7 Spin-Off Yang Lebih Baik Dari Film Utamanya

| Tidak ada komentar

7 Spin-Off Yang Lebih Baik Dari Film Utamanya

Spin-off kerap dikaitkan sebagai jalan cepat dapat uang dari film terkenal yang sudah ada. Bahkan Hobbs and Shaw yang "memecahkan diri" dari Fast and Furious dan dibintangi duo aktor laga kenamaan, nyatanya gagal menyamai prestasi seri originalnya. Namun, 7 film spin-off ini membuktikan bahwa mereka bisa menjadi pengecualian.

Tak cuma sekedar menyamai kesuksesan film aslinya, film-film spin-off berikut ini bahkan bisa dikatakan lebih baik dan lebih disukai. Bagaimana bisa?

7. The LEGO Batman Movie

Dibuat sebagai follow-up dari kesuksesan The LEGO Movie 3 tahun sebelumnya, film spin-off ini sebenarnya merupakan totonan dengan jalinan cerita yang lebih padat, fokus, dan menghibur.

Belum lagi, versi Batman di film ini sangat blak-blakan menyentil berbagai kekurangan yang dimiliki tokoh superhero tersebut. The LEGO Batman Movie seolah menjadi film parodi yang benar-benar total dalam menggarap guyonannya.

Baca juga: Joker Lagi-Lagi Pecahkan Rekor Baru, Apakah Itu?

Sayang, film ini tergolong underrated karena Box Office-nya tak mampu mengalahkan film pertama LEGO. LEGO Batman "hanya" meraup pendapatan worldwide sekitar 311 juta Dolar AS, sementara The LEGO Movie sukses mengumpulkan 469 juta Dolar AS.

LEGO Batman juga tidak dinominasikan di Oscar layaknya The LEGO Movie, meski alasannya lebih dikarenakan oleh waktu rilis yang kurang tepat dan promosi yang kurang maksimal. Jika LEGO Batman meluncur di musim panas atau akhir tahun dan mendapat eksposur marketing yang setara dengan The LEGO Movie, film ini tak diragukan lagi akan menjadi kontender yang kuat di nominasi Best Animated Movie pada pagelaran Academy Awards 2018.

6. Creed

Rocky memang berhasil mengukuhkan diri sebagai salah satu franchise film olahraga terpenting sepanjang masa. Namun, bisa dikatakan reputasi itu hanya mengekor pada prestasi film pertamanya. Sekuel kedua lumayan, film ketiga cukup oke, tapi seri keempat dan kelima sangat disayangkan keberadaannya.

Rocky Balboa (film keenam) sedikit lebih baik dan cukup diapresiasi, tapi nuansanya kurang lebih sama dengan 5 seri film sebelumnya. Tak pelak, franchise ini membutuhkan suntikan segar jika ingin terus hidup di tengah ketatnya persaingan seri film yang semakin menggila di Hollywood. Pada tahun 2015, datanglah Creed untuk menjawab permintaan ini.

Menurut Danny Meegan dari Whatculture, Creed adalah tontonan Rocky terbaik sejak film pertamanya di tahun 1976. Tak ada satu pun pihak yang menduga jika Creed bisa sebagus hasil akhirnya.

Pujian ini agaknya layak disematkan pada Ryan Coogler yang memasukkan sentuhan modernisasi dalam alur Creed, begitupula dengan performa Michael B. Jordan dan Sylvester Stallone yang dianggap meyakinkan. Karakterisasi Rocky di seri ini pun mendapat sedikit perubahan di sana-sini, dan hasilnya, Stallone mendapat nominasi Oscar atas penampilannya di Creed.

Tak diragukan lagi, film ini cukup bisa dibandingkan dengan Batman Bagins dan Casino Royale. Mengapa? Karena ketiganya adalah film yang menghidupkan kembali antusiasme penonton ketika seri utamanya tengah didera stagnasi.

5. Bumblebee

Saat The Last Knight dirilis sebagai seri terbaru Transformers pada tahun 2017, franchise yang terinspirasi dari mainan Hasbro itu berada dalam posisi "sekarat".

Michael Bay dengan segala kecuekannya terhadap kritikus, mulai kesulitan mengumpulkan penonton yang tak keberatan menyaksikan film-film garapannya yang terkenal "lantang" dan tidak memiliki koherensi cerita. Hal ini tercermin dari kemerosotan angka Box Office The Last Knight dibanding seri-seri pendahulunya.

Ketika pendapatan tak lagi bisa menjadi dewa penolong bagi Transformers yang selama ini selalu jadi bulan-bulanan kritikus, Paramount akhirnya mengambil langkah berisiko untuk membuat film spin-off yang berfokus pada karakter Bumblebee.

Media pada awalnya skeptis dengan prospek spin-off ini. Namun, Bumblebee hadir di akhir tahun 2018 dengan konsep cerita yang jauh lebih sederhana tapi bisa meninggalkan kesan mendalam. Inilah alasan mengapa film yang digawangi Hailee Steinfeld itu kemudian menjadi seri Transformers dengan rating kritik terbaik.

Walaupun pendapatan Bumblebee di tangga Box Office tak bisa dikatakan sangat luar biasa, keberhasilan spin-off ini dalam menarik minat para pengamat menjadikan antisipasi untuk film Transformers berikutnya kembali menyala.

Bumblebee menjagokan karakter-karakter likable dan berlatar di era '80-an. Dari sini saja, suah ada nilai nostalgia yang diunggulkan. Kelebihan itu semakin meningkat manakala cerita yang dihadirkan ternyata cukup memikat dan terasa diolah dengan kepedulian dan keseriusan, bukan hanya niat untuk membuat film action tanpa latar cerita yang meyakinkan.

Bahkan, audience tak kesulitan mengikuti jalannya adegan pertarungan di film ini, tidak seperti film Transformers lain yang terlalu berantakan dalam menampilkan adegan-adegan actionnya.

4. Rogue One: A Star Wars Story

Rogue One memang bukan film terhebat Star Wars, tapi film spin-off yang mengalami banyak kendala semasa syutingnya ini jelas lebih baik dari trilogi prekuelnya, bahkan juga dari dua film utama lainnya yakni The Force Awakens dan The Last Jedi.

Sama seperti The LEGO Batman Movie, Rogue One banyak dianggap lebih solid dan fokus ketimbang dua film baru Star Wars tersebut. Jika disandingkan dengan A New Hope, Rogue One juga masih bisa mengimbangi dan menjadi tontonan yang selaras.

Kemunculan Rogue One sebenarnya tak disangka-sangka, karena film spin-off ini awalnya dianggap sama sekali tak memiliki kepentingan. Tidak ada karakter atau cerita yang benar-benar butuh dieksplor lebih lanjut, dan kala itu, Star Wars juga baru saja sukses merilis The Force Awakens yang memecahkan rekor Box Office di sana-sini.

Dengan kata lain, Rogue One tidak seperti Bumblebee ataupun Creed yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali antisipasi penonton terhadap franchise Star Wars.

Namun setelah kehadiran Rogue One yang menampilkan aksi pencurian rancangan Death Star dengan begitu mengesankan, sulit untuk tidak menghubungkannya dengan A New Hope yang merupakan film paling perdana dari seri Star Wars. Pasalnya, ada pengorbanan epik yang disajikan di Rogue One sebelum cerita A New Hope dimulai.

Penggarapan yang penuh totalitas ini pun diganjar dengan pendapatan mengesankan di Box Office. Rogue One sukses melewati angka 1 miliar Dolar AS tanpa hambatan pasti. Sayangnya, Star Wars gagal mengikutinya dengan film spin-off lain, yakni Solo yang dianggap kurang berkesan sehingga akhirnya merugi di Box Office.

3. Deadpool

Pertama kali muncul di layar lebar dalam film spin-off X-Men, Deadpool bisa dikatakan adalah spin-off dari sebuah spin-off. Barangkali, status inilah yang agak enggan membuat Fox menyetujui proyek film solo Deadpool, meski Ryan Reynolds sudah bertahun-tahun memperjuangkan penggarapannya.

Ketika pembuatan film ini akhirnya diberi lampu hijau dan hasil finalnya dirilis pada awal 2016, jerih payah Reynolds selama beberapa tahun rasanya terbayar sangat manis.

Bagaimana tidak, Deadpool langsung menarik perhatian banyak pihak dan diapresiasi berkat keberaniannya menghadirkan karakter yang nyeleneh, dan menghadirkan sesuatu yang baru di jagad film superhero. Penghasilannya pun sangat fenomenal hingga berhasil menjadi film berating dewasa terlaris sepanjang masa (sebelum digeser Joker).

Yang lebih mengejutkan lagi, meskipun intrik konflik dan motivasi karakter dalam film Deadpool tak bisa dikatakan luar biasa, penulis skenario film ini berhasil merangkainya menjadi pelengkap yang cukup rapi sehingga tak mengusik sisi hebat lain yang dihadirkan; apalagi jika bukan dialog-dialog dan aksi kocak yang sungguh tak bisa diduga (dan seringkali kurang ajar) dari Deadpool sendiri.

2. Logan

Satu lagi film spin-off yang datang dari franchise X-Men adalah Logan. Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa seri film X-Men memang kurang bisa dianggap menjadi franchise yang membanggakan.

Dari 7 film yang menghuni seri utamanya, hanya ada 3 film yang mendapat apresiasi tinggi (film pertama X-Men, X2, dan Days of Future Past). Sisanya, cuma ada film-film yang dianggap lumayan (First Class), di bawah rata-rata (Apocalypse), dan dihujat habis-habisan (The Last Stand dan Dark Phoenix).

Logan sendiri merupakan salah satu bagian dari spin-off yang berfokus pada perjalanan solo Wolverine. Dua film serupa yang lebih dulu dirilis tidak disambut baik, tapi tidak demikian halnya dengan Logan.

Pengakuan untuk film ini tidak hanya berhenti di skala film-film Wolverine saja. Logan bahkan kerap dianggap sebagai film X-Men terbaik, dan salah satu adaptasi buku komik terbaik sepanjang masa. Fiilm yang disutradarai James Mangold ini layak disejajarkan dengan game-changer lain seperti Spider-Man 2, film pertama Iron Man, juga The Dark Knight.

Apa yang membuat Logan begitu berkesan adalah keberhasilannya dalam menampilkan karakter-karakter mutan yang tak lagi berjaya dengan kekuatan mereka. Pelarian Logan, Charles Xavier, dan anak perempuan yang mereka lindungi menjadi suatu pengalaman penuh suka duka dan menguras emosi, terutama dengan ending yang begitu dramatis dan apresiatif untuk menutup perjalanan Hugh Jackman sebagai pemeran Wolverine.

Tak ketinggalan, Logan juga menyajikan adegan pertarungan yang tak kalah mengesankan dibanding film-film X-Men lainnya. Jika Anda ingin menyaksikan film superhero dengan paket komplit yang memiliki bobot emosi, Logan bisa menjadi alternatif yang sangat direkomendasikan.

1. Joker

Meskipun tidak secara resmi dirilis sebagai spin-off, Joker sebenarnya layak dikategorikan sebagai spin-off karena dibangun dari karakter Joker di seri film Batman.

Meskipun dianggap kontroversial, Joker tak bisa diragukan lagi sukses menampilkan latar tragedi yang memicu kegilaan karakter utamanya, Arthur Fleck. Film ini juga dibintangi dengan sangat apik oleh Joaquin Phoenix dan memicu reaksi global yang membuatnya viral di berbagai kalangan.

Saking meyakinkannya penggambaran kegilaan Joker di film ini, beberapa pengamat menganggap tontonan ini bisa memicu reaksi psikologis dari beberapa penonton yang tak memiliki ketahanan mental yang kuat.

Menariknya lagi, komitmen sutradara Todd Philips untuk menyempurnakan Joker tak lantas menjadikannya acuh terhadap kaitan tokoh ini dengan Batman. Hal ini terbukti dari masih kentalnya jalinan cerita yang mengaitkan Joker dengan keluarga Wayne.

Secara keseluruhan, Joker dinilai berhasil menjadi film spin-off Batman yang memuaskan. Jika dibandingkan dengan kemunculan Batman di film DCEU lainnya seperti Batman v Superman: Dawn of Justice, Suicide Squad, dan Justice League, tentu saja film ini menjadi pilihan terbaik yang tak diragukan lagi.


Demikianlah daftar 7 film spin-off yang dinilai lebih baik dari film utamanya. Apabila Anda memiliki favorit yang lain atau tak setuju dengan daftar di atas, silahkan berkomentar lewat kolom di bawah ini.

Tag: , , , , , , , , , , ,

Penulis:

Online content writer yang sedang mencari pelarian dan akan selalu punya ketertarikan lebih dengan industri perfilman.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi