Selain Midsommar, Ini Dia 7 Film Yang Gagal Tayang Di Indonesia

| Tidak ada komentar

Selain Midsommar, Ini Dia 7 Film Yang Gagal Tayang Di Indonesia

Kontroversi penayangan film Midsommar cukup ramai dibahas belakangan ini. Meski belum dikonfirmasi penyebabnya, film horor ini diduga tidak lulus sensor karena muatannya yang vulgar. Namun tahukah Anda? Indonesia ternyata pernah tidak meloloskan 7 film lain dengan berbagai alasan, mulai dari kepentingan politik hingga ajaran agama. Apa sajakah film tersebut?

 

1. Max Havelaar

Max Havelaar

Masih ingat dengan pelajaran sejarah di bangku sekolah? Jika ya, nama Max Havelaar mungkin tak asing di telinga Anda. Dikenal sebagai buku karangan Multatuli yang dianggap krusial karena memaparkan penjajahan rakyat Indonesia, kisahnya ternyata pernah diangkat di layar lebar pada tahun 1976.

Disutradarai oleh Fons Rademakers dan diproduksi sebagai film Belanda, Max Havelaar juga dibintangi oleh artis-artis Indonesia seperti Rima Melati, Maruli Sitompul, dan Nenny Zulaini.

Baca juga: James Cameron Lega Dengan Pencapaian Avengers: Endgame

Sayangnya, film ini dilarang tayang di bioskop-bioskop Indonesia oleh pemerintah Order Baru saat itu. Tema kolonialisme yang menekan kebebasan rakyat Indonesia di Max Havelaar dianggap menyentil rezim pemerintah Indonesia yang berkuasa kala itu. Meski demikian, larangan tayang film ini kemudian dicabut pada tahun 1987.

Di Belanda sendiri, Max Havelaar tampaknya mendapat apresiasi yang cukup baik (setidaknya dari para kritikus). Hal itu terlihat dari terpilihnya film ini untuk mewakili Belanda dalam seleksi Best Foreign Language Film di Academy Awards.

 

2. The Year of Living Dangerously

The Year of Living Dangerously

Tak jauh berbeda dari Max Havelaar, larangan tayang film ini juga masih berhubungan dengan kekangan dari pemerintah Order Baru. Padahal, film Australia ini disutradarai dan dibintangi oleh figur-figur yang sangat tenar.

The Year of Living Dangerously sebenarnya diangkat dari novel berjudul sama karya Christopher Koch. Film rilisan tahun 1982 ini dibesut oleh Peter Weir, sutradara yang sekarang dikenal berprestasi mengantongi 6 nominasi Oscar melalui film-film seperti Dead Poets Society, Green Card, dsb.

Apa yang membuat film ini "dijegal" oleh pemerintah Indonesia adalah fokus kisahnya yang berlatar di masa transisi pemerintahan Order Lama ke Order Baru. Bisa dikatakan, The Year of Living Dangerously menampilkan sudut pandang para jurnalis dan diplomat asing ketika Indonesia dihebohkan oleh insiden G30S/PKI.

Di sini, aktor Mel Gibson muda berperan sebagai jurnalis Australia yang berambisi meliput situasi politik di Indonesia, sementara Sigourney Weaver menjadi asisten diplomat Inggris yang ikut terjebak dalam kondisi genting kala itu.

Pertentangan terhadap The Year of Living Dangerously sebenarnya sudah muncul bahkan sejak film ini masih dalam proses syuting. Selain tidak diizinkan syuting di Jakarta, Peter Weir dan Mel Gibson dikabarkan mendapat banyak sekali surat ancaman dari oknum-oknum tak dikenal.

Dari segi Box Office, film ini bisa dikatakan biasa saja karena meraup 10.3 juta Dolar AS dari budget sebesar 6 juta Dolar Australia. Namun, The Year of Living Dangerously mendapat tanggapan luar biasa positif dari para pengamat. Ratingnya di Rotten Tomatoes masih menduduki angka 90%, sementara belasan ajang penghargaan menominasikan film ini di berbagai kategori. Linda Hunt, aktris yang memerankan tokoh Billy Kwan, bahkan memenangkan Piala Oscar untuk kategori Best Supporting Actress melalui film ini.

 

3. Schindler's List

Schindler's List

Seolah tak cukup melewatkan satu film berprestasi untuk tayang di Indonesia, pemerintah Tanah Air yang kala itu masih dikendalikan oleh rezim Order baru di tahun 1994 kembali melarang penayangan film fenomenal lain. Kali ini, Schindler's List-lah yang menjadi korban.

Film Holocaust ini memang tidak menyinggung gejolak pemerintahan di Indonesia, tapi dianggap memancing simpati terhadap kaum Yahudi. Hingga saat ini, sikap pemerintah dan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim terhadap kaum Yahudi memang tak bisa dikatakan positif. Namun dalam kasus Schindler's List, kaum Yahudi sebenarnya lebih digambarkan sebagai korban kekejaman perang daripada pihak yang berseteru dengan kaum lainnya.

Pada akhirnya, larangan tayang Schindler's List di Indonesia sama sekali tak mengganggu performanya di Box Office. Dengan budget 22 juta Dolar AS, film arahan Steven Spielberg ini sukses menangguk hingga 322.1 juta Dolar AS secara global, dan mendapat pengakuan positif oleh hampir semua kritikus film di dunia

Schindler's List bahkan memenangkan 7 Piala Oscar (termasuk Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, dan Best Original Score), serta sering disebut-sebut sebagai salah satu film Perang Dunia II paling ikonik dan disejajarkan dalam deretan film terbaik sepanjang masa bersama Citizen Kane juga The Godfather.

 

4. Long Road to Heaven

Long Road to Heaven

Long Road to Heaven tidak di-ban di seantero Indonesia layaknya film-film sebelumnya, melainkan hanya di Bali. Hal itu karena pesan yang dibawakan film rilisan tahun 2007 ini berkaitan dengan insiden pengeboman pada tahun 2002 yang mengguncang Bali.

I Gusti Ngurah Gde, Ketua Dewan Perfilman Bali saat itu mengungkapkan jika Long Road to Heaven dikhawatirkan bisa membuka "luka lama", dan memicu konflik maupun kebencian oleh orang-orang yang tidak memahami benar situasi pengeboman di Bali.

Film ini diarahkan oleh Enison Sinaro, dan sebenarnya merupakan film produksi Indonesia. Bintang-bintangnya pun diisi oleh artis lokal macam Alex Komang dan Surya Saputra.

Menurut Kalyana Shira Films yang mendistribusikan Long Road to Heaven, film ini mengungkap berbagai sudut pandang baik dari sisi pelaku, keluarga korban, maupun turis asing yang terimbas oleh insiden pengeboman Bali. Fokusnya pun tidak hanya tertuju pada hari kejadian, tapi mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga penangkapan dan persidangan para pelaku di tahun 2003.

 

5. Balibo

Balibo

Pada tahun 2007, Indonesia dan dunia Internasional sempat dihebohkan oleh mengemukanya kasus pembunuhan 5 jurnalis Australia di Timor Timur yang terjadi pada 1970-an. Kisah nyata yang kemudian dikupas dalam buku "Cover-Up" karya Jill Jolliffe inilah yang menjadi inspirasi film Balibo.

Karena kontroversi yang meliputi insiden pembunuhan itu kental dengan tuduhan terhadap aparat militer Indonesia, maka tak heran bila film Balibo tidak memperoleh izin tayang di bioskop-bioskop Tanah Air.

Secara umum, Balibo mengungkap perjalanan Roger East, seorang jurnalis yang menginvestigasi kematian 5 awak media senegaranya (Balibo Five). Dalam penyelidikan tersebut, ia ikut terseret dalam puncak konflik antara pasukan militer Indonesia dengan Timor Timur.

Roger East diperankan oleh Anthony LaPaglia yang juga bertindak sebagai produser. Sementara itu, Oscar Isaac (Star Wars: The Last Jedi, X-Men: Apocalypse) turut bermain sebagai Jose Ramos-Horta yang kemudian dikenal sebagai Presiden kedua Timor Timur dan pemenang Nobel perdamaian.

Balibo tidak diedarkan secara luas di bioskop-bioskop berbagai negara, tetapi mendapat banyak pujian dari para kritikus. Setidaknya secara domestik, film Australia ini meraih banyak nominasi dan penghargaan, dan sampai sekarang mendapat rating 100% dari 11 reviewer di Rotten Tomatoes.

 

6. Noah

Film Noah

Russell Crowe dan Emma Watson sempat membuat geger dunia perfilman internasional kala mereka membintangi Noah. Film yang seharusnya merealisasikan kisah Noah dalam Alkitab ini justru memancing kontroversi dan kritikan dari banyak kalangan, termasuk berbagai negara Muslim yang menganggapnya bertentangan dengan perjalanan Nabi Nuh dalam ajaran Islam.

Kontroversi tersebut jelas lebih dari cukup bagi dewan perfilman Indonesia untuk tidak meloloskan Noah. Di China saja, film ini juga dilarang karena masalah keyakinan yang dianggap bertentangan dengan ajaran dalam masyarakat mereka.

Meski demikian, film ini malah sukses besar di Box Office. Dari budget 125 juta Dolar AS, Noah berhasil meraup 362.6 juta Dolar AS, dan pada akhirnya menjadi film terlaris dari sutradara Darren Aronofksy. Dari segi rating pun, film ini cukup bisa diperhitungkan karena mengantongi skor 76% dari 224 reviewer di Rotten Tomatoes.

 

7. Fifty Shades of Grey

Fifty Shades of Grey

Film ini sempat menjadi bahan perbincangan panas karena berbagai drama yang meliputi, mulai dari casting aktor yang berulang kali mengalami pergantian hingga tema erotis yang membuat sebagian besar pihak meragukan potensi kesuksesannya.

Fifty Shades of Grey sendiri memang diangkat dari novel kontroversial berjudul sama karya E.L. James. Dibilang kontroversial karena meskipun kisahnya berfokus pada perjalanan cinta dua sejoli, tapi komponen ceritanya pekat dengan berbagai unsur sensual yang membuatnya cuma layak menjadi konsumsi orang dewasa.

Khawatir dengan efek dan gelombang kritikan yang bisa terpicu oleh penayangan film ini, Indonesia pun tidak meloloskan Fifty Shades of Grey di bioskop-bioskop dalam negeri. Meskipun begitu, Johan Tjasmadi dari Lembaga Sensor Film mengungkapkan jika film ini memang tidak pernah didaftarkan untuk disensor sejak awal.

Fifty Shades of Grey sendiri kemudian mendapat kesuksesan luar biasa di Box Office, dengan menorehkan lebih dari 500 juta Dolar AS secara global. Meski direspon negatif oleh para kritikus, lagu-lagu soundtrack-nya yang menjadi viral (Love Me Like You Do oleh Ellie Goulding dan Earned It dari The Weeknd) mendapat pengakuan dari Golden Globes Awards dan Academy Awards.

 


Pada dasarnya, larangan tayang film di sebuah negara tidak serta merta akan menghentikan masyarakat untuk tidak menonton film yang dimaksud, seperti halnya yang diinginkan oleh pemerintah atau pihak berwenang yang tidak meloloskan sensornya. Namun setidaknya, larangan seperti ini bisa menjadi petunjuk atau sekedar tanda pengingat yang bisa diperhatikan sebelum Anda menonton sebuah film yang DVD-nya sudah beredar.

Midsommar sendiri sebenarnya tidak serta merta dilarang tayang di Indonesia, karena hanya "ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan". Dengan alasan yang belum dikonfirmasikan, maka masih ada kemungkinan kecil jika film ini akan bisa tayang di bioskop Tanah Air, meski kapan waktunya sama sekali belum bisa diperkirakan.

Tag: , , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi