9 Perbedaan Film Aladdin Live Action Dengan Versi Animasinya

| 1 komentar

9 Perbedaan Film Aladdin Live Action Dengan Versi Animasinya

Selain dari segi visual yang jelas-jelas berbeda, tersimpan berbagai perbedaan menarik dari film Aladdin Live Action yang baru meluncur Mei 2019 ini, dengan versi animasinya yang rilis 27 tahun silam. Perbedaan ini tersebar di berbagai aspek penting, mulai dari elemen cerita, penokohan, hingga gaya penyutradaraan.

Saat pertama kali diumumkan, proyek Aladdin Live Action tak terlalu disambut antusias karena film animasinya yang meluncur di tahun 1992 sudah dianggap cukup sempurna, sehingga banyak pihak menilai remake Live Action tak perlu dibuat hanya untuk membuatnya tetap relevan di generasi saat ini.

Meski demikian, Disney tetap melaju dengan rencana awalnya untuk menggarap Aladdin Live Action. Kegigihan ini tak mengejutkan banyak pihak, mengingat Disney memang selalu meraup kesuksesan komersil dari film-film remake Live Action-nya, seperti Cinderella, The Jungle Book, dan Beauty and the Beast.

Untuk membuat film-film tersebut benar-benar menjadi penjelmaan Live Action dari versi animasi mereka, Disney biasanya tak membuat banyak perbedaan krusial. Jikapun ada, perubahan-perubahan itu hanya diselipkan dalam detail yang tak terlalu menonjol sehingga tidak mengalihkan perhatian penonton dari garis besar cerita filmnya.

Baca juga: Robert Downey Jr. Tolak Promosi Oscar Dari Disney

Nah, pendekatan itu tak sepenuhnya diterapkan di film Aladdin Live Action. Alih-alih menggunakan formula Live Action Disney yang nyaris 100% menyalin versi animasinya, film baru Aladdin mengaplikasikan perubahan-perubahan yang cukup signifikan dari film sebelumnya. Menariknya lagi, meski berbagai perubahan ini dianggap krusial, efeknya tidak sampai mengubah jalinan cerita Aladdin secara radikal. Apa saja sih perbedaan yang dimaksud itu?

 

1. Dipandu Narator Berbeda

Narator Aladdin

Masih ingatkah Anda? Adegan pembuka film animasi Aladdin dinarasikan oleh sesosok pedagang yang bercerita kepada penonton mengenai petualangan sang tokoh utama. Aksi breaking the fourth wall ini sama sekali tak ditampilkan dalam versi Live Action, karena yang menjadi pembuka adegan adalah dialog Will Smith si Genie dengan dua bocah lelaki.

Menurut Cooper Hood dari Screenrant, perubahan ini menawarkan kejelasan yang lebih baik dari film pendahulunya, mengingat adegan pembuka Will Smith memiliki kaitan erat dengan ending cerita yang ditampilkan. Di sisi lain, keberadaan si pedagang dari awal film Aladdin (1992) hanya memancing spekulasi bahwa ia merupakan salah satu penjelmaan dari Genie, mengingat ia juga disuarakan oleh mendiang Robin Williams.

 

2. Iago Jadi Lebih Pendiam

Jafar dan Iago

Berlatar di negeri 1001 malam yang penuh keajaiban, tak heran jika Aladdin dipenuhi dengan beragam karakter unik dan eksotis. Salah satu karakter itu adalah Iago si burung beo yang setia mendampingi Jafar.

Di versi animasinya, Iago disuarakan oleh komedian Gilbert Gottfried dan banyak bicara; baik untuk sekedar menirukan suara orang-orang di sekitarnya atau memberikan celetukan-celetukan menohok yang membuat karakternya begitu unik.

Sayang, kepribadian Iago yang bawel tak ditampilkan di versi Live Action. Disuarakan oleh Alan Tudyk, Iago di film remake Aladdin lebih jarang berbicara, meski terkadang ia masih suka berkomentar blak-blakan. Jika dibandingkan dengan Iago versi animasi, maka burung beo peliharaan Jafar di versi Live Action tampak jauh lebih pendiam.

 

3. Putri Jasmine Tampil Dominan

Putri Jasmine 2019

Tidak seperti karakternya di film Aladdin versi animasi yang cenderung bergantung pada Aladdin, Putri Jasmine di versi Live Action lebih memiliki keberanian untuk meraih sendiri apa yang diinginkannya, bahkan dengan terlibat langsung dalam politik kerajaan.

Jika animasi Jasmine hanya menjadi putri yang mendambakan petualangan di dunia luar dan jatuh cinta pada Aladdin karena ia bisa menawarkan kesempatan itu, maka motivasi Jasmine di film terbaru ini jauh lebih mencerminkan perjuangan seorang wanita dalam intrik masalah yang biasanya didominasi oleh kaum pria.

Ya, Putri Jasmine yang diperankan oleh Naomi Scott memang menghadirkan perubahan segar yang lebih relevan dengan isu kesetaraan gender di masa kini. Alih-alih hanya berkeinginan menikahi Aladdin karena ia lebih memilihnya ketimbang Jafar, Jasmine di film Live Action bercita-cita menjadi sultan wanita pertama agar bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat di wilayah kerajaannya.

 

4. Lagu Soundtrack Diperbarui

Selain karena plot dan penokohannya yang solid serta menghibur, film animasi Aladdin di tahun 1992 banyak dipuji karena lagu-lagu Soundtrack yang ikonik. "A Whole New World", "Arabian Nights", dan "Friend Like Me" adalah segelintir contohnya. Karena kesuksesan di bidang ini, Alan Menken pun diganjar dua penghargaan sekaligus di Academy Awards, masing-masing untuk kategori Best Original Score dan Best Original Song.

Tak ingin kehilangan faktor kesuksesan tersebut, Guy Ritchie selaku pengarah Aladdin Live Action pun kembali membawa Alan Menken untuk menangani lagu-lagu Soundtrack film ini. Namun selain mempertahankan gubahan-gubahan dari film animasinya, daftar Soundtrack untuk Aladdin Live Action menambahkan 3 perubahan baru: lirik kontroversial dalam lagu "Arabian Nights" diganti, ada versi lain "Friend Like Me" yang dibawakan Smith dan DJ Khalid sebagai pengiring kredit penutup, serta versi "A Whole New World" yang dinyanyikan oleh Zayn Malik dan Zavia Ward.

Yang tak kalah penting, terdapat Soundtrack yang sepenuhnya baru, yakni lagu solo Putri Jasmine berjudul "Speechless". Lagu ini bahkan ditampilkan di dua adegan terpenting dalam film.

 

5. Karakter Genie Lebih "Manusiawi"

Will Smith sebagai Genie

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Genie dari film animasi Aladdin merupakan salah satu karakter paling ikonik sepanjang masa dari Disney. Tak seperti nama dan kekuatannya yang bernuansa magis, Genie justru tampil sebagai sahabat setia Aladdin yang ceria dan sungguh relatable bagi kebanyakan penonton.

Dalam sajian Live Action, Guy Ritchie tampaknya lebih meningkatkan hal tersebut dengan lebih banyak menampilkan Genie dalam sosok manusianya. Menurut Quinn Keaney dari Pop Sugar, perubahan ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri, mengingat wujud asli Will Smith si Genie yang ditampilkan dengan bantuan CGI justru tampak aneh.

Selain dari segi penjelmaan, Genie dari film Aladdin Live Action juga bisa dikatakan lebih menusiawi karena memiliki ending yang menyimpang dari versi animasinya. Apakah itu? Detailnya baru akan kita ungkap di poin terakhir. Jika Anda belum nonton Aladdin dan ingin menghindari spoiler, ingat baik-baik ya untuk membaca sampai poin ke-8 saja…

 

6. Jafar Lebih Terang-terangan

Jafar Live Action

Asal mula kepergian Aladdin menuju Cave of Wonders bisa dikatakan kompleks di versi animasinya. Jafar yang haus akan kekuasaan berusaha menipu Aladdin agar bersedia mengambilkannya lampu ajaib yang bisa mengabulkan berbagai permintaan. Ia mula-mula menangkap Aladdin, menyamar sebagai sesama tahanan, menyelamatkannya, lalu membujuk Aladdin untuk mengambil lampu ajaib tersebut.

Di versi Live Action, Jafar tak bertindak seribet itu, karena ia langsung muncul dalam wujud aslinya saat menemui Aladdin. Tak perlu menyamar sebagai tahanan, Jafar berhasil meyakinkan Aladdin dengan langsung menyebutkan bahwa ia bisa mendapatkan kekayaan berlimpah dari Cave of Wonders untuk memikat Putri Jasmine.

 

7. Kesetiaan Si Karpet Terbang Berawal Dari Utang Budi

Karpet terbang Aladdin

Satu lagi karakter unik yang hanya ada di Aladdin selain Iago si burung beo adalah karpet terbang ajaib. Berbeda dari Iago, karpet ini merupakan sekutu Aladdin yang berjasa membantunya memikat Putri Jasmine, lewat kencan ikonik dengan lagu "A Whole New World" sebagai Soundtrack-nya.

Di film animasi, Aladdin dengan mudah mendapat kepercayaan si karpet terbang saat ia pertama kali menemukannya di Cave of Wonders. Tak ada latar cerita yang diberikan untuk mendukung situasi tersebut, sehingga kita tampaknya diminta maklum saja dan menduga-duga sendiri jika si kapet terbang punya insting untuk berpihak pada orang baik seperti Aladdin.

Well, kelemahan ini agaknya berhasil diperbaiki di versi Live Action Aladdin, karena dalam tontonan yang satu ini, Aladdin dan Abu dikisahkan menyelamatkan si karpet terbang saat ia terjepit batu besar di Cave of Wonders. Dengan aksi heroik tersebut, maka cukup wajar jika karpet terbang kemudian menjadi pendamping setia Aladdin yang siap mengantarkannya kemanapun, bahkan menjadi "kendaraan" di kencan pertamanya bersama Putri Jasmine.

 

8. Jafar Tak Ingin Menikahi Putri Jasmine

Jafar tak ingin menikahi Jasmine

Satu lagi perubahan yang dilakukan pada penokohan Aladdin terjadi pada karakter antagonis utamanya. Di versi animasi, Jafar yang berambisi menjadi penguasa Abragah menghipnotis Sang Sultan agar memerintahkan pernikahannya dengan Putri Jasmine.

Cara itu nyatanya tak dilakukan Jafar di versi Live Action, karena ia mengambil jalan selain pernikahan untuk menjadi tiran penguasa Agrabah. Jafar yang haus kekayaan dan kekuasaan juga ditampilkan sebagai sosok yang berambisi melebarkan dominasinya. Ia tak segan memicu perang dengan kerajaan-kerajaan lain agar bisa menguasai mereka, meski Sang Sultan jelas-jelas ingin menjaga perdamaian dengan para "tetangganya".

 

9. Ending Cerita Serupa Tapi Tak Sama

Ending Aladdin 2019

Film animasi Aladdin berakhir dengan Aladdin yang mengelabui Jafar sehingga ia menjadi Genie selamanya, sementara Genie kawan Aladdin terbebaskan dari lampu ajaib, dan hukum kerajaan Agrabah diubah oleh Sang Sultan agar Putri Jasmine bisa menikah dengan Aladdin.

Ending itu jadi sedikit lebih komplek di film Aladdin Live Action, karena meskipun Jafar juga berhasil dikalahkan dengan cara menipunya untuk menjadi Genie yang terjebak di lampu ajaib, Genie asli justru menjadi manusia biasa setelah ia terbebas. Ia bahkan menikah dan memiliki anak-anak, yang kemudian terungkap bahwa mereka adalah dua bocah yang diajaknya berdialog di awal film.

Sementara itu, Aladdin dan Putri Jasmine memang menikah, tapi atas dasar perubahan hukum yang berbeda dari Sang Sultan. Di versi animasi, Sultan mengubah aturan agar Putri Jasmine tetap bisa menikahi orang biasa, tidak hanya pangeran dari kerajaan lain yang kemudian akan menjadi penerus takhta di Agrabah. Sementara dalam Live Action, Sultan mengubah hukum agar posisi penguasa kerajaan juga bisa diduduki oleh keturunan wanita.

Hal ini pun membuka jalan bagi Putri Jasmine untuk naik takhta sebagai sultan wanita pertama, dan memungkinkannya untuk menikahi siapapun yang ia kehendaki; dalam kasus ini, tentunya sosok tersebut adalah Aladdin.


Dari kesembilan perbedaan di atas, manakah detail yang sudah Anda temukan sebelumnya dan baru Anda ketahui? Jangan sungkan untuk berbagi cerita dalam kolom komentar di bawah ini.

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

1 komentar untuk 9 Perbedaan Film Aladdin Live Action Dengan Versi Animasinya

  • Uxfilm -

    Cantiknya Ranger Pink 😅😂

    Balas

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi