Poster Film Banda the Dark Forgotten Trail
  • 7.5/10

Film Banda the Dark Forgotten Trail (2017)

Sinopsis film Banda the Dark Forgotten Trail

Film dokumenter tentang Jalur Rempah Nusantara pada tahun 1500'an dimana pada masa itu, harga pala di Eropa jauh lebih mahal dari harga emas. Monopoli bangsa Arab dan Perang Salib membuat Eropa mencari pulau penghasil rempah. Kepulauan Banda yang tersebar di Laut Banda dan sekarang masuk Provinsi Maluku dengan kota terbesarnya Bandanaira, pada waktu itu merupakan satu-satunya tempat dimana pohon pala tumbuh. Kepulauan Banda pun diperebutkan, bahkan Belanda rela melepas Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) demi bisa mengusir Inggris dari Banda.

Perbudakan dan pembantaian pertama di Indonesia terjadi di Kepulauan Banda yang melahirkan semangat kebangsaan dan multikultural. Kepulauan Banda sekarang telah menjadi situs warisan sejarah Dunia.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 03 Agustus 2017
  • Durasi 93 menit
  • Sutradara Jay Subyakto
  • Produser Sheila Timothy, Abduh Aziz
  • Produksi Lifelike Pictures
  • Distributor -
  • Genre Documentary, Historical
  • Kelompok Umur SU

Daftar pemain film Banda the Dark Forgotten Trail

Review & Ulasan film Banda the Dark Forgotten Trail

Mencoba menemukan dan menampilkan identitas Nusantara dalam sebuah gugusan pulau-pulau di bagian timur Indonesia

| Ditulis oleh:

Dalam bahasa Indonesia mungkin judul film ini akan berbunyi Banda : Jejak yang Terlupakan. Iya, film dokumenter ini memang ingin melacak jejak jalur rempah. Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar / mengetahui ini adalah sebuah film dokumenter? Pasti akan langsung berfikir beribu kali untuk menyaksikannya. Apalagi harus bayar di bioskop buat nonton filmnya. Ya, mungki film-film dokumenter memang tidak banyak digandrungi anak-anak muda Indonesia, bahkan pihak bioskop sendiri kabarnya hanya memberi sedikit jatah layar buat film ini. Bahkan mungkin lebih sedikit dari film horror ecek-ecek penjual aurat yang mutunya-pun diragukan.

Film dokumenter ini mengajak kita untuk melihat kejayaan Banda di masa lalu, juga problematika serta "kehancuran"-nya dalam masa-masa kolonial. Banda yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, khususnya pala ini memiliki kualitas biji pala yang memang diakui dunia. Percaya atau tidak, harga pala saat itu lebih mahal daripada harga emas. Wow!

Ketika kita menyaksikan bagaimana film ini bertutur kepada penonton soal kisah dan juga sejarah yang terjadi di masa lalu hingga dampaknya di saat ini bagi daerah Banda, kita seperti diajak berlari. Berlari, berjalan, tertegun diam, lalu berlari lagi... Ya, dinamika yang disuguhkan dalam penuturan kisah di film ini memang sangat menarik. Begitu hidup, begitu dinamis. Ada kalanya beberapa detik kita disuguhkan dengan potongan-potongan gambar yang ditampilkan secara cepat dengan diiringi musik yang memang pas. Ini seperti seorang mentalist atau seorang hypnotherapist yang ingin menanamkan subliminal message kepada alam bawah sadar kita.

Film ini tidak hanya berbicara soal Pala, tetapi juga soal beberapa tokoh pendiri bangsa yang dibuang ke Banda. Di Pulau Neira ini yang masih termasuk dalam kepulauan Banda Neira merupakan sebuah tempat pembuangan bagi para tahanan politik di jaman kolonial Belanda. Sejumlah tokoh tercatat pernah dibuang dan diasingkan di sini, seperti: Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Syahrir, dan Mohammad Hatta.

Nah bagaimana cara menceritakan kedua tokoh, yakni Hatta dan Syahrir untuk dimasukkan dalam rangkaian kisah ini pun sangat menarik. Jay Subiyakto hanya memanfaatkan potongan-potongan scene untuk membuat film berbicara dan bercerita lebh dalam, dibantu dengan suara Reza Rahadian tentu saja.

Sebagai seorang sutradara video klip musik, kita maklum jika cara penyampaian Jay Subiyakto di film ini persis seperti gaya sebuah video klip. Menjadikan kita seperti melihat cerita dalam video musik, tapi bedanya ada narator dan durasinya lebih lama. Inilah kenapa saya katakan tadi, bahwa anda tidak akan menjadi bosan menyaksikan film ini karena memang film dokumenter ini ditampilkan dengan sangat baik dan juga menghibur. Apalagi jika anda bersedia untuk menyatukan diri dan membiarkan diri masuk ke dalam aliran cerita yang akan membawa anda ke pusaran problematika yang ketika semakin digali, semakin kita akan berkeinginan mencari dan terus mencari.

Reza Rahadian sebagai narator, dengan gaya penyampaian yang tidak sekedar membaca membuat roh dari film ini seakan muncul dan dapat menyentuh hati setiap pendengarnya.

Terlepas dari kontroversi yang muncul terkait beberapa fakta yang diungkap (entah itu fakta atau bukan) yang menjadikan polemik akan kebenaran kisah yang disampaikan di situ, saya melihat film ini cukup layak untuk menambah wawasan kita yang tidak kita jumpai dalam pelajaran di sekolah-sekolah. Studi pustaka dan juga berbagai riset memang masih perlu dilakukan untuk menghadirkan bukti dan juga dasar yang sahih atas segala klaim yang ada di film ini. Entah anda yang pro, ataupun kontra. Atau bahkan masyarakat awam. Rasa haus akan informasi seharusnya tetap dipelihara demi mendapatkan kebenaran dan keaslian sebuah sejarah.

Akhirnya, sebuah film Banda bukan hanya berbicara tentang sebuah tempat di timur Indonesia yang sudah sirna kejayaannya. Banda berbicara tentang kita, Indonesia. Tentang masa lalu, kini dan masa depan. Film Banda mencoba mengangkat identitas Indonesia melalui sekelumit kisah yang teramu di  antara gugusan pulau-pulau di bagian timur Indonesia. Sebuah kisah dari mana matahari datang.

7.5/10

Trailer film Banda the Dark Forgotten Trail

Komentar dan Review film Banda the Dark Forgotten Trail

6 komentar untuk Banda the Dark Forgotten Trail

  • Mohamad rivai uar -

    Film yg sngat di nnti. Nmun sdikit berkomentar terkait berita pada slah satu media online yg menarasikan bhwa peristiwa pembantaian yg terjdi di pulau banda yg di kenal sbagai peristiwa banda moor, disna menceritakan bhwa smua masyrakt banda di bantai habis oleh Jon Pieter Coon adlh tidk benar (14.000 warga banda di bantai) Mohon kiranya di koreksi. Bhwa saya sabgai generasi banda (Wandan) smpai saat ini kami masih ada walaupun tidk menempati tanah leluhur kami, tpi eksistensi budaya dan adat para leluhur kami hingga sekrg masih terpelihara.
    #thedarkofbanda

    Balas
    • Baling baling bambu -

      Anda boleh saja menyebut anda sebagai orang asli banda! Tapi kenapa baru sekarang angkat bicara kenapa dlu kalian kabur dari tanah kalian dan tak pernah kembali?? Setelah banda terkenal dengan hasil rempah rempahnya baru sekarang kalian yg katanya penduduk asli angkat bicara!!

      Balas
      • Afrizhal kepa -

        Eh bang, memang jelas kami yang ada di Banda mengaku sebagai orang Banda dari kelahiran, dan lama tinggal d sini. Kalau dari segi keturunan sebagian besar bukan.

        Balas
  • Haryono -

    Premier nya rame full yg nonton,,sukses semua,,tapi nun jauh di tengah lautan sana masyarakat banda naira hanya bisa mendengar cerita tentang daerah mereka yg di buat film,,banyak sekali situs situs warisan sejarah yg tak ter urus,,sangat berbanding terbalik dengan pemutaran filmnya yg di datangi kalangan intelektual,,,biarpun mungkin sebagian hasil filmnya di "sumbangkan" untuk "kemajuan" banda naira...kenapa tidak di adakan nonton bareng di tempat asalnya (karna jauh tempatnya,aksesnya susah untuk kesana.."haloo,sangat indonesia sekali)..banda naira

    Balas
  • Ema Rachman -

    Interesting...years ago I went there and explored the tiny land Banda, smashing beautiful Island East of Indonesia, it was my first experience that I found & felt so ease & proud about my beautiful country...full of historical pieces to explore and many mysteries need to be digged out..I think this a must see movie nowadays..

    Balas
  • hary. lewis. kilmas -

    HARAPAN SAYA SECEPATNYA FILIM INI DI PUTAR DI MALUKU ...BIAR RUMOR TENTANG FILIM INI BISA TERJAWAB
    SALAM SAYA"
    SAHABAT ANDANSARI

    Balas

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi