Poster Film The Girl on the Train
  • 6.6/10
  • 6/10

Film The Girl on the Train (2016)

Sinopsis film The Girl on the Train

Seorang wanita yang kehidupannya kacau karena perceraian bernama Rachel Watson (Emily Blunt) setiap hari naik kereta dan selalu melihat pasangan Scott dan Megan dari jendela keretanya. Suatu hari Rachel melihat sesuatu yang mengejutkan dihalaman belakang rumah seseorang dan mengatakan kepihak yang berwajib apa yang ia lihat setelah mengetahui bahwa ternyata Megan menghilang dan diyakini sudah meninggal. Tetapi Rachel malah melakukan investigasinya sendiri untuk mengungkap apa yang terjadi sementara polisi telah melarang Rachel karena sudah melewati batas.

Adegan selama kredit film: Tidak Ada
Adegan setelah kredit film: Tidak Ada

Info Film

  • Tanggal Rilis 28 Desember 2016
  • Durasi 112 menit
  • Sutradara Tate Taylor
  • Produser Marc Platt
  • Produksi DreamWorks Pictures, Reliance Entertainment, Marc Platt Productions
  • Distributor Unversal Pictures
  • Genre Mystery, Thriller
  • Kelompok Umur 17+

Daftar pemain film The Girl on the Train

Review & Ulasan film The Girl on the Train

Cerita dengan intensitas yang kurang, tetapi didukung dengan karakter yang kuat memberikan akhir yang cukup menarik

| Ditulis oleh:

The Girl on the Train diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Paula Hawkins. The Girl on the Train adalah sebuah film dengan genre misteri yang dikombinasikan dengan thriller psikologis. Film yang disutradarai oleh Tate Taylor ini dibintangi oleh Emily Blunt, Halley Bennett, Rebecca Ferguson, Justin Theroux, Luke Evans, Allison Janney, Édgar Ramírez, dan Lisa Kudrow.

Film ini bercerita tentang seorang alkoholik, yaitu Rachel Watson   yang diperankan oleh Emily Blunt; yang bercerai dari suaminya. Rachel, ketika naik kereta setiap harinya selalu melewati rumah yang pernah ditinggalinya bersama suaminya yang kini sudah hidup dengan Anna. Dimana mereka sudah memiliki seorang anak. Dia selalu memiliki kerinduan untuk kembali ke rumah tersebut. Di sisi lain, dia juga selalu memperhatikan kehidupan pasangan suami istri yang juga tinggal di daerah tersebut tak jauh dari tempat tinggal mantan suaminya dan istri barunya tersebut yang dilihatnya sebagai pasangan yang ideal. Namun pada suatu hari, ia membaca dalam sebuah berita bahwa wanita yang selalu diperhatikannya tersebut menghilang secara misterius. Ia, yang merasa memiliki ikatan dengan wanita tersebut, Megan (Haley Bennett) berusaha untuk membantu mencari keberadaanya.

Cerita yang dibangun dalam film ini disampaikan dengan lambat, bahkan terlalu lambat menurut saya. Sehingga mengesankan bahwa film ini sangat membosankan. Namun untuk bisa menikmati film ini, tetap membutuhkan perhatian supaya kita tidak kehilangan arah dan patokan waktu dalam cerita tersebut, karena ketika proses perpindahan scene, tiba-tiba saja akan menuju ke waktu sebelumnya (meskipun tetap ditampilkan tulisan yang menerangkan hal itu). Mungkin bisa saya katakan, sebagai film thriller, film ini tidak memiliki intensitas yang pas. Mungkin hal ini juga untuk mengurangi kebingungan penonton karena banyaknya flashback yang dimunculkan, dan timeline yang kadang mundur beberapa kali. Akan tetapi ini juga cukup efektif dalam mempengaruhi pola pikir dan imajinasi penonton.

Ketika cerita sampai pada pokok persoalan dalam film ini, yaitu mencari siapa pelaku atas menghilangnya Megan, kita disuguhi dengan "jebakan-jebakan" yang menggiring kita untuk mencoba mengambil kesimpulan siapa pelaku sebenarnya. Satu momen pembalikan yang cukup penting adalah ketika diungkapkan fakta bahwa pemahaman Rachel terhadap semua hal yang terjadi dalam hidupnya selama ini adalah salah membuat kita sedikit mengerti akhir kisah cerita ini.

Performa Emily Blunt dalam film ini bisa dibilang cukup baik dalam memerankan karakternya. Seorang wanita alkoholik penuh masalah yang sangat kacau hidupnya. Penampilannya yang menjadi terlihat sangat kacau ini membuat kita sejenak lupa bahwa si Emily Blunt ini cantik 😀 Tapi sayang, totalitas-nya tidak serta merta membuat film ini cukup greget. Yah, mungkin pengaruh dari skenarionya juga. Saya sendiri belum membaca novelnya, jadi tidak tahu apakah film ini bisa menghidupkan novel yang disebut-sebut masuk daftar teratas The New York Times Fiction Best Sellers of 2015 ini atau tidak. Atau malah lebih bagusan novelnya daripada filmnya.

Film The Girl on the Train mungkin memang bukan sebuah film thriller yang memompa adrenalin. Atau bisa dikatakan, film ini gagal sebagai thriller. Yah, film ini akhirnya memang tidak masuk dalam salah satu film favorit saya, walaupun ending film ini salah satu yang saya sukai. Namun sebagai sebuah film misteri, film ini mampu membuat penonton terpancing memikirkan akhir kisah-nya. Dan mungkin dengan "siksaan" karena lambatnya cerita, penonton tetap duduk untuk sekedar ingin tahu bagaimana cerita ini berakhir. Jadi buat anda yang ingin menyaksikan film dengan intensitas yang lambat, cerita yang sederhana tetapi dibuat njlimet, misteri yang sedikit membuat imajinasi anda bekerja mungkin film ini cocok untuk anda.

6/10

Trailer film The Girl on the Train

Komentar dan Review film The Girl on the Train

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi