7 Hal Yang Membuat Dark Phoenix Gagal Di Box Office

| Tidak ada komentar

7 Hal Yang Membuat Dark Phoenix Gagal Di Box Office

Digadang-gadang sebagai penutup franchise X-Men yang bermula sejak hampir 2 dekade lalu, performa Dark Phoenix justru sangat mengecewakan. Film ini bahkan debut di bawah The Secret Life of Pets 2. Sebenarnya, apa yang membuat film terakhir X-Men dari Fox ini gagal di pasaran?

Beberapa hari sebelum dirilis perdana pada 7 Juni lalu, Dark Phoenix sebenarnya sudah diproyeksi tidak akan meraup Box Office akhir pekan yang fantastis; hanya sekitar 50 juta Dolar AS yang merupakan jumlah terkecil dari semua film X-Men.

Namun demikian, ekspektasi yang sudah rendah itu ternyata masih lebih baik ketimbang realitanya. Pendapatan domestik X-Men di pekan pertama debutnya cuma mencapai 33 juta Dolar AS, cukup jauh dari prediksi awalnya.

Padahal, X-Men telah menjadi properti yang tak bisa dipandang sebelah mata di era film kebangkitan superhero seperti saat ini. Selain membawakan kisah para mutan yang menarik disimak, franchise X-Men juga rutin dibintangi artis-artis papan atas Hollywood, dan sangat ikonik dengan Hugh Jackman sebagai Wolverine serta Ryan Reynolds yang memerankan Deadpool.

Baca juga: 12 Franchise Film Terlaris Dalam Sejarah Box Office

Lantas, apa sih yang membuat Dark Phoenix tak bisa menjadi film besar seperti yang diharapkan Fox? Dilansir dari ulasan Michileen Martin asal Looper, berikut adalah 7 faktor yang menjadi biang kegagalan Dark Phoenix:

 

1. Panen Kritikan

Dark Phoenix panen kritikan

Perlu diketahui, Dark Phoenix merupakan film yang proses produksinya penuh masalah, dan penayangannya sudah ditunda hingga berkali-kali. Film ini sedianya dirilis pada tahun 2018, tapi jadwal premiere-nya malah ditunda hingga setahun lamanya karena satu dan lain hal.

Salah satu rumor yang beredar mengenai Dark Phoenix menyebutkan bahwa screening test untuk film ini berakhir dengan bencana, sehingga Fox mengharuskan Simon Kinberg dkk. untuk memperbaiki Dark Phoenix lagi.

Proses syuting pun jadi tak lagi terencana, dan menurut kesaksian beberapa aktor, naskah film bahkan sempat beberapa kali diubah secara on the spot. Situasi yang carut-marut ini jelas bukan pertanda bagus, mengingat Hellboy juga mengalami hal yang sama. Para pengamat film pun sudah mulai pesimis dengan hasil akhir Dark Phoenix, meski ada pula yang berharap jika tontonan ini dapat menghadirkan kejutan.

Sayangnya, harapan itu hanyalah tinggal angan-angan. Segera setelah premiere dan embargo review-nya diangkat, Dark Phoenix langsung diserbu beragam kritikan yang menganggap film ini membosankan, mengecewakan, dan tak memiliki pengembangan karakter. Bahkan, Dark Phoenix sempat mendapat rating serendah 16% di Rotten Tomatoes, sebelum skor itu naik (hanya) ke 24% seiring dengan bertambahnya jumlah ulasan yang masuk.

Tak dipungkiri lagi, nilai hancur itu memupus asa banyak pihak yang sempat berharap jika film ini akan lebih baik dari X-Men: Apocalypse.

 

2. Banyak Saingan

Saingan Dark Phoenix

Ketika Anda dihadapkan pada pilihan antara film X-Men berating buruk, Live Action Disney yang digemari berbagai kalangan, dan film action dengan rating tinggi yang sedang hype, manakah yang Anda pilih?

Kecuali Anda benar-benar fans berat X-Men yang menantikan filmnya, tak banyak pihak yang akan heran bila Anda lebih memilih 2 film lainnya.

Perbandingan yang cukup jauh antara Dark Phoenix dan film-film pesaingnya saat ini menjadi kendala tersendiri yang cukup membebani performa Box Office-nya. Andaikan film yang dibintangi Jennifer Lawrence ini meluncur pada awal tahun yang cenderung sepi persaingan dari film-film besar, Dark Phoenix kemungkinan akan bernasib lebih baik dari segi pendapatan.

Apalagi, film-film yang menjadi pesaing Dark Phoenix saat ini adalah Aladdin yang sukses di Box Office, juga John Wick: Chapter 3 yang sukses menyingkirkan Avengers: Endgame dari posisi puncak.

 

3. Terimbas Akuisisi Disney

Akuisisi Disney-Fox

Tak lama setelah kabar mengenai akuisisi Disney terhadap Fox tersiar, fans dan media langsung antusias menantikan "kepulangan" X-Men ke Studio Marvel. Walaupun ada beberapa pihak yang ingin melihat karakter-karakter saat ini masuk ke MCU, sebagian pihak lain yang lebih realistis sudah menduga jika Kevin Feige akan me-reboot X-Men dan memulai kisahnya dari nol dengan sederet pemain baru.

Maka dari itu, wajar bila cukup banyak fans film superhero saat ini yang mengesampingkan kehadiran Dark Phoenix. Banyak di antara mereka yang berpikir "buat apa ikut mendalami konflik di film yang tak lama lagi bakal dibuat ulang dari awal?"

Lagipula, mengingat sejarah MCU yang lebih meyakinkan dalam menelurkan film-film sukses, perhatian fans saat ini lebih tertuju pada prospek bergabungnya X-Men ke dalam tim Avengers, ketimbang menyimak akhir dari saga berkepanjangan yang disajikan Fox lewat Dark Phoenix.

 

4. Sudah Pernah Diangkat

X-Men: The Last Stand

Dark Phoenix mengisahkan Jean Grey yang menyeberang ke sisi gelap dan mengeluarkan kekuatan mematikan yang selama ini terpendam dalam dirinya. Meski tampak sangat menarik di atas kertas, adaptasinya ke layar lebar terbukti sangat pelik. Hal ini terlihat dari kegagalan X-Men: The Last Stand kala mengangkat kisah serupa pada tahun 2006 lalu.

Ya, kisah Dark Phoenix nyatanya sudah pernah dibawakan di The Last Stand, seri terakhir dalam trilogi awal X-Men yang tak mendapat sambutan positif. Saking mengecewakannya film tersebut, Fox sampai harus membuat keputusan drastis dengan menggarap First Class yang bisa dianggap sebagai soft reboot dari seri-seri sebelumnya.

Namun entah mengapa, Simon Kinberg justru memilih saga Dark Phoenix lagi dalam petualangan baru para karakter yang pertama kali dikembangkan dengan susah payah dari era First Class. Keputusan ini seolah mengesankan jika Kinberg dan Fox tidak bisa belajar dari kesalahan. Mereka terburu-buru mengangkat kisah ini sebelum penonton mengenal betul Jean Grey dan karakter penting lainnya.

Padahal, Banyak pihak sudah memahami jika Dark Phoenix merupakan kisah penutup yang harus dibangun dari serangkaian film pengantar, dengan strategi yang benar-benar tertata rapi (seperti saga Infinity War di MCU). Alih-alih merealisasikannya, Fox tampak secara acak memilih alur cerita untuk film-film sebelum Dark Phoenix.

 

5. Tak Menampilkan Karakter-Karakter Favorit

Karakter Favorit X-Men

Jika tidak bisa mengandalkan alur cerita dan kebintangan para pemainnya, film-film X-Men hampir selalu dapat bersinar selama menampilkan karakter favorit seperti Wolverine. Sayangnya, Hugh Jackman sudah resmi menyatakan pensiun dari peran itu setelah Logan, dan Fox tampak enggan melakukan casting baru untuk menggantikan Hugh Jackman. Karena itu, tak heran bila tokoh Wolverine sama sekali tak muncul dalam Dark Phoenix.

Satu-satunya karakter selain Wolverine yang masih berpotensi mengangkat nilai jual Dark Phoenix adalah Quicksilver. Mengapa? Tokoh ini nyatanya sukses menjadi hal yang diapresiasi dari X-Men: Apocalypse, dan bahkan menjadi karakter yang lebih difavoritkan ketimbang Quicksilver versi MCU.

Namun demikian, aksi penyelamatan Quicksilver yang begitu ikonik di Days of Future Past dan Apocalypse entah mengapa relatif absen di Dark Phoenix. Tokoh ini justru cenderung tak dimanfaatkan di sepanjang film. Padahal, karakternya yang unik seharusnya bisa dipasang dengan baik untuk membuat drama Dark Phoenix lebih menghibur.

 

6. Masih "Dihantui" Apocalypse

Kegagalan X-Men: Apocalypse

Film prekuel Dark Phoenix, X-Men: Apocalypse, bukanlah film yang bisa dikatakan sukses dan justru menyisakan banyak keraguan di kalangan para fans. Dengan pendapatan Box Office-nya yang menurun cukup drastis dari film pendahulunya (X-Men: Days of Future Past), Apocalypse juga cuma mendapatkan rating 47% dari Rotten Tomatoes, berbeda jauh dari Days of Future Past yang sukses di-rating setinggi 90%.

Secara keseluruhan, performa buruk yang ditampilkan Apocalypse kembali memicu kekhawatiran jika film X-Men sudah kehilangan momentumnya. Meski Logan yang dirilis setelah Apocalypse mendapat sambutan luar biasa positif, film solo Wolverine itu disajikan sebagai seri terpisah yang tidak terhubung dengan franchise utama X-Men, maupun spin-off lainnya seperti Deadpool.

Mengingat keterkaitan yang begitu kental antara X-Men: Apocalypse dengan Dark Phoenix, banyak fans dan pengamat jadi was-was duluan. Mereka khawatir jika Dark Phoenix tak akan jauh-jauh dari reputasi Apocalypse. Apalagi, Simon Kinberg yang ditunjuk menjadi pengarah film ini baru pertama kali menjajal posisi sutradara, meski sebelumnya sudah sering terlibat sebagai produser dan penulis film-film X-Men.

 

7. Tak Punya Konsep Yang Konsisten

Franchise X-Men

Membangun dunia sinematik seakan menjadi trend yang akhir-akhir ini semakin digrandungi di Hollywood. Setelah kesuksesan MCU, kemudian muncul DCEU, Dark Universe (yang sekarang sudah tidak terdengar kabarnya), The Conjuring Universe, Monster Universe, hingga Fast & Furious Universe.

Film-film X-Men terbitan Fox tampak berusaha ingin meniru trend tersebut, terlihat dari kemunculan beberapa pemain Apocalypse di Deadpool 2, dan dialog-dialog Deadpool yang berulang kali menyinggung keterlibatan Wolverine. Namun demikian, konsep itu tak dimatangkan sehingga tidak memiliki kelanjutan yang pasti.

Fox justru sering mengubah-ubah status filmnya sesuka hati; kadang kala sangat terpisah dari yang lainnya seperti Logan, tapi kadang bisa juga menjadi pertemuan banyak karakter seperti Deadpool 2. Konsep yang mebingungkan ini tak ayal membuat banyak penonton tak lagi antusias mengikuti franchise X-Men. Beberapa di antara mereka bahkan tak lagi bisa mengikuti lini masa yang ingin dihadirkan Fox. Tak dapat dipungkiri, kebingungan dan keengganan ini telah menjadi satu lagi faktor yang menurunkan minat Audience terhadap Dark Phoenix.

Daripada berpusing-pusing menelusuri kaitan film ini dengan seri X-Men sebelumnya, bagi mereka akan lebih mudah menyimak Aladdin yang merupakan film standalone, atau John Wick: Chapter 3 yang alur serinya masih linear dan mudah diikuti.


Demikian adalah uraian mengenai berbagai alasan yang membuat Dark Phoenix berakhir cukup tragis. Akankah MCU berhasil membangkitkan kembali film-film X-Men ke masa kejayaannya? Kita mungkin baru akan mengetahui jawabannya setelah Kevin Feige mengkonfirmasi masuknya X-Men ke dunia sinematik yang diaturnya.

Lagipula, baru-baru ini muncul kabar bahwa X-Men baru akan dihadirkan oleh Studio Marvel di MCU Phase 5. Jadi, tidak usah terburu-buru mengantisipasinya. Kita nikmati saja apa yang dibawakan oleh film-film superhero Marvel di MCU Phase 4 dulu.

Tag: , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi