Inilah Mengapa Remake Hellboy Gagal Di Pasaran

| Tidak ada komentar

Inilah Mengapa Remake Hellboy Gagal Di Pasaran

Baru tayang perdana minggu ini, reaksi awal untuk remake film Hellboy sudah menghujatnya sebagai film gagal yang tak direkomendasikan. Rating film ini di Rotten Tomatoes hanya 15%, jauh dari penilaian baik yang diidam-idamkan oleh fans sebelumnya. Apa yang membuat performa film ini begitu jauh dari film originalnya? Mari sama-sama kita telusuri penyebabnya.

Ketika pembuatan film baru Hellboy diumumkan pada tahun 2017 silam, respon beragam muncul dari media dan para penggemarnya. Banyak yang merasa optimis karena film ini dikatakan bakal lebih menyerupai komiknya, tapi tak sedikit pula yang kecewa karena sajian terbaru Hellboy tidak akan menjadi sekuel dari dua seri sebelumnya yang disutradarai Guillermo del Toro.

Kekecewaan ini semakin meningkat manakala aktor dari film originalnya, Ron Perlman, tak bersedia membintangi remake film Hellboy. Ia justru digantikan oleh David Harbour, aktor yang namanya tengah naik daun berkat partisipasinya di serial TV Stranger Things.

Terlepas dari keraguan-keraguan tersebut, para penggemar tetap penasaran dengan film Hellboy terbaru yang katanya lebih sesuai dengan komik aslinya, brutal dan berdarah-darah hingga dirating R, serta disutradarai oleh Neil Marshall yang sudah memiliki reputasi baik untuk menangani film action.

Baca juga: 9 Film Yang Harus Dirombak Karena Kecaman Netizen

Realitanya, Hellboy justru panen kritikan dan sudah banyak disebut-sebut sebagai film terburuk 2019. Selain rating yang memalukan dari indikator Tomatometer, film ini hanyak mendapat Average Rating 3.64/10 dari 137 kritikus yang terdaftar di Rotten Tomatoes. Di Metacritic pun, Hellboy hanya menuai skor 30 dari 100 yang masuk dalam kategori generally unfavorable reviews.

Hal itu tentu berbeda jauh dari film-film Hellboy garapan del Toro yang meskipun tidak terlalu "setia" dengan komiknya, tapi berhasil mengundang apresiasi para pengamat untuk memberikan nilai konsensus sebesar 81% (film pertama) dan 86% (film kedua),

Lantas, apa yang salah dari remake Hellboy di tahun 2019 hingga dihujani kritikan-kritikan yang membuat ratingnya begitu menyedihkan?

 

Proses Produksi Yang Berantakan

Di balik layar Hellboy

Sebuah film bagus tak pernah lepas dari koordinasi yang baik antara semua pihak di balakan layar, mulai dari jajaran produser, sutradara, penulis naskah, hingga pemain-pemainnya. Namun, sebuah investigasi dari media The Wrap mengungkapkan bahwa telah terjadi "perang kekuasaan" yang begitu kacau di balik layar Hellboy.

Hal ini bermula dari perselisihan antara sutradara Neil Marshall dengan produser Lawrence Gordon dan Lloyd Levin. Begitu panasnya konflik di antara kedua pihak ini, Levin dan Gordon sampai dirumorkan memecat sinematografer Sam McCurdy yang merupakan kawan dan partner utama Nail Marshall. Tak cuma itu, Levin juga dikabarkan sering melakukan interupsi di lokasi syuting yang seharusnya menjadi "wilayah kekuasaan" sutradara.

Masalah ini kemudian semakin diperkeruh dengan sikap sang aktor utama, David Harbour, yang sering membangkang dan berulang kali pergi begitu saja dari lokasi syuting karena tak ingin dipaksa melakoni adegan-adegan tertentu. Lebih jauh lagi, Harbour dan pemain lain, Ian McShane, dikabarkan mengutak-atik naskah yang diberikan pada mereka.

Jika konflik dan masalah terjadi di semua lapisan seperti ini, adalah sebuah keajaiban Hellboy bisa dirilis tepat waktu. Biasanya, perseteruan antara sutradara dan produser saja akan berujung pada penundaan proses syuting.

 

Akting Buruk Dari Para Pemainnya

Para pemain Hellboy

Melihat pertentangan yang muncul dari kubu David Harbour, Anda mungkin akan mengira jika masalah utama dari akting pemain muncul darinya. Jika ya, maka Anda sudah salah menebak. Alih-alih berakting setengah hati, penampilan David Harbour sebagai sang Hellboy justru menjadi yang paling meyakinkan di film ini.

Bagian paling mengganggu datang dari para pemain pendukung, seperti Milla Jovovich, Sasha Lane, dan Daniel Dae Kim. Padahal, Jovovich sudah cukup kaliber untuk menjadi aktris yang memuaskan di genre action. Sasha Lane bisa dibilang hebat di American Honey, sementara Daniel Dae Kim nyaris selalu solid di berbagai tontonan yang dibintanginya. Sayang, bintang-bintang ini seolah tak bisa memberikan yang terbaik di Hellboy.

Sebagian besar alasannya bersumber dari dialog-dialog tak berbobot yang mereka sampaikan, dan hal ini merupakan tanggung jawab dari penulis naskahnya. Namun selain itu, ketiga aktor di atas juga tak sanggup menampilkan aksen Inggris yang meyakinkan, serta gagal mengimbangi penampilan David Harbour dan Ian McShane sebagai aktor yang paling "niat" di film ini.

 

Alur Cerita Dan Penokohan Yang Kacau Balau

Alur cerita Hellboy

Seperti yang telah diindikasikan dari poin-poin sebelumnya, naskah film merupakan salah satu sumber masalah terbesar yang menyebabkan kegagalan Hellboy. Tak cuma dirumorkan mengalami revisi dari aktor-aktornya sendiri, skenario film ini juga mengandung dialog-dialog tak berkualitas yang menurunkan kualitas performa para pemain.

Parahnya lagi, perubahan-perubahan dalam skrip Hellboy juga diisukan berlangsung selama proses syuting berjalan. Martin Singer, pengacara Lloyd Levin, sudah menepis rumor ini. Namun dengan hasil jadi filmnya yang begitu berantakan, tak sulit untuk lebih mempercayai spekulasi yang beredar mengenai revisi skenario film ini.

Menurut Josh Brown dari WhatCulture, keseluruhan cerita Hellboy tampak begitu kompleks tapi tak bersubstansi. Film ini berusaha memasukkan plot dari beberapa seri komik Hellboy sekaligus, tapi tidak menjalankan strategi yang efektif untuk membuat alurnya mudah dipahami.

Malahan, film ini tampak seperti pecahan-pecahan masalah yang dirangkai jadi satu. Sub-konflik datang dan pergi begitu saja, begitu juga dengan elemen-elemen menarik seperti Faction yang sebenarnya bisa dieksplor lebih lanjut.

Karakter Milla Jovovich terlalu dangkal, sementara konflik moral yang sempat muncul dalam benak Hellboy disajikan dengan sangat tanggung. Padahal, kedua aspek ini bisa dimaksimalkan untuk membuat film ini memikat dari segi penokohannya.

 

Humor Garing

Humor Hellboy

Satu lagi masalah yang berkembang dari kekacauan skrip Hellboy adalah nuansa humor yang gagal menjangkau Audience. Ada beberapa guyonan yang mengena, terutama yang dibawakan oleh si Hellboy sendiri, tapi humor lain yang disampaikan oleh para pemain pendukung justru membuat suasana film jadi aneh. Terlebih lagi, aktor-aktor ini menyampaikan candaan-candaan tersebut dengan aksen Inggris yang kelihatan sekali terlalu dibuat-buat.

Karena sudah mendapat rating dewasa yang sebenarnya ditujukan untuk merujuk pada adegan-adegan brutalnya, Hellboy juga membuat guyonan-guyonan kasar yang tampaknya diharapkan bisa membuat film ini tampil "menantang" seperti Deadpool. Alih-alih berhasil meniru kesuksesan Deadpool, humor kasar di Hellboy justru membuat film ini tampak asal melontarkan kalimat-kalimat tak senonoh tanpa tujuan jelas.

Penulis skenario film ini sepertinya tak paham jika Deadpool tidak pernah asal melontarkan guyonannya; di balik candaan yang nyeleneh, penulis Deadpool selalu menyisipkan sindiran dan konteks yang merujuk pada aspek Pop Culture lain. Dengan demikian, candaan Deadpool akan selalu relevan dan bisa dengan mudah menjangkau Audience.

 

Editing Gagal Total

Editing Hellboy

Sama seperti Suicide Squad, Hellboy rupanya digelayuti oleh masalah editing yang membuat film ini terkesan membingungkan. Sedari tahap pengenalan karakter, Hellboy sudah menyajikan eksposisi yang setengah-setengah dan terkesan terburu-buru.

Banyak tokoh diperkenalkan apa adanya sehingga membuat Audience bingung dengan perannya dalam film, dan beragam adegan seakan ditampilkan secara acak dalam tempo waktu yang cepat. Sebelum penonton benar-benar mencerna apa yang terjadi, film ini seakan sudah tak sabar membawa mereka menuju adegan berikutnya.

Khusus bagi para penonton Indonesia, sektor editing yang sudah buruk semakin diperparah dengan penyensoran yang menghilangkan beberapa adegan secara tak natural. Karena hal tersebut, banyak penonton di negeri ini masih menyalahkan lembaga sensor atas buruknya kualitas Hellboy. Mereka tak sadar jika film ini memang punya masalah editing yang tak akan bisa diperbaiki, sekalipun dengan melepas semua sensornya.

Kelemahan ini sangat disesalkan, mengingat para pengamat menilai jika film ini sebenarnya punya potensi yang bagus untuk dikembangkan. Hal itu terlihat dari suatu titik dimana pacing adegan film ini melambat dan menunjukkan interaksi karakter yang lumayan mengesankan. Lagi-lagi, ini menunjukkan kemiripan dengan Suicide Squad yang juga memiliki potensi serupa.

Perseteruan Neil Marshall dengan para produser lagi-lagi menjadi biang masalah. Sebuah sumber anonim menyebutkan bahwa Marshall sebenarnya menyerahkan versi Director Cut, tapi karya ini langsung dikesampingkan begitu saja oleh Gordon dan Levin yang tampaknya lebih berkuasa dalam membuat segala keputusan final di film ini.

 

Adegan Action Dan CGI Yang Ngawur

Adegan action dan CGI Hellboy

Seolah tak cukup dengan berbagai masalah di atas, Hellboy juga tak berhasil membawakan aspek yang seharusnya membuat film ini setidaknya bisa ditoleransi. Sebagai film action yang bersumber dari seri komik antihero, wajar jika penonton mengharapkan adegan-adegan pertarungan yang mengesankan dan efek visual memukau, sekalipun ceritanya tidak terlalu masuk akal.

Namun dalam hal ini pun, Hellboy dinilai gagal karena tidak menyajikan alur pertempuran yang jelas dan tampak diedit secara asal-asalan. Padahal, trailer dari film ini sanggup menampilkan potensi action yang mengesankan.

Efek CGI yang dibawakan di film ini pun terlihat kasar dan secara umum sangat buruk. Di era perfilman modern yang bisa membawakan film-film bervisual menakjubkan seperti War for the Planet of the Apes dan The Jungle Book, tentu saja para sineas diekspektasikan mampu menghadirkan aksi yang realistis dan mengesankan dari pertarungan monster-monster raksasa. Namun, tim kreatif Hellboy tampaknya tak terlalu peduli dengan hal itu.

Desain monster yang disajikan di film ini memang terlihat sangar, tapi setelah dianimasikan dalam adegan film, tampak sekali bahwa komponen-komponen grafiknya banyak yang belum rampung. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh koordinasi yang semrawut antara Neil Marshall dan para produser yang masing-masing memiliki visi berbeda.

Barangkali, inilah mengapa banyak pihak setuju jika produser film tidak seharusnya terlalu banyak turun tangan dalam proses produksi. Peran sebagai penyumbang budget memang membuat mereka berwenang, tapi pengaturan film yang lebih berkaitan dengan kreativitas seharusnya diserahkan pada para kru yang memang memiliki skill, pengalaman, dan kompetensi dalam hal itu.

 

Akhir Kata

Dengan segala masalah yang membelit Hellboy dan respon negatif yang diperolehnya, semakin banyak pihak yang menyesalkan mengapa studio film ini tak meneruskan pembuatan sekuel untuk film-film Hellboy versi Guillermo del Toro saja.

Bagaimanapun juga, proyek film Hellboy terbaru memang awalnya dimaksudkan untuk menutup seri buatan del Toro dengan film pamungkas. Namun negosiasi yang berjalan alot dengan sang sutradara membuat rencana itu terkatung-katung hingga bertahun-tahun, dan pada akhirnya buyar begitu saja.

Bagaimana menurut Anda? Apakah film remake Hellboy ini memang seburuk yang dikatakan di atas, atau justru masih layak dianggap sebagai tontonan menghibur? Apabila Anda sudah menonton Hellboy dan punya opini tersendiri, jangan sungkan untuk mengungkapkannya pada kolom komentar di bawah ini.

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi