7 Franchise Film Yang Gagal Setelah Film Pertama

| Tidak ada komentar

7 Franchise Film Yang Gagal Setelah Film Pertama

Bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang, 10 franchise film ini awalnya digadang-gadang bisa menjadi seri sukses dengan banyak pengikut, tapi justru sirna setelah film pertamanya gagal memenuhi ekspektasi.

Franchise film telah lama menjadi solusi mudah berbagai studio Hollywood untuk menjawab tantangan di era sekarang ini; ide original semakin menipis, sementara mereka harus senantiasa menarik minat penonton agar industri perfilman tak mati. Dengan melahirkan sebuah franchise film, studio-studio Hollywood bisa merintis 3 hingga 7 film dengan kesuksesan yang terjamin, tanpa harus memutar otak untuk menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru di setiap filmnya.

Di samping itu, franchise film dapat mendatangkan penghasilan tambahan dari sektor merchandise dan promo lainnya. Studio-studio seperti Disney dan Universal contohnya, bisa memanfaatkan ketenaran franchise film mereka untuk menambah wahana di bisnis taman hiburan masing-masing.

Namun sayangnya, tidak semua franchise film yang direncanakan bisa sukses besar seperti film-film MCU atau The Conjuring Universe. Beberapa di antaranya relatif sedang-sedang saja, dan ada juga yang gagal take-off seperti 7 contoh di bawah ini:

Baca juga: Invisible Man Bangkitkan Teror Tak Terlihat Di Trailer Pertamanya

 

1. Green Lantern

Green Lantern

Green Lantern merupakan percobaan pertama DC untuk merilis film layar lebar yang tidak melibatkan Batman ataupun Superman. Film ini juga berpotensi meningkatkan kebintangan Ryan Reynolds yang menjadi pemeran utamanya. Namun sayang, taburan CGI yang kelewat berlebihan di hampir semua adegan membuat Green Lantern dihujat habis-habisan, bukan hanya oleh kritikus, tapi oleh para penggemar karakternya juga.

Rilis film yang bagai bencana ini pada akhirnya membuat DC kelimpungan meraih angka break even untuk budget yang mencapai 200 juta Dolar AS. Padahal, Green Lantern sudah dipersiapkan menjadi starter bagi DC Extended Universe. Kegagalan ini pun dirasa memalukan oleh semua pihak. Baik studio maupun Ryan Reynolds sendiri sudah menganggap film ini tak pernah ada.

Uniknya, apa yang dipelajari DC dari kegagalan Green Lantern bukanlah hal-hal fundamental seperti alur cerita dan penyutradaraan yang tidak efektif. Mereka justru menganggap jika penyebab ketidakberhasilan Green Lantern adalah tone warna yang cerah dan unsur komedi. Mungkin itulah sebabnya, kita kemudian mendapatkan film-film bernuansa kelam seperti Man of Steel dan Batman v Superman: Dawn of Jutice dari DCEU.

 

2. The Last Airbender

The Last Airbender

Diangkat dari seri animasi Avatar: The Last Airbender yang revolusioner karena sukses mengangkat dunia fantasi berdasarkan mitologi serta seni bela diri Asia, film garapan M. Night Shyamalan ini harusnya menjadi awal dari 4 seri film yang mengisahkan petualangan Aang secara Live Action.

Namun, film The Last Airbender yang dibesut Shyamalan justru menjadi tontonan "tak bernyawa" yang diliputi skandal white-washing. Film ini pun gagal mengembalikan dana budget yang sebesar 150 juta Dolar AS. Tak heran jika pengembangan proyek untuk seri The Last Airbender akhirnya ditanggalkan.

Ketika menangani film ini, M. Night Shyamalan yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara unik nan berbakat sudah mulai memanen keraguan publik, berkat kegagalannya mengarahkan Lady in the Water dan The Happening. Namun karena The Last Airbender adalah film adaptasi pertamanya, ia kala itu masih diberi kesempatan dan diyakini dapat menghadirkan sesuatu yang baru.

Alih-alih menebus kegagalan dari film-film sebelumnya, Shyamalan justru semakin membenamkan reputasinya sendiri melalui The Last Airbender. Ia pun akhirnya baru bisa menyajikan tontonan yang diapresiasi banyak khalayak melalui Split, sekitar 7 tahun setelah rilis The Last Airbender yang jauh di bawah ekspektasi.

 

3. The Dark Universe

The Dark Universe

The Dark Universe adalah contoh paling nyata dari peribahasa "belajar berlari sebelum berjalan". Belum juga mengorbitkan film pertamanya, studio Universal yang menggagas franchise ini sudah buru-buru merangkai daftar film apa saja yang akan dirilis dan aktor-aktor mana saja yang direkrut. Lucunya lagi, film Dracula Untold yang diterbitkan pada tahun 2014 diedit di detik-detik terakhir, hanya untuk memasukkan post-credit scene yang membuatnya terhubung dengan The Dark Universe.

Ide franchise ini sebenarnya cukup menarik; kisah petualangan para monster klasik yang dimodernisasi di zaman sekarang. Bintang-bintang yang direkrut pun tak main-main, meliputi Russell Crowe sebagai Dr. Jekyll, Javier Bardem sebagai monster Frankenstein, Johnny Depp sebagai Invisible Man, Sofia Boutella sebagai Mummy, dan Tom Cruise sebagai protagonis tipikal yang (kemungkinan) akan menghubungkan semuanya.

Namun karena Universal tampaknya belum belajar dari DC yang ingin menikmati kesuksesan selevel MCU tanpa melalui proses world-building, film pertamanya pun dibuat tanpa pengukuran yang matang, dan sangat kelihatan hanya menjadi teaser untuk film-film Dark Universe selanjutnya. The Mummy akhirnya gagal mendapatkan perhatian penonton di bioskop AS, meskipun secara internasional sukses besar.

Pada akhirnya, Universal tak jadi menggarap The Bride of Frankenstein yang tadinya dirancang sebagai sekuel The Mummy. Alex Kurtzman dan Chris Morgan yang didapuk sebagai "Kevin Feige"-nya The Dark Universe, malah kemudian hengkang dan menyibukkan diri dengan franchise lain yang lebih menjanjikan, seperti Star Trek dan Fast and Furious.

 

4. The Golden Compass

The Golden Compass

Di dunia literatur fantasi, novel-novel His Dark Materials karangan Philip Pullman merupakan salah satu seri terfavorit sepanjang masa. Tak heran, studio New Line Cinema berupaya memanfaatkan popularitas tersebut, dengan mengangkat seri novel ini ke layar lebar.

Dirilis pada tahun 2007 dengan daftar pemain sekelas Nicole Kidman, Daniel Craig, Ian McKellen, Eva Green, dan pendatang baru Dakota Blue Richards, film pertama berjudul The Golden Compass justru tak disambut hangat di AS. Box Office domestiknya cuma mendatangkan 70 juta Dolar AS, jauh lebih rendah dari pendapatan global yang mampu mencapai lebih dari 300 juta Dolar AS.

Duduk perkaranya bermula dari kontroversi yang sebenarnya sudah meliputi novel-novel His Dark Materials. Secara umum, karya tulis itu dianggap anti Katolik dan dianggap kurang layak untuk disebarkan pada Audience yang lebih luas melalui film layar lebar. Tim produksi The Golden Compass kemudian berupaya menetralisir elemen tersebut, tapi kemudian malah membuat segalanya serba tanggung.

Alhasil, penonton umum masih mendapatkan kesan anti Katolik di film ini, sementara fans berat novel His Dark Materials merasa film ini sudah melanggar nilai-nilai asli yang ingin disampaikan penulisnya.

Kontroversi dan Box Office domestik yang mengecewakan akhirnya mengurungkan New Line Cinema untuk meneruskan franchise The Golden Compass. Para sineas Hollywood pun belum berani menyentuh materi ini, sampai akhirnya BBC turun tangan dan merealisasikannya sebagai serial TV yang dibintangi James McAvoy, Dafne Keen (Logan), dan Lin-Manuel Miranda di tahun 2019.

 

5. John Carter

John Carter

Ada begitu banyak hal yang dianggap tidak menjual dari film perdana di franchise ini. Pertama, judul John Carter yang dipilih sebagai label film dianggap sangat tidak mengesankan dan tidak mewakili apa yang sebenarnya dikisahkan film ini. Menurut Chris Rohling dari media Looper, judul itu jauh kurang menarik dibandingkan judul novel sumbernya, yakni A Princess of Mars yang dikarang oleh Edgar Rice Burroughs.

John Carter sendiri mengisahkan tentara dari era Perang Sipil AS yang terdampar di planet Mars. Petualangannya berfokus pada aksi John Carter melawan alien-alien raksasa dan menolong seorang putri bernama Dejah Thoris. Rupanya, Audience tidak terkesan dengan premise ini, sehingga John Carter hanya mengumpulkan 284 juta Dolar AS dari budget yang sebesar 263.7 juta Dolar AS.

Selain karena judul dan ceritanya, John Carter juga dibintangi oleh aktor yang kebintangannya belum terlalu menjual di kancah Blockbuster, yakni Taylor Kitsch. Sutradara film ini (Andrew Stanton) pun dianggap belum berpengalaman menangani film-film Live Action, meski ia sudah beberapa kali sukses dengan film animasi Pixar seperti Finding Nemo dan Wall-E.

Setelah ketidakberhasilan film pertamanya, kisah John Carter yang tersaji dalam 11 buku pun tak jadi dieksplor lebih lanjut. Disney bahkan tampaknya sudah lupa jika film ini pernah eksis.

 

6. Eragon

Eragon

Lagi-lagi diangkat dari sebuah seri novel, Eragon awalnya dimaksudkan untuk menjadi film perdana dalam sebuah franchise yang diharapkan bisa menyaingi kesuksesan Lord of the Rings. Maklum, genre film ini hampir menyerupai Lord of the Rings, dan tahun rilisnya (2006) merupakan saat dimana tren perfilman masih didominasi oleh sinema-sinema fantasi.

Sayangnya, Eragon gagal meninggalkan kesan positif bagi kalangan pengamat maupun Audience. Bahkan penggemar novelnya pun merasa terganggu karena film ini melenceng terlalu jauh dari cerita aslinya. Secara kualitas, Eragon dibombardir oleh kritikus yang menganggap jika film ini mengingatkan mereka pada film-film fantasi amatir sebelum Lord of the Rings. Menurut rating Rotten Romatoes, film ini hanya meraih skor 16%.

Semua pemberitaan buruk mengenai Eragon akhirnya mengantarkan film ini pada kegagalan Box Office; dari budget 100 juta Dolar AS, Eragon hanya membawa pulang 75 juta Dolar AS di tingkat domestik. Secara global, performa film ini pun tak terlalu mengesankan. Franchise film yang awalnya diekspektasikan bisa dibangun dari Eragon pun sirna tak berbekas.

 

7. The Dark Tower

The Dark Tower

Dibintangi dua aktor ternama seperti Idris Elba dan Matthew McConaughey, lalu diangkat dari novel garapan Stephen King, The Dark Tower tampak memiliki nilai jual yang menjanjikan. Sayangnya, film ini gagal meraih atensi yang diharapkan, baik dari cerminan Box Office-nya maupun dari ulasan para kritikus.

The Dark Tower secara umum dianggap gagal menerjemahkan prosa memikat yang dituangkan Stephen King di novel aslinya, juga tak mampu menggambarkan keajaiban dunia fantasi yang dibangun King selama 8 tahun dalam seri novel The Dark Tower. Fokus yang seharusnya diarahkan pada karakter Idris Elba, justru beralih pada figur bocah lelaki yang mendapat takdir istimewa di film ini. Secara keseluruhan, film yang dari masa produksi sudah diliputi berbagai masalah ini juga dinilai memiliki alur cerita yang sulit dicerna dan membosankan.

Para eksekutif di Sony Pictures pun tak melihat prospek lebih lanjut dari The Dark Tower, sehingga meskipun belum ada konfirmasi resmi, masa depan franchise film yang didasarkan pada 8 seri novel Stephen King ini bisa dianggap musnah. Untungnya, studio Amazon masih bersedia mengadaptasi ulang The Dark Tower menjadi sebuah TV Series.

 


Film-film di atas membuktikan bahwa sekedar membuat franchise saja bukanlah jalan pintas menuju kesuksesan yang diharapkan oleh berbagai pihak. Tanpa adanya komitmen dan kesabaran membangun sebuah dunia sinematik yang terstruktur, bahkan aktor-aktor papan atas pun tak akan mampu menjual sebuah franchise. Dari ketujuh franchise film di atas, adakah seri yang menurut Anda masih layak untuk "diselamatkan"?

Tag: , , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi