Poster Film Mata Dewa
  • 5.5/10

Sinopsis film Mata Dewa

Terinspirasi dari kisah nyata yang menceritakan Dewa (Kenny Austin) yang ingin membawa sekolahnya yaitu SMA Wijaya untuk menjadi juara DBL (Developmental Basketball League) pertama kalinya. Tetapi Dewa bersama timnya terpaksa berjuang sendiri karena tidak adanya dukungan dari pihak sekolah. Teman-temannya juga kurang mendukung usaha Dewa untuk menjadi juara DBL.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 08 Maret 2018
  • Durasi 80 menit
  • Sutradara Andibachtiar Yusuf
  • Produser Avesina Soebli
  • Produksi Sinema Imaji, Shanaya Films, DBL Indonesia
  • Distributor -
  • Genre Drama
  • Kelompok Umur 13+

Daftar pemain film Mata Dewa

Review & Ulasan film Mata Dewa

Film basket Indonesia pionir yang sebenarnya masih bisa ditingkatkan.

| Ditulis oleh:

Awal melihat trailer film Mata Dewa, apalagi disutradarai oleh seorang Andibachtiar Yusuf (saya mengenal karya beliau dari film romansa epic dengan latar belakang sepak bola, Romeo Juliet tahun 2009), mau tidak mau ekspektasi saya gas pol menyandingkan film bola basket ini dengan bola sepak yang lalu. Ekspektasi membuat saya menyandingkan bahkan membandingkan kedua film tersebut nyatanya membuat saya tersadar bahwa latar belakang cerita kedua film berbeda tingkat kematangannya. Bagaimana Andibachtiar sebelumnya telah membuat film dokumenter tentang The Jak (2007) mempunyai bekal cukup untuk membuat film panjang tentang sepak bola.

Dewa adalah pemain basket andalan SMA Wijaya yang menjadi juara kedua pada kejuaraan DBL. Dengan angkuh, ia menyalahkan pemain lain, Bumi, atas kekalahan timnya. Malang menimpa Dewa saat berduaan dengan Bening. Tas Bening berisi laptop dijambret. Dewa mengejar penjambret yang ternyata tidak sendiri. Dewa terkena pukul pada bagian dekat mata hingga dokter mendiagnosa mata Dewa tidak akan bisa normal seperti sebelumnya. Di tengah rasa frustasi, Dewa bertemu dengan tetangganya di rusun, seorang mantan petinju (Ariyo Wahab) yang kemudian menjadi pelatihnya yang melatih Dewa dari fisik hingga mental hingga Dewa dan timnya sanggup menjadi juara DBL.

DBL (Developmental Basketball League), sebagai badan liga bola basket tingkat SMA menjadi ajang prestisius. Bermarkas di Surabaya menjadikan latar lokasi film berada di kota pahlawan. Ditunjuknya Augie Fantinus dan Yossi P Project sebagai "host" pertandingan DBL serta pemakaian bumper antar scene saat pertandingan membuat Mata Dewa seperti pertandingan basket DBL sungguhan.

Pembentukan logat Suroboyoan pada para pemain muda utama cukup natural hingga saya berpikir wanita pemeran Bening adalah orang Surabaya asli, yang ternyata lahir dan besar di Bandung. Brandon Salim sebagai Bumi cukup meyakinkan melakukan dialog dengan logat Surabaya karena sebelumnya telah bermain di film Yowis Ben.

Dodit Mulyanto sebagai Om-nya Dewa berperan sebagaimana Dodit yang biasanya mengundang tawa karena dialog dan tingkahnya. Lain hal dengan Ibu Dewa yang hanya sebagai pelengkap cerita saja. Jika peran Ibu Dewa bisa dimaksimalkan, akan lebih mendramatisir kondisi Dewa yang sedang terpuruk.

Masih terdapat adanya scene yang tidak jelas apa maksudnya. Bagaimana hubungan Dewa dan Bening yang kurang diperdalam, hingga menimbulkan kebingungan, bahwa sudah sampai mana sebenarnya hubungan mereka (atau memang seperti itu hubungan anak muda zaman sekarang). Secara teknis pengambilan shot yang sering terlihat goyang cukup mengganggu jalannya dialog, entah disengaja atau tidak.

Ucup (nama panggilan Andibachtiar Yusuf) mengambil resiko dengan menjadikan talenta muda dan baru sebagai peran utama di film Mata Dewa. Resiko yang harus ia ambil sejak dari awal ia menyetujui untuk membuat film basket SMA. Sebuah langkah yang patut diapresiasi untuk memulai film basket nasional yang konon adalah yang pertama.

5.5/10

Penulis:

Mengaku diri sebagai fotografer sekaligus penggila film tapi takut film setan lokal.

Trailer film Mata Dewa

Komentar dan Review film Mata Dewa

3 komentar untuk Mata Dewa

  • Satya wulan dega ratri -

    Saya adalah pemain basket di sekolah saya. Dan saya nge fans sama kak kenny. Awal nya saya tau film mata dewa ini saya sangat exicted karena ini adaah film basket pertama di indonesia. Saya sudah sangat berharap banyak pada film ini. Semoga di kemudian hari semakin banyak muncul film film bertemakan basket yang bermutu. Jayalah perfilman Indonesia.... salam dari jombang jawa timur.

    Balas
  • Wicaksono -

    maaf yang nulis ini siapa ? ko tidak ada nama PH Shanaya Films, maaf ini film di produksi oleh Sinema Imaji, DBL yang bekerjasama dengan Shanaya Films bukan hanya Sinema Imaji dan DBL saja. mohon di ralat tulisannya makasih.

    Balas

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi