pro kontra yang meliputi gelaran Oscar 2019?

1. Kategori Best Popular Film Dibatalkan

Best Popular Film

Ini barangkali merupakan isu yang paling awal muncul dari Academy Awards ke-91. Diumumkan pada pertengahan tahun lalu, rencana pengadaan kategori Best Popular Film langsung menuai protes keras dari sebagian besar pecinta film dan pelaku industri Hollywood.

Baca juga: 15 Film Terbaik Dekade Ini Yang Lolos Dari Radar Oscar

Meski beberapa aktor seperti Mark Wahlberg tidak merasa keberatan, nominasi ini dianggap semakin merendahkan daya saing film-film populer di kategori utama seperti Best Picture, Best Actor, Best Screenplay (Original maupun Adapted), dan semacamnya.

Hal ini ironis, mengingat tujuan utama Academy menambahkan nominasi ini adalah untuk merespon tanggapan banyak penggemar yang mengeluhkan eksklusifitas Piala Oscar untuk film-film favorit kritikus saja, bukan film yang digemari penonton secara umum.

Tampaknya, apa yang diinginkan publik adalah pengakuan Academy untuk mensejajarkan film-film Blockbuster dengan film "tipikal Oscar" di kategori yang sama.

Tak ingin membuat masalah berlarut-larut, Academy langsung membatalkan kategori ini hanya sebulan setelah mengumumkan rencana penambahannya. Padahal, banyak media sudah berama-ramai membuat prediksi mengenai film mana saja yang bakal masuk nominasi Best Popular Film tahun ini.

 

2. Digelar Tanpa Pembawa Acara

Kevin Hart

Selain film-film dan artis yang dinominasikan, pembawa acara Oscar juga menjadi sorotan karena mengemban misi penting untuk mencairkan suasana sembari mempertahankan formalitas Academy awards.

Mereka yang dianggap gagal selalu dihujat habis-habisan, sementara yang berhasil akan dipuji setinggi langit. Dalam beberapa tahun terakhir, Chris Rock, Ellen DeGeneres, dan Jimmy Kimmel relatif sukses membawakan Academy Awards.

Pada awal Desember lalu, Kevin Hart (Jumanji: Welcome to the Jungle) ditunjuk sebagai pembawa acara Oscar 2019, dan Academy pun dengan gembira mengumumkannya. Namun tak disangka, berita ini memicu kritikan pedas para warganet karena Hart rupanya pernah mengunggah tweet bernada anti-LGBT. Sebelum protes ini berujung pada aksi boikot, Kevin Hart yang awalnya cuek-cuek saja segera meminta maaf dan memilih mundur.

Masalah tidak selesai sampai di situ, karena Academy ternyata masih mempertimbangkan untuk mengundang Hart kembali. Hal ini terungkap dari acara Ellen DeGeneres yang mendukung posisi Kevin Hart. Bukannya melunak, publik justru makin antipati dengan sosok Kevin Hart.

Karena waktu untuk mencari pembawa acara baru yang sudah semakin terbatas, Academy akhirnya memutuskan untuk melangsungkan acara tahun ini tanpa MC sama sekali. Sebaliknya, artis-artis yang sudah ditunjuk sebagai penyiar penghargaan di berbagai kategori akan memandu acara secara bergiliran.

 

3. Film Netflix Akhirnya Masuk Nominasi Best Picture

Film Netflix di Best Picture

Setelah beberapa tahun terakhir konsisten mengirimkan wakil-wakilnya di nominasi bergengsi lain, Netflix akhirnya sukses mengantarkan filmnya di kategori Best Picture. Adalah Roma, film arahan Alfonso Cuaron yang tahun ini menyabet nominasi Oscar terbanyak bersama The Favourite. Tidak hanya masuk kategori Best Picture, film itu juga menjadi yang paling dijagokan di antara nominator Best Picture lainnya.

Ini merupakan prestasi tersendiri bagi penyedia layanan streaming seperti Netflix. Namun sayangnya, tak semua pihak gembira dengan pencapaian tersebut. Golongan yang berpandangan konservatif menganggap film-film Netflix tak layak dinominasikan karena tidak dirilis di bioskop-bioskop. Padahal, kondisi itu sudah lama menjadi salah satu syarat bagi sebuah film untuk masuk nominasi Academy Awards.

Opini tersebut bahkan sempat menyeruak dan mengancam eksistensi film-film Netflix di gelaran Oscar tahun depan. Untungnya, wacana ini belum benar-benar dipertimbangkan secara serius oleh Academy, karena sejauh ini, kualitas film-film Netflix yang dikampanyekan di musim penghargaan memang terlalu bagus untuk diabaikan begitu saja.

 

4. Black Panther Nikmati Hasil Perjuangan The Dark Knight

Black Panther nikmati perjuangan The Dark Knight

Salah satu kontroversi yang paling banyak diperbincangkan pasca pengumuman nominasi Oscar 2019 adalah masuknya Black Panther dalam perebutan gelar Best Picture. Film ini memang bagus, tapi dianggap tak selevel dengan film-film lain yang biasanya masuk di kategori Best Picture.

Terlepas dari tanggapan tersebut, tak dapat dipungkiri jika Black Panther berhasil mengukir sejarah sebagai film superhero pertama yang mendapat nominasi Best Picture. Namun tahukah Anda? Hal ini bisa terjadi karena peran The Dark Knight 10 tahun lalu. Kok bisa?

Usut punya usut, The Dark Knight yang pada tahun 2008 lalu membuat gebrakan sebagai film superhero berkualitas, tak masuk dalam nominasi Best Picture. Hal ini kemudian memicu amarah publik dan media, yang akhirnya menggerakkan Academy untuk menambah jumlah film dalam kategori Best Picture.

Dengan kata lain, Academy melebarkan kapasitas nominator Best Picture untuk memberikan ruang bagi film-film dari genre populer seperti The Dark Knight, agar bisa ikut bersaing dengan sinema drama dan indie.

Nah, Black Panther menjadi film superhero pertama yang berhasil diuntungkan oleh perubahan aturan tersebut. Cukup disayangkan memang, mengingat banyak pihak menilai jika The Dark Knight jauh lebih layak mendapat nominasi tersebut ketimbang Black Panther.

 

5. Baru Debut, Yalitza Aparicio Langsung Dapat Nominasi

Yalitza Aparicio

Kategori Best Actress biasanya diisi oleh aktris-aktris papan atas yang sudah sarat pengalaman. Namun tahun ini, ada satu nominator yang menjadi pengecualian.

Tak main-main, aktris bernama Yalitza Aparicio ini sama sekali tidak memiliki pengalaman akting sebelum berpartisipasi di Roma, film yang mengantarkannya pada nominasi Best Actress. Apakah ini menunjukkan bakat alamiah Aparicio yang luar biasa, atau lebih karena pengarahan Alfonso Cuaron yang istimewa?

Apapun penyebabnya, masuknya Aparicio dalam perebutan piala Best Actress tahun ini direspon dengan pro kontra oleh berbagai pihak. Ada yang bernada optimis karena hal ini membuktikan penilaian Academy yang terbuka untuk semua kalangan, tapi ada pula yang menganggap Aparicio "mencuri tempat" aktris-aktris kaliber lain yang dinilai lebih layak. Dalam daftar Oscar Snubs tahun ini, Viola Davis dari Widows dan Toni Collette dari Hereditary memang menjadi dua aktris yang lebih dijagokan ketimbang Aparicio.

 

6. Green Book Dihantam Berbagai Kontroversi

Green Book penuh kontroversi

Green Book merupakan film drama komedi yang mendapat beberapa nominasi di Oscar tahun ini. Mahershala Ali bahkan sudah diprediksi kuat akan memenangkan gelar Best Supporting Actor melalui film tersebut. Sayangnya, Green Book diliputi banyak kontroversi yang membuatnya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak.

Pertama, keluarga dari tokoh yang digambarkan di film ini sempat melancarkan protes karena ceritanya penuh dengan kebohongan. Kemudian, Peter Farrelly sang sutradara ketahuan pernah menipu orang-orang dan bertindak asusila. Tak sampai di situ saja, penulis Nick Vallelonga juga diserang warganet karena pernah mengunggah cuitan bernada anti-Muslim.

Seolah tak ingin luput dari huru-hara ini, aktor Viggo Mortensen yang menjadi tandem Mahershala Ali juga banyak dihujat pihak karena melontarkan kata rasis saat mempromosikan Green Book.

Untuk seukuran film yang sudah mendulang pengakuan di Critics' Choice Awards dan Golden Globe Awards 2019, reputasi Green Book di mata Audience benar-benar tak semulia prestasinya.

 

7. Bradley Cooper Kecolongan Nominasi Best Director

Bradley Cooper tak kebagian nominasi Oscar 2019

Tidak masuknya Bradley Cooper dalam nominasi sutradara terbaik tahun ini menjadi salah satu hal yang paling disesalkan dari nominasi Academy Awards ke-91. Padahal, keberhasilan A Star is Born menuai pujian dari para kritikus tak lepas dari peran Cooper sebagai sutradara.

Menurut ulasan BBC, absennya Bradley Cooper dari nominasi Best Director ada kaitannya dengan kekecewaan The New York Times. Salah satu jurnalis dari media tersebut memang menerbitkan artikel panjang yang mengkritisi Cooper, hanya karena sang aktor tak bersedia membagikan kisah kehidupan pribadinya saat diwawancara.

 

8. Dominasi Karakter LGBT Di Kategori Akting

Nominator Oscar 2019

Empat nominasi bergengsi yang berkaitan dengan akting (Best Actor, Best Actress, Best Supporting Actor, dan Best Supporting Actress), dihuni oleh aktor-aktor yang memerankan tokoh gay, lesbian, dan bisexual. Menariknya lagi, aktor-aktor tersebut cukup dijagokan di masing-masing kategori, sehingga kemungkinan bagi karakter LGBT untuk berjaya di tahun ini terbuka lebar.

Nominator pemeran tokoh LGBT di Oscar 2019 adalah Olivia Colman dan Rachel Weisz dari film The Favourite, Mahershala Ali dari film Green Book, serta Rami Malek yang memerankan Freddie Mercury di Bohemian Rhapsody.

Tahun lalu, para pemenang di kategori akting juga mencetak suatu kebetulan menarik, dimana semua artis yang mendapat Piala Oscar dalam kategori aktor, aktris, aktor pendukung, dan aktris pendukung terbaik adalah nama-nama yang sama persis seperti pemenang dari BAFTA Awards 2018.

 

9. Penantian Panjang Glenn Close

Glenn Close

Saat ini, Glenn Close memegang rekor sebagai aktris dengan nominasi Oscar terbanyak yang belum pernah sekalipun diumumkan sebagai pemenang. Nasib kurang beruntung itu kemungkinan besar akan berubah di Oscar 2019, karena ia sudah banyak diunggulkan sebagai kandidat paling top untuk menjuarai gelar Best Actress di tahun ini.

 

10. Utak-Atik Durasi

Durasi Oscar 2019

Setelah mendapat rating terendah sepanjang masa di acara Oscar tahun lalu, Academy berpikir keras untuk melakukan berbagai usaha agar bisa mengungkit ratingnya. Selain upaya mengadakan kategori Best Popular Film (yang jelas-jelas gagal), mereka menargetkan pemangkasan durasi acara.

Sebagai informasi, gelaran Oscar tahun lalu memakan waktu hingga hampir 4 jam. Untuk mempersingkat durasi acara, Academy pertama-tama ingin mengeliminasi Live Performance dari lagu-lagu yang dinominasikan dalam kategori Best Original Song. Namun setelah diumumkan, rencana ini ditentang oleh berbagai pihak, terutama dari kalangan aktor musikal seperti Lin-Manuel Miranda yang tahun ini berakting di Mary Poppins Returns.

Sadar jika keputusan ini akan memicu kontroversi, Academy pun membatalkan rencana pemangkasan Live Performance, dan beralih pada pembacaan 4 nominasi, yaitu Best Live Action Short, Best Cinematography, Best Editing, dan Best Makeup and Hairstyling. Alih-alih menyiarkannya di televisi, pengumuman pemenang di 4 kategori tersebut akan dilakukan selama jeda iklan.

Rencana kedua ini bahkan memancing reaksi yang lebih negatif dari ide pertama. Kali ini, nama-nama besar seperti Russel Crowe dan Alfonso Cuaron ikut meradang karena menganggap Academy merendahkan peran sinematografer, editor, dan makeup artist.

Pada akhirnya, Academy membatalkan rencana tersebut, dan membiarkan durasi acara berjalan apa adanya.

Tag: ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi