Poster Film Lima
  • 7/10

Sinopsis film Lima

Maryam meninggal dunia meninggalkan ketiga anaknya Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama) dan Adi (Baskara Mahendra). Ketika dimakamkan menimbulkan perdebatan karena Maryam muslim sementara dari ketiga anaknya hanya Fara yang muslim. Masalah tidak sampai disitu, Adi sering dibully dan ia harus berhadapan dengan temannya Dega yang sering membully-nya. Fara yang pelatih renang harus menentukan atlit untuk ke Pelatnas tanpa memasukkan unsur ras dalam pemilihannya. Aryo harus menjadi pemimpin karena ia anak laki-laki tertua apalagi menyangkut masalah warisan. Sementara Ijah asisten rumah tangga mereka harus pulang kampung untuk mengurus masalah dikeluarganya.

5 cerita yang berbeda dari keluarga yang campur-campur ini harus kembali ke lima hal yang menjadi dasar mereka yaitu: Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 31 Mei 2018
  • Durasi 110 menit
  • Sutradara Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, Adriyanto Dewo
  • Produser Lola Amaria
  • Produksi Lola Amaria Productions
  • Distributor -
  • Genre Drama
  • Kelompok Umur 17+

Daftar pemain film Lima

Review & Ulasan film Lima

Pengamalan Pancasila melalui drama sebuah keluarga yang sederhana tetapi menyentuh

| Ditulis oleh:

Film Lima tidak membuat film dengan konsep kebangsaan buta layaknya jargon Pancasila harga mati, yang kadang tidak sesuai konteks, tetapi lebih ke pengamalan sila-sila Pancasila seperti yang kerap ditemui pada saat belajar mata pelajaran Kewarganegaraan. Lima adalah film omnibus yang digarap oleh 5 sineas, Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo tidak begitu terlihat omnibus karena kelima cerita masih saling berkaitan.

Cerita film berangkat dari sebuah keluarga dengan orang tua yang berbeda dan sempat berpindah agama. Bapak di keluarga itu telah lebih dulu meninggal. Perbedaan agama itu menurun ke tiga anaknya yang masing-masing memeluk agama yang berbeda. Film dimulai dengan seorang ibu, Maryam, sakit-sakitan yang tidak lama kemudian meninggal. Konflik langsung dimulai dengan bagaimana tata cara pemakamannya dan masalah yang mendampingi. Persoalan-persoalan kecil macam konsep jasad orang yang meninggal harus dibersihkan layaknya bayi; tidak ada apapun yang menempel pada badan yang akan dimakamkan mampu memberi ruang eksplorasi konsep cerita tentang ketuhanan (keagamaan lebih tepatnya) yang efektif membawa emosi penonton.

Persoalan perundungan (bullying) dialami oleh Adi, anak paling kecil di keluarga. Ia yang memilih musik klasik diejek oleh teman-teman sehobi yang lebih memilih musik rock yang terlihat lebih keren dan macho. Satu saat ia mengalami kejadian yang sebelumnya ia lihat di TV soal pencuri yang tertangkap massa dan dihakimi. Adi berniat menolong si tertuduh pencuri tapi niat baik tidak selalu berujung dengan nasib baik. Pencurinya tertangkap dan dibakar massa karena ada satu oknum, yang adalah teman sekelas Adi, memberi ide kepada massa tentang tindakan keji itu.

Fara, anak tertua keluaga itu adalah seorang pelatih renang di sebuah klub renang yang sedang dalam masa mengikuti persaingan mendapatkan posisi sebagai atlet wakil daerahnya untuk tim pelatihan nasional. Ia mendapat titipan dari atasannya untuk meloloskan salah seorang siswa dengan adanya unsur SARA. Untuk fragmen ini masih terlalu klise masalah yang muncul dengan penyelesaian konflik yang begitu-begitu saja, mudah ditebak.

Anak lelaki tertua, Aryo, mendapat masalah di kantor ketika ia berdebat dengan rekan kerjanya. Persoalan utama soal idealisme dan tuntutan pasar. Akhirnya Aryo dipecat dari kantornya karena pilihannya yang berbeda untuk tetap di jalur idealisme sesuai awal ia bergabung di perusahaan.

Masalah tidak selesai sampai di situ. Kepergian ibu mereka bertiga ternyata meninggalkan harta warisan yang sesuai wasiat ibu harus segera dibahas. Aryo sebagai anak lelaki tertua harus memutuskan yang terbaik soal warisan itu di tengah kesulitan yang dihadapinya.

Ijah, asisten rumah tangga keluarga itu merasa yang disampaikan Ibu Maryam saat masih hidup agar Ijah merawat anak-anaknya yang masih kecil membuat Ijah memutuskan untuk pulang kampung dan tidak kembali ke kota lagi. Di kampung, kedua anak Ijah tertangkap penjaga kebun perusahaan kokoa setelah mencuri buah kokoa. Pengadilan pun berlangsung terhadap kasus pencurian yang sungguh sepele seperti beberapa kali kita lihat di berita. Konflik terakhir kiranya bisa kita tebak akan berakhir seperti apa. Film dengan akhir yang bahagia diambil sebagai penutup yang aman.

7/10

Penulis:

Mengaku diri sebagai fotografer sekaligus penggila film tapi takut film setan lokal.

Trailer film Lima

Komentar dan Review film Lima

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi