9 Film Yang Harus Dirombak Karena Kecaman Netizen

| Tidak ada komentar

9 Film Yang Harus Dirombak Karena Kecaman Netizen

Tahukah Anda? Sonic The Hedgehog bukanlah film pertama yang sibuk membenahi diri setelah diamuk para warganet. Mulai dari Wreck-it Ralph 2 hingga Justice League, ternyata ada 8 film populer lain yang sempat melakukan perubahan mayor hanya karena dikritik oleh para netizen.

Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan nyaris semua orang untuk mengungkapkan opini mereka. Opini mayoritas yang terbentuk di social media, kolom komentar di berbagai situs, dan reaksi di Youtube kini menjadi hal yang dianggap serius oleh studio-studio besar Hollywood, karena beragam komentar tersebut bisa membentuk opini publik yang berpengaruh pada minat masyarakat untuk membeli tiket film mereka.

Karena itu, jangan heran apabila banyak pembuat film yang tiba-tiba melakukan sytuing ulang, mengubah separuh cerita, ataupun mengganti penokohan dan desain karakter di tengah masa promosi. Lantas, apakah cara ini berhasil?

Untuk mengeksplor fenomena ini lebih lanjut, berikut contoh 9 film yang terpaksa merombak bagian-bagian pentingnya karena mendapat "amukan" dari para netizen:

Baca juga: Seperti Dugaan, Sonic The Hedgehog Diundur 3 Bulan

 

9. Ralph Breaks The Internet

Kontroversi Putri Tiana di Ralph Breaks The Internet

Ketika promo pertama Ralph Breaks The Internet muncul, para penggemar menyambutnya dengan sukacita karena film ini terlihat akan menghadirkan ide segar yang belum pernah ada sebelumnya: apa yang terjadi di balik lalu lintas internet plus cameo beragam tokoh Disney dalam satu tontonan.

Namun setelah sebuah klip menampilkan Venellope terjebak bersama putri-putri Disney dalam satu ruangan, netizen beramai-ramai melancarkan kritikan karena penampilan Tiana -karakter utama dalam The Princess and the Frog- berkulit lebih cerah dari yang seharusnya. Hal ini sangat disayangkan, karena keberadaan tokoh ini sangat ikonik sebagai putri Disney pertama yang berkulit hitam.

Sebelum warganet mulai gencar menuduh Ralph Breaks The Internet melakukan whitewashing, Phil Johnston dan Rich Moore selaku sutradara film ini langsung mengerjakan ulang penampilan Tiana.

Perubahan ini membuat Tiana berkulit lebih gelap dan lebih menyerupai sosok aslinya. Netizen pun tak lagi mempersoalkan warna kulit, dan Ralph Breaks The Internet sukses meluncur di pasaran sebagai salah satu film animasi terbaik dan terlaris di tahun 2018.

 

8. Ghostbusters

Kontroversi Ghostbusters

Reboot Ghostbusters yang meluncur di tahun 2016 ini sudah disambut kecaman bahkan saat ide proyeknya pertama kali diumumkan. Alasannya bermacam-macam, tapi pangkal semua kritikan itu berakar pada perubahan gender yang dilakukan pada 4 karakter ikonik Ghostbusters.

Kencangnya badai kecaman ini bahkan sampai membuat trailer Ghostbusters menjadi video cuplikan film yang paling banyak di-dislike di Youtube. Sadar akan kritikan yang diterimanya, sutradara dan penulis film ini pun melakukan perubahan pada salah satu adegannya. Menariknya, perubahan tidak ditujukan untuk menuruti tuntutan netizen, tapi justru untuk menyindir para hater. Pesan ini disiratkan di bagian awal film, ketika 3 tokoh utama Ghosbusters membaca kalimat-kalimat hinaan dari hater di kolom komentar Youtube.

Strategi di atas nyatanya tak banyak menolong Ghostbusters. Bahkan ulasan kritikus yang lumayan positif pun tidak digubris oleh sebagian besar netizen yang menganggap film ini tak berkualitas. Pada akhirnya, film ini hanya mengumpulkan 229.1 juta Dolar AS dari budget sebesar 144 juta Dolar AS.

 

7. Star Trek Beyond

Kecaman pada Star Trek

Jika Ralph Breaks The Internet dan Ghostbusters mempertimbangkan celaan netizen di tengah masa promosinya, maka lain halnya dengan kasus film yang satu ini. Dua penulis Star Trek Beyond, Simon Pegg dan Doug Jung, justru memperhatikan feedback pada film prekuel sebagai acuan mereka.

Hal ini karena Star Trek Into Darkness yang memang meluncur sebelum Star Trek Beyond, menerima banyak kritikan dari fans. Film tersebut dianggap gagal mencerminkan kekhasan Star Trek, dan terlalu fokus pada resep sinema blockbuster yang berlomba-lomba menampilkan efek visual serta plot twist seadanya.

Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Pegg dan Jung berupaya menghadirkan Star Trek Beyond sebagai film yang membawa keistimewaan serial TV-nya di layar lebar. Sayang, upaya ini tak terlalu membuahkan hasil di kancah Box Office, meskipun para pengamat mengapresiasi jerih payah keduanya dengan ulasan yang relatif positif.

 

6. Fantastic Four

Fantastic Four dikecam Netizen

Percobaan terakhir Fox dalam mengangkat kisah Fantastic Four ke layar lebar di tahun 2015 ternyata juga sempat diwarnai kecaman netizen. Setelah mengetahui jika tokoh villain Dr. Doom akan ditampilkan dengan nama asli Victor Domashev, banyak fans merasa tak terima dan menganggap perubahan itu sungguh tak perlu.

Gelombang kritikan yang begitu deras pun akhirnya memaksa para pembuat film untuk mengubah nama tokoh tersebut menjadi Victor von Doom, sesuai dengan nama asli di buku komiknya.

Andaikan perubahan tersebut sudah cukup untuk "menolong" Fantastic Four, mungkin Fox sudah melahirkan franchise baru yang diberangkatkan dari film ini. Namun karena Fantastic Four memiliki begitu banyak masalah, film arahan Josh Trank ini justru dikenal sebagai sinema gagal dari berbagai sisi, mulai dari performa Box Office hingga kualitas cerita dan penokohan.

 

5. Alien: Covenant

Alien Covenant

Kasus film ini bisa dikatakan mirip dengan Star Trek Beyond. Berniat menuruti keinginan fans yang merasa kecewa terhadap kurangnya penampakan alien di Prometheus, Ridley Scott pun membuat Covenant semirip mungkin dengan film-film Alien klasik yang menampilkan banyak adegan menegangkan dan pertarungan melawan makhluk mengerikan dari angkasa luar.

Namun sama seperti nasib Star Trek Beyond, Alien: Covenant tetap gagal membangkitkan minat penonton untuk menyimaknya di bioskop. Pendekatan Ridley Scott yang begitu dramatis di Prometheus agaknya cukup efektif meyakinkan para fans jika semua film Alien modern yang digarapnya akan bernada serupa. Akibat kegagalan Covenant, sekuel yang sudah direncanakan pun urung dibuat.

 

4. Hellboy

Hellboy dikecam netizen

Dari semua film di atas, Hellboy merupakan contoh pertama yang harus sampai mengganti aktornya karena desakan netizen. Saat proyek film ini diumumkan, respon penggemar sebenarnya cukup beragam; ada yang menyesalkan karena menganggap pihak studio seharusnya menggarap sekuel Hellboy 2 saja, tapi ada pula yang menyambut antusias karena film ini akan dibintangi pemain-pemain baru dan disutradarai oleh figur Neil Marshall yang cukup menjanjikan.

Namun perbedaan pandangan itu tampaknya tak berlaku ketika nama Ed Skrein diumumkan sebagai pemeran Major Ben Daimio, yang seharusnya dimainkan oleh aktor keturunan Asia. Tak ingin memicu spekulasi whitewashing yang biasanya berujung pada tuduhan rasisme, Ed Skrein pun secara sukarela mundur dari proyek film ini. Pada akhirnya, posisi aktor tersebut digantikan oleh Daniel Dae Kim.

Apakah penggantian aktor yang lebih sesuai dengan sumber aslinya ini berdampak positif? Nyatanya tidak juga. Sama seperti Fantastic Four, Hellboy dihantui terlalu banyak masalah dalam proses produksi, sehingga film ini benar-benar kacau dan gagal mendapat tempat di hati pemirsa maupun kritikus.

 

3. Justice League

Kontroversi Justice League

Ambisi Warner Bros. untuk mengejar Disney dalam membangun dunia sinematik yang sukses dari brand superhero, membuat studio ini terburu-buru menggarap Batman v Superman: Dawn of Justice. Hanya setelah 1 film Superman yang tidak terlalu direspon positif, Warner Bros. langsung menggagas film yang menandingkan Superman dan Batman; barangkali untuk menandingi Disney yang merilis Captain America: Civil War di tahun yang sama.

Namun setelah terpukul mundur oleh kritikan tajam netizen dan performa Box Office Batman v Superman yang di bawah ekspektasi, Warner Bros. pun panik dan berupaya membenahi Justice League yang kala itu sudah setengah jalan.

Akibatnya, niat Zack Snyder untuk menghadirkan nuansa yang lebih kelam di Justice League, dengan Darkseid sebagai villain dan Superman yang muncul dalam versi jahatnya, dipupuskan oleh Warner Bros. Studio ini malah merekrut Joss Whedon untuk "mengarahkan ulang" Justice League dan melakukan intervensi lebih lanjut. Pada akhirnya, sikap tersebut justru membuat film ini terkesan setengah-setengah dalam segala hal.

Tak heran, Justice League menjadi film yang lebih gagal ketimbang Batman v Superman: Dawn of Justice dan membuat Ben Affleck semakin enggan untuk kembali ke DCEU sebagai Batman. Namun paling tidak, kegagalan Justice League sukses menyadarkan Warner Bros. untuk lebih mengutamakan film-film solo (seperti Aquaman dan Shazam!) ketimbang membuat film kolaborasi superhero lagi.

 

2. Teenage Mutant Ninja Turtles

Kontroversi TMNT

Meluncur pada tahun 2014, film Teenage Mutant Ninja Turtles pada awalnya diproduksi oleh Michael Bay sebagai film yang cukup jauh dari sumber ceritanya. Alih-alih tampil sebagai mutan, para kura-kura ninja di film ini tadinya akan dikisahkan sebagai alien berkekuatan super.

Para netizen yang sebagian besar penggemar franchise TMNT pun mengamuk mendengar ide ini. Mereka tak henti-hentinya "menyerang" Michael Bay dan mendesak Paramount untuk mengembalikan asal-usul TMNT sesuai sumbernya.

Pasca kecaman tersebut, perubahan pertama yang dilakukan sempat bocor dan malah memicu reaksi kemarahan yang lebih ekstrim. Bukannya menuruti kemauan warganet untuk tetap menjadikan para kura-kura ninja sebagai mutan, Bay justru menciptakan ide aneh tentang kedatangan para tokoh TMNT dari dimensi lain. Untungnya, Paramount dengan sigap merespon kritikan fans, dan berhasil menekan Michael Bay untuk menampilkan TMNT tanpa perubahan radikal pada asal-usul tokoh-tokoh utamanya.

Performa film TMNT secara umum tidak bisa dianggap menakjubkan, tapi tidak bisa pula dianggap gagal total. Bagaimanapun juga, film ini dipandang cukup sukses hingga melahirkan sekuel di tahun 2016.

 

1. Sonic The Hedgehog

Kecaman Netizen terhadap Sonic The Hedgehog

Film ini merupakan contoh terbaru dari kekuatan netizen yang berhasil mendorong studio besar untuk melakukan perubahan drastis pada sebuah film yang sudah jadi. Baru dirilis di trailer pertama, penampakan Live Action Sonic yang begitu jauh dari sosok animasinya membuat netizen menyerukan kritikan terhadap studio Paramount dan para pembuat film ini.

Beragam reaksi negatif hingga meme yang kerap bermunculan pun akhirnya mendorong sang sutradara, Jeff Fowler, untuk mendesain ulang penampakan karakter Sonic. Ini merupakan perombakan yang sangat besar mengingat Sonic adalah lakon utama. Dengan waktu rilis yang dijadwalkan sekitar 6 bulan lagi, banyak pihak meragukan kesanggupan Fowler dkk. untuk memperbaiki Sonic The Hedgehog tepat waktu.

Nasib film ini belum benar-benar diketahui karena saat artikel ditulis, berita pembuatan ulang karakter Sonic masih hangat dibicarakan. Namun dengan besarnya perubahan yang harus dilakukan dan tenggat waktu yang tinggal beberapa bulan saja, Sonic The Hedgehog kemungkinan hanya memiliki 2 prospek: berakhir tidak memuaskan atau terpaksa mengalami penundaan rilis.

Tag: , , , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi