Tom Holland: Lebih Dari Sekedar Spider-Man Masa Kini

| Tidak ada komentar

Tom Holland: Lebih Dari Sekedar Spider-Man Masa Kini

Sejak muncul sebagai pemain baru Spider-Man di Captain America: Civil War dan sederet film-film MCU lainnya, kehadiran Tom Holland seolah terus menjadi pusat perhatian media maupun publik Hollywood. Namun di balik semua itu, siapa sangka jika aktor muda ini sudah berkarir di dunia perfilman sejak tahun 2012? Selain itu, tahukah Anda jika ia awalnya tak pernah berpikir untuk menjadi aktor?

Dilahirkan di keluarga pecinta seni di Kingston upon Thames, London, Tom Holland mengawali kiprahnya di usia belia sebagai penari. Alih-alih mengembangkan karirnya sebagai penari latar, ia justru melakukan debut di pertunjukan teater Billy Elliot di West End, yang membuat para pencari bakat mulai mengenali keahliannya sebagai aktor.

Dengan pembawaannya yang ceria dan ramah, aktor kelahiran 1 Juni 1996 ini pun tumbuh menjadi bintang menjanjikan yang membuat Marvel terpikat. Karakternya dianggap mampu menghadirkan sesuatu yang baru pada penokohan Spider-Man di layar lebar, sehingga tak heran jika sosoknya saat ini banyak dielu-elukan oleh para penggemar dari berbagai kalangan, mulai dari pecinta MCU hingga fans garis keras yang mengikuti semua filmnya.

Namun sebelum terjun ke MCU sebagai Spider-Man, Tom Holland ternyata sempat mencuri perhatian para pengamat film lewat film high profile yang masuk nominasi Oscar, yakni The Impossible.

Baca juga: 12 Franchise Film Terlaris Dalam Sejarah Box Office

Berikut adalah sekelumit fakta-fakta menarik lain dari Tom Holland yang membuatnya lebih dari sekedar Spider-Man masa kini…

 

Pernah Jadi Korban Bully

Tom Holland di-bully

Tom Holland sudah tertarik menjadi penari bahkan ia sejak masih dalam gendongan ibunya. Untuk mengembangkan ketertarikan itu, Tom pun didaftarkan di sebuah sekolah tari yang mengajarkannya beragam jenis koreo, mulai dari ballet hingga hip hop. Sayangnya, hal ini justru membuat ia sering di-bully di sekolahnya.

Ia mengaku tak pernah berkecil hati meski sering diolok-olok. Hebatnya, ia justru menjadikan hal itu sebagai pemacu untuk membuktikan dirinya, diawali dengan kesuksesannya dalam audisi pementasan Billy Elliot. Bahkan hingga ia sukses seperti sekarang pun, Tom Holland masih belum melupakan bagaimana pengalamannya sebagai korban bully bisa membantunya mencapai keberhasilan sebagai aktor.

"Saya, seperti Peter Parker, menyadari bahwa saya bukanlah bagian dari anak-anak keren di sekolah, dan justru menemukan kawan-kawan saya sendiri dan bergaul dengan mereka," kenangnya saat diwawancara oleh majalah People.

 

Tidak Bercita-cita Menjadi Aktor Film

Cita - Cita Tom Holland

Perlu diketahui, darah seni Tom Holland mengalir dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Dominic Holland, adalah seorang komedian, pembawa acara, dan penulis. Sementara itu, ibunya merupakan seorang fotografer.

Meski dikelilingi oleh sosok-sosok seperti itu, Tom sama sekali tak memiliki cita-cita untuk menjadi figur terkenal dari bakat seni yang dimilikinya. Keadaan ini bahkan masih bertahan ketika ia sudah merasakan glamornya panggung West End saat bermain sebagai Billy Elliot.

Dalam sebuah interview di radio, ayah Tom justru menyebut kesuksesan sang anak berasal dari faktor keberuntungan. "Dia tidak pernah sekolah teater, drama, ataupun ikut pelatihan (akting) apapun," tutur Dominic Holland.

Tom sendiri mengaku mulai tertarik menjadi aktor setelah ia melihat kesuksesan The Impossible. "Saya selalu tahu jika saya ingin meniti karir di bidang seni pertunjukan, saya hanya tak tahu jika itu adalah dengan berakting di film-film," akunya di tahun 2012.

 

Punya Tujuan Hidup Yang Terorganisir

Target Tom Holland

Dengan kepribadiannya yang down-to-earth, senang bercanda, dan terkenal tidak mampu menyimpan rahasia (sehingga sering menyebarkan spoiler), tak banyak orang yang mengira jika Tom Holland sebenarnya adalah sosok yang sangat terorganisir.

Ya, dari hasil wawancaranya bersama The Hollywood Reporter, aktor yang pernah bermain dengan Chris Hemsworth di In the Heart of the Sea ini mengaku punya target-target jangka panjang yang terstruktur.

"Tujuan dalam 20 tahun ke depan adalah menjadi sutradara film, dalam 15 tahun ke depan adalah (untuk) bisa memenangkan Oscar, sementara 5 tahun ke depan masih ditujukan untuk bersenang-senang menikmati hidup," kata Tom Holland.

Sembari menunjuk Leonardo DiCaprio, Meryl Streep, dan Jake Gyllenhaal sebagai inspirasinya, Tom menegaskan bahwa ia kini ingin menjadi bintang besar, siap bekerja keras untuk mencapainya, dan sudah punya rencana tentang bagaimana mencapai tujuannya. Yang jelas, Tom Holland menyatakan bahwa ia akan selalu siap mengambil peran-peran menantang yang bisa mempengaruhi karirnya secara signifikan.

 

Khawatir Dengan Efek Popularitas

Popularitas Tom Holland

Sudah bukan rahasia lagi jika Hollywood bisa menjadi tempat yang mewujudkan impian sekaligus menghempaskannya. Setiap calon bintang yang datang ke Hollywood untuk mengejar cita-cita harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk; gagal mendapat popularitas dan terjebak bermain di proyek-proyek kelas B, serta hidup serba kekurangan. Meski demikian, mereka yang berhasil sukses akan menangguk popularitas serta pendapatan melimpah, yang bisa membuat siapa saja serasa menjadi penguasa dunia.

Inilah hal yang dikhawatirkan oleh Tom Holland di puncak kejayaannya saat ini. Tidak seperti artis muda yang suka terlarut dalam selebrasi kesuksesannya, Tom justru sangat takut dikuasai oleh efek popularitas yang masif.

"Hal terburuk saat menjadi terkenal adalah ketika Anda mulai mempercayainya. Orang-orang akan bilang Anda menakjubkan dan fantastis sepanjang waktu, dan Anda mulai yakin bahwa diri Anda memang mengesankan. (Padahal) saya hanyalah seorang anak dari Kingston," ungkapnya pada media Short List.

Ketika baru saja debut melalui The Impossible, Tom Holland bahkan sudah meminta wejangan dari Drew Barrymore, aktris kenamaan yang dulunya tumbuh sebagai bintang cilik di Hollywood. Selain kesadaran diri yang patut diacungi jempol, kehati-hatian Tom Holland untuk tak menjadi tinggi hati agaknya juga turut dibantu oleh dukungan penuh dari keluarganya.

"Keluarga saya sudah seperti mengikat saya di bawah! Ini begitu penting dan saya begitu berterima kasih mereka telah melakukannya, karena jika tidak begitu, Anda bisa kehilangan arah di dunia Hollywood yang begitu indah," ujarnya saat di-interview Evening Standard. Hal ini mengisyaratkan bahwa keluarga Tom Holland selalu mengingatkannya untuk menjadi sosok yang rendah hati meski ia sedang berada di puncak ketenarannya.

 

Kompak Dengan Keluarga

Keluarga Tom Holland

Bagi Anda yang menjadi penggemar Tom Holland atau sekedar follow akunnya di media sosial, pasti sudah tak asing dengan saudara-saudara Tom yang sering ia ajak kemana-mana dan kerap disebutkannya di berbagai interview.

Saking akrabnya Tom dengan saudara-saudaranya, mereka tak segan meminta tolong pada Tom saat kehabisan dana ketika berlibur. Hal ini diceritakan langsung oleh ayah Tom, yang mengaku jika kesuksesan besar putranya itu telah mengubah perannya sebagai salah satu pencari nafkah di keluarga mereka.

Meski demikian, penghasilan fantastis Tom tidak hanya dimanfaatkan untuk bersenang-senang. Faktanya, mereka juga membentuk Brothers Trust untuk mendukung berbagai kegiatan amal. Sejauh ini, sistem itu telah berpartisipasi dalam program bantuan Lunchbowl Network untuk anak-anak di Nairobi, juga mendukung Momentum, sebuah program amal yang berkedudukan di rumah sakit Kingston, tempat Tom dan saudara-saudaranya dilahirkan.

 

Punya Etos Kerja Yang Mengagumkan

Komitmen Tom Holland

Sama seperti Peter Parker yang ingin selalu melakukan hal terbaik untuk membuktikan dirinya, Tom Holland juga merupakan tipe pekerja keras yang memiliki ambisi untuk menjadi aktor berkomitmen. Ia mengakui sendiri jika ia selalu berupaya bekerja lebih keras dari pemain lainnya di lokasi syuting, karena suatu saat nanti ia memang ingin mencoba berperan di belakang kamera.

Lebih dari itu, ia selalu datang awal ke lokasi syuting, tinggal paling lama di sana, dan rela dikirim kemana-mana untuk mempromosikan filmnya, termasuk juga ke Indonesia seperti yang baru-baru ini ia lakukan. Bisa dibilang, Tom tak pernah setengah-setengah dalam melakukan segalanya.

 

Sering Kangen Dengan Anjing Kesayangannya

Tom Holland dan anjing kesayangannya

Selain dikenal baik, rendah hati, dan berbakat, Tom Holland rupanya juga seorang pecinta anjing. Kebersamaan dengan Tessa si anjing peliharaannya bisa jadi merupakan pengorbanan paling berat yang ia rasakan sebagai aktor Hollywood. Faktanya, Tessa memang menjadi kawan yang selalu setia menemaninya, bahkan ketika Tom pertama kali mengetahui keberhasilannya mendapatkan peran Peter Parker.

Kini setelah ia mendapat banyak job sebagai aktor yang sering berpindah lokasi syuting ataupun ikut acara promosi ke berbagai negara, Tom pun tak bisa selalu bersama Tessa. Untuk mengatasi rasa kangennya, Tom sering melakukan Video Call dengan hewan yang sering dipanggilnya "angel" itu, atau hanya menatapi fotonya di sebuah cangkir yang dihadiahkan oleh orang tuanya.

 

Aktif Bermain Di Film Drama

Tom Holland di film drama

Nama Tom Holland mungkin paling akrab dikaitkan dengan Spider-Man. Namun sebenarnya, aktor yang pernah menghebohkan panggung Lip Sync Battle karena performance-nya sebagai Rihanna ini nyatanya lumayan sering terlibat dalam film-film drama berbobot.

Selain The Impossible, Tom Holland tercatat pernah bermain di film Locke, Edge of Winter, The Lost City of Z, dan The Current War. Ke depan, ia juga merambah ke film-film animasi lewat Spies in Disguise dan Onward. Tom juga terlibat di 2 proyek film potensial seperti The Voyage of Doctor Dolittle dan The Devil All the Time.

 


Demikianlah segelintir fakta-fakta unik mengenai Tom Holland, yang menyiratkan bahwa ia bukanlah sekedar bintang muda yang tengah menikmati popularitasnya dengan bersenang-senang saja. Semoga dengan kisah di atas, kita bisa belajar bahwa perjuangan akan selalu membuahkan hasil, dan hubungan dekat dengan keluarga akan selalu membantu kita untuk tak lupa diri. Selain itu, kegigihan Tom untuk selalu berkomitmen menjadi yang terbaik juga patut diapresiasi.

Lantas, apakah resolusi jangka panjangnya bisa tercapai dalam time frame waktu yang ia tentukan? Kita tunggu saja kepastiannya 15 tahun lagi…

Tag: , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi