Poster Film Kenapa Harus Bule?
  • 6/10

Film Kenapa Harus Bule? (2018)

Sinopsis film Kenapa Harus Bule?

Pipin (Putri Ayudya) selalu menginginkan jodoh bule tetapi di Jakarta ia tidak berhasil mendapatkannya. Sahabatnya Arik (Michael Kho) menyuruhnya pindah ke Bali agar mudah mendapatkan bule. Benar saja disana ada Gianfranco (Cornelio Sunny), bule Italia yang tergila-gila kepada Pipin, dan juga pengusaha bernama Ben (Natalius Chendana) yang jatuh conta kepada Pipin. Tetapi hidup Bali tidak gampang, tabungan menipis, tidak adanya pekerjaan tetap membuat Pipin mulai bingung dengan cita-citanya mendapatkan jodoh bule.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 22 Maret 2018
  • Durasi 90 menit
  • Sutradara Andri Cung
  • Produser Nia Dinata, Kyo Hayanto
  • Produksi VIU Original Film, Kalyana Shira Films, Good Sheep Productions
  • Distributor -
  • Genre Comedy, Romance
  • Kelompok Umur 21+

Daftar pemain film Kenapa Harus Bule?

Review & Ulasan film Kenapa Harus Bule?

Premis menarik, ending kurang apik

| Ditulis oleh:

Seorang Nia Dinata duduk di kursi produser menjadi alasan saya memilih nonton dan mengulas film ini. Selain juga alasan tema yang hendak diangkat tidaklah lumrah. Tersebut juga seorang Djenar Maesa Ayu menjadi cameo membuat tidak hanya penasaran, secara tak sadar saya memasang ekspektasi yang lumayan tinggi.

Tokoh sentral film, Pipin, mendamba lelaki bule sebagai pasangan hidupnya. Setelah merasa putus asa mencari bule di Jakarta, Pipin dibujuk Arik, teman masa kecilnya, untuk pindah ke Bali, dimana akan lebih mudah mencari pasangan bule. Arik sebenarnya ingin menjodohkan Pipin dengan Buyung, teman kecil mereka, yang berubah secara fisik. Buyung menyamar menjadi Ben, seorang blasteran. Di saat bersamaan, Pipin didekati oleh Gianfranco, seorang bule Itali kere yang berlagak kaya sebagai pemilik vila. Tentu Pipin lebih memilih Gianfranco daripada Ben, yang akhirnya diketahui Pipin bahwa Ben adalah Buyung. Hampir menuju akhir film, Pipin baru sadar bahwa bule yang di dekatnya malah seorang oportunis (karena bule kere) pun patriarkis.

Dialog yang terjadi antara Pipin dan Arik sungguh lugas dan mengalir. Banyak topik kesetaraan gender yang muncul. Selain diselingi guyonan yang dibangun dengan baik. Sempat terlihat bagaimana selera Pipin dan Arik terhadap pasangan bertolak belakang yang membuat hubungan mereka sempat renggang.

Saya baru menyadari ada kedalaman logika yang berlapis pada sosok Pipin. Maksud saya, Pipin menginginkan seorang lelaki bule karena salah satu alasannya yaitu mereka lebih berpikiran terbuka (open-minded), tetapi Pipin tidak menginginkan adanya seks pra-nikah. Di era milenial ini, pikiran seseorang yang terbuka cenderung menginginkan seks sebelum menikah karena seks merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kebahagiaan sebuah hubungan. Jika unsur seks saja sudah tidak memuaskan, bagaimana seseorang mau mempertahankan hubungannya di jenjang pernikahan?

Sepintas memang premis seorang Pipin kurang kuat serta kontradiktif. Menginginkan pasangan bule dengan alasan klise; mapan, untuk memperbaiki keturunan, dan berpikiran lebih terbuka, tapi dirinya sendiri adalah seorang wanita yang punya mindset; masa bodoh pokoknya harus punya cowok bule.

Skrip yang kurang matang dan kurangnya pendalaman tokoh-tokoh membuat beberapa scene dengan tokoh yang baru terasa terburu-buru. Saat adegan pemilik vila, diperankan oleh Djenar Maesa Ayu, dan suaminya (Paul Agusta) yang mendatangi Gianfranco. Seketika itu juga terbuka semua rahasia di antara Gianfranco dan majikannya yang sempat membuat penonton bingung karena adegan tersebut berlangsung terlalu cepat.

Plot twist pada akhir terasa cukup klise. Pipin yang menyadari kesalahannya dan jujur pada diri sendiri mengakuinya langsung kepada Ben di saat yang bisa dibilang terlambat. Jalan cerita kemudian bisa ditebak. Ben mengejar Pipin dan film berakhir bahagia selayaknya hidup di dunia film.

6/10

Penulis:

Mengaku diri sebagai fotografer cum videografer sekaligus penggila film tapi takut film setan lokal.

Trailer film Kenapa Harus Bule?

Komentar dan Review film Kenapa Harus Bule?

1 komentar untuk Kenapa Harus Bule?

  • Geng08 -

    Lihat trailernya sepertinya keren,tapi entahlah

    Balas

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi