7 Film Yang Dibatalkan Karena Alasan Tak Biasa

| Tidak ada komentar

7 Film Yang Dibatalkan Karena Alasan Tak Biasa

Film-film ini tadinya bisa menjadi tontonan menarik atau bahkan menjadi sajian Blockbuster yang sukses. Namun karena berbagai alasan tak biasa seperti terjadinya tragedi besar, pemikiran paranoid dari eksekutif studio, hingga kegagalan studio menegosiasikan masalah gaji, film-film hebat ini tak jadi dirilis di pasaran.

1. City of Lies

Film yang dibatalkan selama masa pra-produksi atau bahkan saat diproduksi mungkin sudah biasa. Namun, City of Lies justru batal beredar setelah semua proses produksinya selesai dan menghabiskan budget hingga 50 juta Dolar AS.

Padahal, film ini cukup diantisipasi karena bakal menampilkan Johnny Depp sebagai detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan dua rapper ternama, Tupac Shakur dan The Notorious B.I.G. Walaupun diadaptasi dari buku LAbyrinth karangan Randall Sullivan, film ini didasarkan pada kejadian nyata yang sempat menggemparkan dunia musik beberapa tahun silam.

City of Lies awalnya dijadwalkan meluncur pada Mei 2018. Namun tanpa suatu alasan yang jelas, rilisnya dimundurkan ke bulan September. Saat itu, publik menduga jika ini ada kaitannya dengan kasus perceraian Johnny Depp dengan Amber Heard yang memang sedang panas-panasnya.

Baca juga: 10 Aktor Dengan Gaji Termahal Sepanjang Masa

Namun hingga artikel ini diturunkan pada Juli 2019, belum ada kabar kepastian mengenai peluncuran film ini. Media pun mulai mengkategorikan City of Lies sebagai film yang dibatalkan, walaupun alasan di balik hal itu masih menjadi spekulasi sampai saat ini.

Brad Furman selaku sutradara film tersebut meyakini jika ada pihak-pihak yang tidak menginginkan City of Lies dirilis. Ia pernah mendapatkan telepon dari seorang mantan polisi yang memperingatkannya untuk waspada terhadap aksi penyadapan.

Mengingat kasus pembunuhan Tupac dan he Notorious B.I.G. memang menjadi catatan kelam dalam sejarah keamanan Los Angeles, tak sedikit pihak yang menduga jika pembatalan City of Lies bisa jadi terkait dengan perintah langsung dari LAPD (Departemen Kepolisian Los Angeles).

 

2. Forrest Gump 2

Forrest Gump 2

Tragedi 9/11 yang menandai runtuhnya menara WTC oleh serangkaian aksi terorisme dikabarkan menjadi penyebab sekuel Forrest Gump urung dibuat. Bagaimana bisa? Well, tema Forrest Gump yang sedikit banyak mengadaptasi kejadian-kejadian bersejarah membuat film tersebut memiliki nilai lebih dan ciri khas tak terbantahkan.

Eric Roth yang menulis naskah film pertama tadinya sudah mematangkan skenario untuk Forrest Gump 2. Ide-idenya meliputi Forrest Gump yang ikut "numpang" dalam insiden kejar-kejaran mobil OJ Simpson, berdansa dengan Putri Diana sebelum kematiannya, dan terseret dalam insiden pengeboman Oklahoma City tahun 1995.

Sayangnya, naskah Forrest Gump 2 diserahkan pada tanggal 10 September 2001, tepat sehari sebelum peristiwa 9/11 terjadi. Ketika Hans Zimmer sang sutradara dan Tom Hanks duduk bersama Roth untuk mendiskusikan kelanjutan Forrest Gump 2, mereka sama-sama sepakat jika film tersebut "tak akan punya arti lagi".

Dilemanya seperti ini: Forrest Gump 2 tentu tak bisa melewatkan tragedi 9/11 dalam ceritanya, namun untuk mengangkat insiden itu tentu akan sangat riskan karena banyak pihak masih sangat sensitif dengan fiksionalisasi insiden tersebut.

 

3. ET 2

ET 2

Satu lagi sekuel dari film legendaris yang terpaksa dibatalkan karena alasan tak biasa adalah ET 2. Hingga saat ini, film pertamanya, E.T. The Extraterrestrial, telah menjadi film klasik yang tidak hanya sukses besar secara Box Office, tapi juga diakui kritik sehingga menjadi salah satu film penting dalam sejarah karir Steven Spielberg. Sayangnya, hal tersebut gagal diikuti oleh rencana pembuatan sekuelnya.

Diplot dengan judul E.T. 2: Nocturnal Fears, film lanjutan tersebut dianggap terlalu mengerikan dan bakal merusak citra yang dibuat oleh film pertamanya. Bayangkan saja, kisah ET 2 direncanakan berfokus pada sekelompok alien albino yang berperang dengan spesies E.T. dan memburu mereka hingga ke bumi.

Tak kenal ampun, perburuan itu menyebabkan hewan-hewan ternak yang termutilasi, juga penculikan dan penyiksaan Elliott (sahabat manusia E.T.). Bahkan, Elliott juga diceritakan tengah menghadapi isu perceraian orang tuanya.

Kisah persahabatan yang indah antara Elliott dan E.T. di film pertama tentu akan buyar seketika jika sekuelnya dibuat sebrutal dan segelap itu. Bahkah Spielberg sendiri pun setuju jika sekuel ET sebaiknya tak usah dibuat saja.

 

4. Star Trek: Planet Of the Titans

Star Trek: Planet of the Titans

Film ini tadinya akan menjadi versi tontonan Star Trek pertama di layar lebar. Namun proses pengerjaannya sudah menemui banyak hambatan sejak awal. Naskahnya mengalami banyak penulisan ulang, dan produksinya juga diundur hingga beberapa kali. Ketika storyline Planet of the Titans sudah disepakati dengan target rilis di tahun 1977, pihak studio justru meragukan potensinya.

Barry Diller dari Paramount kala itu khawatir jika tren tontonan science fiction akan segera mati. Padahal, serial TV Star Trek saat itu sedang sangat booming dan digandrungi khalayak. Ketika film pertama Star Wars meluncur tak lama kemudian dan sukses besar, terbuktilah jika opini Diller hanya refleksi dari rasa paranoid yang berlebihan dan tak beralasan.

Paramount pun tak ingin banyak membuang waktu untuk mengejar keberhasilan Star Wars. Sayangnya, mereka tidak memutuskan untuk melanjutkan proyek Star Trek: Planet Of the Titans. Studio itu justru menginginkan naskah baru yang kemudian direalisasikan menjadi Star Trek: The Motion Picture, dan dirilis pada tahun 1979.

 

5. Sekuel Who Framed Roger Rabbit?

Sekuel Who Framed Roger Rabbit

Who Framed Roger Rabbit? adalah karya Robert Zemeckis yang mengkombinasikan animasi dan Live Action dalam satu tontonan. Film ini dianggap sangat menggebrak di masanya, dan berhasil menarik perhatian penonton dari semua kalangan berkat kepiawaiannya menggabungkan visual kartun dan konten yang menantang.

Disney pun berkeinginan mengikuti kesuksesan tersebut dengan film sekuel. Tak tanggung-tanggung, sutradara Robert Zemeckis yang kembali untuk menangani film kedua, rencananya akan dipasangkan dengan Steven Spielberg yang menduduki posisi Executive Producer.

Sayangnya, proyek yang berjudul Roger Rabbit: The Toon Platoon dan mengambil fokus cerita pada masa Perang Dunia II ini urung meluncur karena komitmen Spielberg terhadap Schindler's List. Persoalannya bukan karena jadwal syuting yang bentrok atau semacamnya, tapi lebih kepada pertimbangan moral Spielberg sendiri.

Sutradara kondang itu merasa tak pantas men-satir-kan tragedi Perang Dunia II melalui sekuel Who Framed Roger Rabbit?, karena ia telah mendalami betul kisah pilu para korban Perang Dunia II lewat Schindler's List.

CEO Disney kala itu, Michael Eisner, sempat mengupayakan kembali proses pengembangan Roger Rabbit: The Toon Platoon di tahun 1997. Namun naiknya popularitas animasi CGI dari Pixar membuat konsep Who Framed Roger Rabbit? jadi terkesan ketinggalan zaman, sehingga praktis tak ada harapan lagi untuk film yang dulunya dianggap potensial ini.

 

6. Halo

Film adaptasi Halo

Para penggemar video game pastinya sudah akrab dengan nama yang satu ini. Ya, video game flagship dari Microsoft ini sempat akan diadaptasi ke layar lebar dalam format Live Action, dengan nama-nama besar seperti Alex Garland, Peter Jackson, dan Guillermo del Toro yang masing-masing tertarik berpartisipasi menjadi penulis, produser, dan sutradara.

Namun, Microsoft yang sedari awal enggan menjual hak cipta Halo pada studio-studio Hollywood, menginginkan kontrol penuh terhadap arah produksi film adaptasinya. Hal ini membuat koalisi Fox dan Universal yang awalnya tertarik mendistribusikan film ini menjadi buyar. Bahkan, del Toro sampai dipecat dan digantikan oleh Neill Blomkamp, sebelum akhirnya proyek film Halo benar-benar dibatalkan.

Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di balik insiden pembuatan film adaptasi Halo. Yang jelas, Blomkamp sampai bersumpah tak ingin bekerjasama dengan Fox lagi setelah carut-marut masalah film ini.

 

7. Crossover Men in Black Dan 21 Jump Street

Crossover MIB dan 21 Jump Street

Ketika kombinasi ini pertama kali terkuak lewat insiden kebocoran data Sony pada 2014 lalu, banyak pihak yang menganggapnya sebagai ide gila dan mustahil, meski akhirnya tak sedikit pula yang mengantisipasinya.

Ini bisa jadi proyek kolaborasi yang lebih ambisius dari Avengers: Infinity War, karena baik Men in Black maupun 21 Jump Street merupakan 2 franchise besar yang sama sekali tak memiliki benang merah, meskipun sama-sama bergenre action komedi.

Dengan James Bobin di kursi sutradara dan Jonah Hill, Channing Tatum, serta bintang-bintang lain yang akan memerankan agen MIB baru, film crossover ini tadinya dianggap cukup menjanjikan. Akan tetapi, Sony selaku studio yang menaungi proyek ini gagal mengumpulkan tim kreatif inti untuk bekerjasama.

Seharusnya, Steven Spielberg yang selama ini selalu berperan sebagai produser film-film MIB, Chris Miller dan Phil Lord yang sukses menulis skenario 21 Jump Street, dan sederet produser dari Sony lainnya, mampu berkolaborasi untuk merealisasikan proyek crossover ini. Nyatanya, Sony justru kewalahan mempersatukan figur-figur tersebut karena masalah imbalan.

Persoalan kemudian semakin diperkeruh dengan penolakan Neal Moritz untuk berkompromi dengan tim kreatif. Sebagai informasi, Moritz sendiri adalah salah satu produser penting dari Sony yang baru-baru ini juga terlibat konflik dengan film spin-off Fast & Furious.

Tak ingin terjebak dalam kubangan masalah yang tiada akhir, Sony akhirnya mengambil jalan pintas dengan membatalkan proyek crossover ini, me-reboot seri MIB dengan Men in Black: International, dan berencana merilis film baru 21 Jump Street versi wanita dengan Tiffany Haddish dan Zendaya di kursi pemain utama.

 


Demikianlah contoh 7 film yang batal diputar di bioskop-bioskop karena masalah tak biasa. Alasan-alasan di atas dianggap tak biasa karena pada umumnya, studio akan merilis pernyataan resmi yang berbunyi "perbedaan arah kreativitas" di antara tim kreatif, sebagai biang di balik pemecatan, penundaan, atau bahkan pembatalan dalam suatu proyek film.

Dengan begitu ekstrimnya faktor-faktor yang menggelayuti proses produksi 7 film di atas, apakah film-film di atas menurut Anda memang layak "digudangkan", atau justru sebenarnya masih pantas "diperjuangkan"? Ditunggu ya komentarnya..

Tag: , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi