7 Film Superhero Anti Mainstream Yang Wajib Ditonton

| Tidak ada komentar

7 Film Superhero Anti Mainstream Yang Wajib Ditonton

Anda penggemar superhero? Jika ya, maka berbahagialah karena era film saat ini begitu memanjakan fans film superhero dengan konten-konten berkualitas dan menghibur dari MCU, DCEU, Sony, hingga Fox. Namun di luar film-film mainstream dari studio besar itu, tahukah Anda jika ada pula film-film superhero menarik yang dirilis tapi tak banyak mendapat atensi?

Akrab dikenal sebagai film underrated, 7 tontonan ini bisa jadi tenggelam di tengah gencarnya kedatangan film-film superhero berbudget besar seperti Avengers, Spider-Man, Justice League, dan semacamnya. Meski jarang diekspos, esensi film-film yang termasuk dalam daftar ini tetap berfokus pada seseorang atau sekumpulan tokoh yang memiliki kekuatan super, dan membela kebenaran meski kadang dengan cara mereka sendiri.

 

1. Sky High (2005)

Bagaimana jadinya jika para superhero sudah berkeluarga dan anak-anak mereka bersekolah di akademi khusus yang mengakomodasi kemampuan super mereka? Inilah premise yang ditawarkan Sky High, sebuah film superhero yang kental dengan nuansa drama remaja karena berfokus pada petualangan para siswa underdog.

Baca juga: Liu Yifei Dukung Polisi Hong Kong, Mulan Terancam Diboikot

Barangkali karena temanya yang ringan, ditambah dengan statusnya sebagai film Disney, Sky High kurang diperhitungkan sebagai tontonan superhero yang mampu berkompetisi dengan Batman, Superman, Avengers, dkk. Padahal, film yang dibintangi Michael Angarano, Danielle Panabaker (serial TV The Flash), dan Kurt Russell (Guardians of the Galaxy Vol. 2) ini tidak bisa dibilang gagal di Box Office (meraup 86.4 juta Dolar AS dari budget 20 juta Dolar AS), dan mendapat rating yang lumayan positif dari para kritikus (73% di Rotten Tomatoes).

Menurut Lauren Thoman dari Looper, ketidakberhasilan Sky High mengukir jejak sebagai film superhero yang ikonik kemungkinan besar disebabkan oleh waktu rilisnya. Diluncurkan pada Juli 2005, film yang juga menampilkan Mary Elizabeth Winstead (10 Cloverfield Lane) ini memang berkompetisi dengan Batman Begins, film pertama dalam trilogi Batman Christopher Nolan yang fenomena kesuksesannya tak perlu diragukan lagi.

 

2. Unbreakable (2000)

Ketika film ini dirilis di pasaran, genre superhero belum selaris manis sekarang; film pertama Spider-Man yang memicu kebangkitan era superhero baru dirilis 2 tahun kemudian. Audience kala itu juga masih agak jenuh dengan Batman Returns, Batman Forever, serta Batman & Robin yang meluncur di sepanjang dekade '90-an dan semuanya gagal memenuhi ekspektasi.

Maka dari itu, keberanian M. Night Shyamalan untuk menggarap Unbreakable dianggap cukup luar biasa di masanya. Apalagi, ia tidak mengedepankan adegan action dan efek visual yang selama ini kental melekat di berbagai tontonan superhero.

Ia lebih memilih untuk menceritakan dilema tokoh berkekuatan super dari sudut pandang orang biasa. Menariknya lagi, penonton terus dibuat penasaran dengan sosok lain yang berupaya meyakinkan sang superhero atas perannya di dunia ini.

Walaupun Unbreakable tidak menikmati kesuksesan setara dengan trilogi Spider-Man dan film-film MCU, para pengamat mengapresiasi kualitas film ini karena sukses menyajikan studi karakter yang menarik dan drama anti mainstream untuk seukuran film superhero. Tujuh belas tahun sesudahnya, M. Night Shyamalan secara tak terduga merilis Split yang diplot sebagai sekuel Unbreakable, dan menutup kisah dua film tersebut dalam Glass yang baru meluncur pada awal tahun 2019 ini.

 

3. Chronicle (2012)

Jika para superhero biasanya dipuji karena tindakan mereka yang suka membela kebenaran dan rela berkorban demi keselamatan umum, maka tidak demikian halnya dengan 3 remaja yang menjadi lakon di film ini. Disutradarai Josh Trank dan dibintangi Dane DeHaan (The Amazing Spider-Man 2), Alex Russell, serta Michael B. Jordan (Black Panther), Chronicle mengisahkan lika-liku drama 3 anak sekolahan setelah mereka mendapat kekuatan super.

Alih-alih menggunakan berkat itu untuk kebaikan, Andrew yang sudah bertahun-tahun tertekan sebagai korban bully dan KDRT justru menggunakannya untuk melukai para penindasnya. Tak pelak, film ini pun menampilkan kisah seorang antihero yang menarik ulur simpati penonton dengan tragedinya.

Dari segi pendapatan, Chronicle bisa dikatakan sukses besar karena meraup 126.6 juta Dolar AS dari budget senilai 12 juta Dolar AS saja. Review untuk film ini pun terhitung positif, dengan rating 85% yang berhasil didapatkan dari agregat Rotten Tomatoes.

Namun karena tidak ada sekuel yang mengikuti di tahun-tahun berikutnya, jejak keberhasilan Chronicle seolah menguap begitu saja. Di tahun 2019, tidak akan ada pihak yang menyandingkan skala kesuksesan film ini dengan film MCU atau bahkan DCEU.

Hal ini cukup disayangkan, mengingat Fox selaku distributor film ini sebenarnya sudah merencanakan Chronicle sebagai pembuka sebuah trilogi. Max Landis bahkan sudah direkrut untuk menulis naskah film kedua dan ketiga, meski Josh Trank belum dipastikan kembali. Namun karena silang pendapat dan kecocokan terkait skenario, proyek trilogi Chronicle akhirnya menggantung dan lama-lama ditinggalkan.

 

4. Watchmen (2009)

Sebelum Zack Snyder menangani DCEU, ia ternyata sudah mencuri perhatian lewat sajian superhero yang berfokus pada tokoh-tokoh anti mainstream. Bahkan, bisa dikatakan jika gaya penyutradaraannya untuk film inilah yang membuat DCEU tertarik merekrutnya. Melalui Watchmen, Snyder memang dianggap sukses menyalurkan bakatnya merangkai tontonan superhero anti mainstream yang bernuansa thriller, kelam, dan cenderung realistis.

Visi Snyder ini mendatangkan pendapatan yang cukup moderat untuk seukuran film superhero, meski ulasan kritik untuknya cukup beragam. Em Casalena dari Screenrant bahkan menyebut Watchmen sebagai film yang tidak bisa memicu respon netral; opini Audience akan selalu terpecah antara yang sangat suka dan sangat tidak suka.

Karena itulah, Watchmen hanya bisa menjadi tontonan favorit bagi sebagian kalangan saja, serta tidak diikuti dengan sekuel yang berpotensi mematenkan jejaknya untuk menjadi film superhero populer.

 

5. The Specials (2000)

Selain Watchmen, satu lagi film superhero yang melibatkan sutradara ikonik sebelum ia dikenal luas adalah The Specials. Kali ini, sosok James Gunn-lah yang kita bicarakan. Film yang cuma mengumpulkan 13,276 Dolar AS di bioskop ini ditulis oleh sutradara film-film Guardians of the Galaxy itu, tapi sayangnya kurang mendapat sambutan hangat di kalangan kritikus.

Meski demikian, film ini masih layak dipertimbangkan jika Anda menyukai sajian superhero, dan sedang bosan dengan formula mainstream dari MCU maupun DCEU. Premise-nya, The Specials menampilkan suka duka kelompok superhero yang tidak terlalu terkenal dan seringkali berhadapan dengan lawan yang membosankan.

Tak banyak action ataupun efek visual yang bermain di film ini, karena Anda akan dibawa masuk ke dalam kehidupan sehari-hari para superhero tersebut. Menariknya lagi, James Gunn juga ikut berakting sebagai salah seorang superhero.

Dalam membawakan nilai yang ingin disampaikan ke penonton, film ini memiliki sedikit kemiripan dengan Sky High, karena tidak hanya menampilkan kumpulan superhero yang berjuang membela kebenaran, tapi juga mewakili kelompok underdog yang jarang terekspos sebagai tokoh utama di film-film populer.

 

6. Defendor (2009)

Tidak banyak yang tahu jika sebelum bergabung di seri The Hunger Games dan tampil di serangkaian film-film bergengsi lainnya, Woody Harrelson ternyata pernah menjadi superhero lewat film Defendor.

Didistribusikan oleh studio Alliance Films, Defendor hanya tayang secara terbatas di bioskop-bioskop AS, dan cuma mengumpulkan income sebesar 44,462 Dolar AS saja. Meskipun ulasan kritiknya tidak terlampau fenomenal, konsep penokohan Defendor yang cukup unik membuat film ini tak bisa dilewatkan oleh para pecinta film superhero.

Dikisahkan, Defendor adalah identitas superhero dari Arthur Poppington, seorang pria yang mendedikasikan waktunya di malam hari untuk mencari sosok villain yang menurutnya bertanggung jawab atas kematian ibunya. Defendor tidak memiliki kekuatan super layaknya Superman atau keahlian menggunakan senjata maupun teknologi canggih seperti Batman. Namun, determinasinya menjadi sosok pembela keadilan merupakan simbol bahwa jiwa superhero bisa bersemayam dalam diri siapapun; bahkan dalam diri Arthur yang dari awal sudah terindikasi memiliki gangguan mental dan gemar berhalusinasi.

Selain menampilkan Woody Harrelson yang kini menjadi salah satu aktor besar di Hollywood, Defendor juga dibintangi oleh Kat Dennings, pemeran Darcy dalam film pertama Thor dan Thor: The Dark World.

 

7. Push (2009)

Penampilan Chris Evans sebagai Johnny Storm dalam Fantastic Four mungkin sudah jadi berita lama yang diketahui oleh semua penggemar MCU. Namun tahukah Anda jika sebenarnya, aktor pemeran Captain America ini juga pernah memainkan tokoh berkekuatan super di luar film-film MCU dan Fantastic Four?

Ya, melalui Push yang dibintanginya bersama Dakota Fanning, Camilla Belle, serta Djimon Hounsou (Captain Marvel), Chris Evans bersinar sebagai seorang "mover", istilah khusus yang disematkan pada orang-orang berkemampuan telekinesis.

Bisa dikatakan, storyline Push terjalin dalam dunia yang sudah mengetahui keberadaan para pemilik kekuatan super. Namun, agensi pemerintah bernama The Division kerap menyiksa mereka sebagai objek percobaan untuk membuat pasukan super. Akibatnya, para tokoh utama di film ini pun berupaya lari dari kejaran otoritas yang menginginkan dominasi penuh atas kemampuan mereka.

Push gagal menjadi film superhero populer karena lebih menitikberatkan nuansa action yang dibumbui cerita super kompleks. Banyaknya karakter sampingan dan sub-plot yang tidak terjalin dengan rapi juga membuat film ini gagal mengesankan Audience maupun kritikus. Maka dari itu, tak heran jika sekuel yang sudah diindikasikan di sepanjang film tak jadi dibuat oleh Summit Entertainment selaku studio distributornya.

Meski demikian, Push tetap menarik untuk disimak bagi Anda yang tertarik mengikuti performa Chris Evans di luar Captain America. Jika penampilannya sebagai Johnny Storm merupakan kebalikan dari Steve Rogers karena gegabah dan sama sekali tidak bisa diajak serius, maka peran Evans sebagai Nick Gant di film Push merupakan pertemuan antara Johnny Storm yang kurang bertanggung jawab, dan Steve Rogers yang super serius di momen-momen krusial.

 


Menikmati sebuah tontonan favorit tidak harus selalu sejalan dengan favorit massa. Kadang kala, beristirahat sejenak dari formula film populer untuk menyimak tontonan anti mainstream bisa menjadi hobi alternatif yang menyegarkan perspektif Anda. Nah, dari 7 film di atas, manakah yang menurut Anda paling menarik untuk mulai ditonton?

Tag: , , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi